Monday, 04 May 2026
Fakta Ekonomi

Ruang Fiskal Semakin Tertekan di Tengah Ketegangan Perang Global

Peneliti INDEF, Riza Annisa Pujarama, mengungkapkan bahwa ruang fiskal Indonesia semakin menyempit akibat meningkatnya tekanan global, terutama terkait dengan perang antara Iran dan AS serta Israel.

U
Ulam Kirana
01 May 2026 12 pembaca
Ruang Fiskal Semakin Tertekan di Tengah Ketegangan Perang Global

Riza Annisa Pujarama, peneliti dari Center of Macroeconomics and Finance INDEF, mengemukakan bahwa ruang fiskal domestik semakin terbatas sebelum tekanan global meningkat akibat konflik antara Iran dan AS serta Israel. Ia menjelaskan bahwa kondisi ini disebabkan oleh peningkatan belanja yang tidak seimbang dengan perlambatan penerimaan pajak, yang mengakibatkan defisit semakin dalam dan nilai keseimbangan primer yang negatif.

Dalam diskusi bertema "2 Bulan Perang Israel-AS vs Iran: Waspada Dampak ke Perekonomian!" yang berlangsung di Jakarta pada Kamis (30/4/2026), Riza menyatakan bahwa belanja rutin pemerintah kini mendominasi lebih dari 40 persen dari total belanja, sementara belanja produktif seperti belanja modal hanya tersisa sekitar delapan hingga sembilan persen. Ia menekankan bahwa kondisi ini menunjukkan ketidakstabilan dalam pengelolaan anggaran.

Riza juga mencatat bahwa gejolak geopolitik berdampak pada ekonomi domestik, dengan sejumlah asumsi makro APBN yang meleset per April 2026. Nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp17.280–17.400 per dolar AS, harga minyak telah menembus 100 dolar AS per barel, dan kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) turut mempengaruhi. Ia mengingatkan bahwa dampak dari situasi ini tidak hanya berpengaruh pada beban subsidi energi, tetapi juga pada pembayaran bunga utang yang kini telah melebihi 20 persen dari total belanja pemerintah.

Riza menambahkan bahwa estimasi kebutuhan subsidi dapat meningkat hingga sekitar Rp219 triliun jika harga minyak mentah mencapai 100 dolar AS per barel. Dalam kondisi ini, ia menekankan pentingnya pemerintah untuk menjaga disiplin fiskal dan memperbaiki kualitas belanja. Reformasi subsidi energi menjadi sangat penting agar lebih tepat sasaran, disertai dengan perbaikan akurasi data penerima bantuan.

Lebih lanjut, Riza menyarankan perlunya penguatan perlindungan sosial, terutama bagi kelompok kelas menengah yang rentan terhadap kenaikan harga energi tetapi belum sepenuhnya mendapatkan bantuan sosial. Ia memperingatkan bahwa tanpa langkah-langkah yang tepat, risiko defisit yang melebihi batas tiga persen dapat mempengaruhi kepercayaan investor dan stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

// Artikel Terkait