Fakta Ekonomi

Rupiah Mengalami Penurunan Pasca Kenaikan Suku Bunga The Fed

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah setelah Bank Sentral Amerika Serikat menaikkan suku bunga acuan. Pada penutupan perdagangan, rupiah tercatat di level Rp 17.753 per dolar AS.

N
Naufal Akbar
17 September 2026
40 pembaca
Foto: Republika/Thoudy Badai
Foto: Republika/Thoudy Badai

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengalami penurunan, dipicu oleh keputusan The Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu, 16 September 2026. Pada akhir perdagangan, mata uang rupiah tercatat berada di level Rp 17.753 per dolar AS.

Menurut data dari Bloomberg, rupiah mengalami koreksi sebesar 57 poin atau 0,32 persen, turun menuju level Rp 17.753 per dolar AS pada penutupan perdagangan yang berlangsung pada Kamis, 17 September 2026. Sebelumnya, nilai tukar rupiah juga menunjukkan tekanan dengan berada di posisi Rp 17.696 per dolar AS.

Kenaikan Suku Bunga The Fed

Dalam konferensi pers FOMC, Ketua The Fed Kevin Warsh mengungkapkan kekhawatirannya terkait inflasi, dengan menyebutkan bahwa banyak kategori produk dan layanan menunjukkan kenaikan harga tahunan di atas 3 persen dalam periode enam hingga dua belas bulan terakhir. Warsh juga mengisyaratkan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa keputusan FOMC untuk menaikkan suku bunga acuan federal funds rate ke kisaran 3,75-4 persen merupakan langkah pertama Bank Sentral AS dalam meningkatkan suku bunga sejak Juli 2023.

Dampak Geopolitik dan Sentimen Pasar

Selain faktor suku bunga, dinamika konflik geopolitik di Timur Tengah juga berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah. Ibrahim menyebutkan bahwa pasar merespons positif adanya pembicaraan antara Amerika Serikat dan kelompok Houthi, yang dapat membantu meredakan kekhawatiran terkait gangguan pasokan di kawasan tersebut.

Dalam laporan yang diterima, disebutkan bahwa AS dan kelompok Houthi Yaman yang didukung oleh Iran mengadakan dialog pada akhir pekan lalu. Dalam pertemuan tersebut, Houthi menegaskan komitmen mereka terhadap gencatan senjata yang dijadwalkan pada tahun 2025 dan menyatakan tidak akan menyerang kapal-kapal AS atau Israel.

Presiden AS, Donald Trump, pada Rabu malam juga menuntut agar bank sentral AS memangkas suku bunga menjadi 1 persen atau lebih rendah, beberapa jam setelah pengumuman kenaikan suku bunga oleh The Fed. Hal ini menunjukkan adanya ketegangan yang terus berlanjut antara Gedung Putih dan The Fed yang bersifat independen.

Namun, meskipun ada harapan untuk kesepakatan damai, Washington dan Teheran masih berselisih mengenai Selat Hormuz, di mana aktivitas pelayaran melalui jalur vital tersebut masih jauh di bawah tingkat sebelum terjadinya konflik.

Artikel Terkait