Fakta Ekonomi

Rupiah Makin Dekat Rp 18.000, Kenaikan Imbal Hasil Obligasi Global Jadi Penyebabnya

Nilai tukar rupiah kembali mendekati angka Rp 18.000 per dolar AS, dipicu oleh peningkatan imbal hasil obligasi global. Ekonom menjelaskan bahwa hal ini memengaruhi keputusan investor terhadap aset di...

P
Padma Dewi
28 September 2026
32 pembaca
Foto: Republika/Prayogi
Foto: Republika/Prayogi

Nilai tukar rupiah kembali mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar AS pada awal pekan ini. Menurut analisis para ekonom, penurunan nilai Mata Uang Garuda ini disebabkan oleh meningkatnya imbal hasil obligasi global.

Berdasarkan data dari Bloomberg, pada hari Senin (28/9/2026) pukul 12.55 WIB, rupiah tercatat melemah sebesar 70 poin atau 0,39 persen menjadi Rp 17.973 per dolar AS. Dalam sepekan terakhir, rupiah menunjukkan tren pelemahan yang signifikan.

Penyebab Pelemahan Rupiah

Fakhrul Fulvian, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, menjelaskan bahwa sentimen utama yang mendorong pelemahan rupiah saat ini adalah kenaikan imbal hasil obligasi global, terutama pada tenor panjang. Ia menambahkan, "Menurut analisis saya, sentimen terkuat pelemahan rupiah saat ini justru datang dari kenaikan bond yield global."

Fakhrul juga mengungkapkan bahwa yield US treasury 10 tahun dalam beberapa pekan terakhir berkisar antara 4,9 hingga 5 persen, bahkan sempat menyentuh angka 5,03 persen. Kenaikan ini sangat penting karena ketika yield obligasi pemerintah AS meningkat, tingkat pengembalian minimum yang diharapkan oleh investor global juga ikut naik.

Dampak terhadap Aset Emerging Market

Ia menjelaskan bahwa investor kini menjadi lebih selektif dalam memilih aset di pasar negara berkembang, termasuk obligasi Indonesia. "Artinya, tekanan terhadap rupiah saat ini tidak bisa hanya dibaca sebagai persoalan domestic interest-rate differential," tuturnya.

Fakhrul juga menambahkan bahwa Indonesia tengah menghadapi kenaikan global term premium, yang merupakan imbal hasil tambahan yang diminta investor karena memilih obligasi jangka panjang dibandingkan jangka pendek. "Kalau investor bisa mendapatkan yield hampir 5 persen dari US treasury dengan risiko yang sangat rendah, aset Indonesia harus menawarkan kompensasi yang lebih besar, baik melalui yield yang lebih tinggi maupun ekspektasi nilai tukar yang lebih stabil," jelasnya.

Di pasar domestik, yield Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun Indonesia telah bergerak ke kisaran 7,08 persen pada 25 September 2026, meningkat dari sekitar 6,96 persen pada akhir Agustus 2026. "Jadi menurut saya, rupiah yang kembali mendekati Rp 18.000 bukan hanya persoalan dolar menguat. Ini merupakan bagian dari repricing terhadap harga modal global," tegasnya.

Artikel Terkait