Rupiah dibuka dengan penguatan tipis di level Rp18.038 per dolar Amerika Serikat (AS) pada hari Selasa, 20 Oktober 2026. Kenaikan nilai tukar ini sejalan dengan pergerakan positif dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang juga menunjukkan tren rebound. Data dari Bloomberg menunjukkan bahwa rupiah mengalami penguatan sebesar 8 poin atau turun 0,04 persen dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di Rp18.046.
Sentimen Positif dari Pertemuan BEI dan MSCI
Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa penguatan rupiah ini dipicu oleh sentimen domestik yang positif, terutama hasil dari pertemuan antara anggota Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Morgan Stanley Capital International (MSCI). "Langkah pemerintah yang diantaranya mengeluarkan saham MSC dari IHSG diharapkan bisa memberikan dukungan pada rupiah," ujarnya.
Tekanan Eksternal yang Mengancam
Meskipun demikian, rupiah diperkirakan masih akan menghadapi tekanan dari sentimen negatif di pasar ekuitas, terutama akibat keluarnya dana asing. Selain itu, ketegangan yang terjadi di Timur Tengah berpotensi melemahkan nilai tukar rupiah. "Faktor eksternal seperti eskalasi di Timur Tengah dan perang Ukraina-Rusia yang menyebabkan harga minyak mentah terus naik akan kembali memberikan tekanan pada rupiah. Range rupiah diperkirakan berada di kisaran Rp18.000 hingga Rp18.100," jelasnya.
Di sisi lain, mayoritas mata uang di Asia menunjukkan penguatan di pasar keuangan. Won Korea Selatan menjadi mata uang yang paling kuat dengan kenaikan 0,32 persen, diikuti oleh peso Filipina yang naik 0,05 persen, dan yen Jepang yang menguat 0,04 persen. Dolar Singapura dan ringgit Malaysia juga mengalami penguatan masing-masing sebesar 0,03 persen dan 0,02 persen. Sementara itu, dolar Taiwan mengalami penurunan dengan anjlok 0,23 persen.