Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan hari Senin mengalami pelemahan sebesar 45 poin atau 0,25 persen, menjadi Rp 17.948 per dolar AS. Hal ini terjadi jika dibandingkan dengan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp 17.903 per dolar AS.
Penyebab Pelemahan Rupiah
Analis dari Doo Financial, Lukman Leong, menjelaskan bahwa penurunan nilai rupiah ini dipengaruhi oleh data penjualan barang tahan lama di AS yang menunjukkan hasil lebih kuat dari yang diperkirakan. Ia menyatakan, "Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah kembali meningkatnya imbal hasil obligasi AS, harga minyak mentah dunia dan prospek kenaikan suku bunga The Fed menyusul data ekonomi AS (penjualan barang tahan lama) yang lebih kuat, serta penolakan proposal Iran oleh AS."
Data Ekonomi dan Imbal Hasil Obligasi
Data terbaru menunjukkan bahwa penjualan barang tahan lama di AS tidak mengalami perubahan, tetap di angka 0 persen, namun lebih baik dibandingkan perkiraan yang menunjukkan penurunan sebesar 0,4 persen. Pesanan baru untuk barang tahan lama buatan AS pada bulan Agustus tercatat stabil di angka 338,6 miliar dolar AS. Selain itu, laporan dari Anadolu menyebutkan bahwa Presiden AS, Donald Trump, menolak proposal terbaru dari Iran yang diajukan dalam negosiasi tidak langsung di New York minggu ini.
Dalam konteks ini, imbal hasil obligasi AS untuk tenor 10 tahun berada di angka 5,2 persen, sedangkan untuk tenor 30 tahun mencapai 5,52 persen. Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran 94,15 dolar AS per barel, sedangkan Brent mencapai 103,2 dolar AS per barel. Para investor juga memperhatikan kemungkinan kebijakan Federal Reserve yang lebih ketat. Menurut CME FedWatch, pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 70 persen untuk kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin pada pertemuan The Fed bulan Oktober, meningkat dari 50 persen di awal pekan.
Dengan mempertimbangkan semua faktor tersebut, Lukman memperkirakan bahwa nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp 17.900 hingga Rp 18.000 per dolar AS.