Fakta Ekonomi

Rupiah Menguat, IHSG Berpotensi Melemah di Tengah Sentimen Bursa Asia

Nilai tukar rupiah menguat pada pembukaan perdagangan Rabu, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan melemah mengikuti tren bursa Asia.

S
Stevani Nila Wardana
07 October 2026
27 pembaca
Foto: Republika/Prayogi
Foto: Republika/Prayogi

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan hari Rabu mengalami penguatan sebesar 33 poin atau 0,18 persen, menjadi Rp 17.866 per dolar AS. Hal ini terjadi setelah penutupan sebelumnya yang tercatat di Rp 17.899 per dolar AS. Analis dari Doo Financial, Lukman Leong, menjelaskan bahwa penguatan ini sejalan dengan sikap investor yang cenderung wait and see, menunggu rilis data cadangan devisa Indonesia serta risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan malam ini.

Sentimen Investor Menunggu Data Ekonomi

Lukman menyatakan, “Rupiah diperkirakan dibuka datar terhadap dolar AS dengan potensi menguat terbatas. Investor cenderung wait and see menantikan data cadev Indonesia siang ini dan risalah pertemuan (minutes) FOMC malam ini.” Di Jakarta, pada Rabu (7/10/2026), para investor tampak menantikan hasil rapat Federal Reserve bulan September untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai keputusan kebijakan suku bunga dan penilaian risiko inflasi.

Proyeksi Cadangan Devisa dan Indeks Dolar

Berdasarkan data dari CME FedWatch yang dilaporkan oleh Xinhua, pelaku pasar memperkirakan ada peluang sekitar 24 persen untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed bulan Oktober, menurun dari 71 persen pada minggu sebelumnya. Diperkirakan bahwa data cadangan devisa Indonesia akan mengalami penurunan dari 146,5 miliar dolar AS pada akhir Agustus 2026 menjadi 144 miliar dolar AS. “Indeks dolar AS sendiri terpantau terkoreksi oleh rebound pada euro,” tambah Lukman. Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, rupiah diprediksi akan berada di kisaran Rp 17.850 hingga Rp 17.950 per dolar AS.

Artikel Terkait