Fakta Ekonomi

Rosan: Indonesia Perlu Investasi Rp 13.000 Triliun untuk Mencapai Pertumbuhan 8 Persen

Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Perkasa Roeslani, menyatakan bahwa Indonesia memerlukan lebih dari Rp 13.000 triliun dalam lima tahun untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen...

N
Naufal Akbar
06 October 2026
27 pembaca
Foto: ANTARA FOTO/Bayu Pratama S
Foto: ANTARA FOTO/Bayu Pratama S

Rosan Perkasa Roeslani, Menteri Investasi dan Hilirisasi, mengungkapkan bahwa Indonesia membutuhkan investasi yang melebihi Rp 13.000 triliun dalam periode lima tahun mendatang untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen. Ia menekankan bahwa jumlah investasi tersebut bahkan lebih besar daripada total investasi yang berhasil diperoleh Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir.

Rosan menjelaskan bahwa pemerintah melihat target pertumbuhan dan kebutuhan investasi ini sebagai bagian dari strategi pembangunan yang terintegrasi. “Pada saat yang sama, Presiden Prabowo telah menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen. Untuk mencapainya, kita membutuhkan lebih dari Rp 13.000 triliun investasi dalam lima tahun, melampaui total investasi yang berhasil kita tarik dalam gabungan 10 tahun sebelumnya,” ujarnya saat acara Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 yang berlangsung di Jakarta.

Kebijakan dan Komitmen Pemerintah

Ia menambahkan bahwa kebutuhan investasi ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang menekankan pentingnya ketahanan energi, industrialisasi, dan hilirisasi dalam agenda pembangunan nasional. Pemerintah tetap berkomitmen untuk mencapai emisi nol bersih pada tahun 2060 atau lebih cepat, dengan dukungan dari berbagai mitra.

Di tengah perubahan cepat dalam perekonomian global, Rosan menyatakan bahwa hilirisasi menjadi salah satu strategi utama Indonesia untuk menarik investasi. Menurutnya, perubahan dalam ekonomi global mendorong para investor untuk mencari negara yang menawarkan stabilitas, ketahanan, dan prospek pertumbuhan jangka panjang.

Peluang Investasi dan Pengembangan Ekosistem

Rosan juga menjelaskan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis untuk memanfaatkan peluang investasi yang muncul akibat perubahan ekonomi global, berkat cadangan nikel, bauksit, tembaga, dan mineral strategis lainnya. Pemerintah berupaya agar sumber daya alam tersebut tidak hanya diekspor sebagai komoditas, tetapi juga dikembangkan menjadi industri bernilai tambah di dalam negeri.

Saat ini, Indonesia sedang membangun ekosistem terintegrasi yang menghubungkan sektor pertambangan, pengolahan, manufaktur, energi bersih, dan teknologi. Pengembangan ekosistem ini bertujuan untuk menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja yang lebih baik. “Melalui cara inilah nilai tambah dan lapangan kerja yang lebih baik diciptakan,” jelas Rosan.

Rosan juga mencatat bahwa realisasi investasi Indonesia menunjukkan perkembangan yang positif, dengan pencapaian lebih dari 120 miliar dolar AS pada tahun 2025, yang tumbuh 12,7 persen secara tahunan dan menciptakan lebih dari 2,7 juta lapangan kerja. Pada enam bulan pertama tahun 2026, realisasi investasi mencapai 61 miliar dolar AS, meningkat 7,2 persen secara tahunan dan menciptakan 1,45 juta lapangan kerja. Sektor hilirisasi menyumbang sekitar 30 persen dari total investasi Indonesia dan terus berkembang dengan dukungan dari investor domestik dan internasional.

Artikel Terkait