Fakta Ekonomi

Rupiah Menguat di Tengah Ketegangan Geopolitik dan Kenaikan Suku Bunga

Nilai tukar rupiah mengalami penguatan pada pembukaan perdagangan Rabu, 23 September 2026, menjadi Rp17.844 per dolar AS, meskipun dolar AS tetap kuat di pasar global.

F
Fidzu Ardaf
23 September 2026
34 pembaca
Dolar AS [Antara]
Dolar AS [Antara]

Rupiah menunjukkan penguatan di level Rp17.844 per dolar AS pada pembukaan perdagangan hari Rabu, 23 September 2026. Kenaikan ini terjadi di tengah kondisi dolar AS yang tetap kokoh di pasar internasional, di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Data dari pasar spot exchange Bloomberg menunjukkan bahwa pada pukul 09.10 WIB, mata uang Garuda mengalami apresiasi sebesar 40 poin atau setara dengan 0,22 persen. Menariknya, penguatan ini terjadi saat dolar AS masih berada dalam posisi stabil, dengan indeks dolar AS menguat 0,04 persen di level 100,64, yang merupakan posisi terkuatnya dalam dua bulan terakhir.

Pengaruh Kebijakan Suku Bunga dan Ketegangan Geopolitik

Penguatan rupiah memberikan harapan baru setelah sebelumnya pada sesi perdagangan Selasa, 22 September 2026, nilai tukar rupiah ditutup melemah 37 poin atau 0,21 persen di level Rp17.884 per dolar AS. Kenaikan nilai tukar domestik ini terjadi saat pelaku pasar global mencermati dua faktor utama: proyeksi kebijakan pengetatan suku bunga oleh bank sentral dan eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Di pasar mata uang Eropa, tekanan terhadap dolar AS terus berlanjut. Nilai tukar euro tercatat di level US$1,1446, yang merupakan level terendah sejak akhir Juli lalu. Sementara itu, poundsterling Inggris diperdagangkan di level US$1,3337. Dominasi dolar AS di pasar valuta asing didorong oleh kebijakan kenaikan suku bunga dan retorika hawkish dari para pejabat bank sentral global.

Harga Minyak dan Harapan Diplomatik

Langkah pengetatan likuiditas diambil untuk mengatasi lonjakan inflasi yang dipicu oleh meningkatnya harga minyak dunia akibat konflik militer antara aliansi AS-Israel dan Iran. Para pelaku pasar kini mengantisipasi langkah pengetatan lebih lanjut, dengan beberapa pejabat Federal Reserve (The Fed) memberikan sinyal mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan jika data inflasi AS tidak menunjukkan penurunan yang signifikan.

Harga minyak mentah acuan Brent saat ini diperdagangkan pada level US$99,22 per barel, dengan lonjakan harga ini mencapai 37 persen sejak konflik dimulai pada akhir Februari lalu. Namun, ada harapan diplomatik setelah forum Sidang Majelis Umum PBB, yang diharapkan dapat membuka jalan bagi resolusi damai di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengingatkan akan menggunakan kekuatan penuh terhadap Iran jika tidak ada kesepakatan damai, tetapi juga mengisyaratkan potensi kesepakatan diplomatik.

Di sisi lain, para investor juga menunggu pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping, yang dijadwalkan untuk membahas stabilitas di tengah ketegangan hubungan diplomatik dan perang dagang yang mempengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi global.

Di Asia, nilai tukar yen Jepang mengalami tekanan dan berada di level 157,55 per dolar AS. Para trader valuta asing bersikap waspada terhadap kemungkinan intervensi dari otoritas Jepang, menyusul langkah Bank of Japan (BOJ) yang menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun terakhir.

suara.com Sumber: suara.com

Artikel Terkait