Fakta Ekonomi

Rupiah Tertekan, Dolar AS Menyentuh Rp18.046 Menjelang Rapat BI

Rupiah mengalami pelemahan sebesar 0,11% menjadi Rp18.046 per dolar AS pada hari Senin (19/10), dipicu oleh arus keluar modal asing dan ketegangan geopolitik. Investor kini menantikan keputusan suku b...

F
Fidzu Ardaf
19 October 2026
14 pembaca
Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Selasa (29/9/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
Petugas salah satu tempat penukaran mata uang asing menunjukkan uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Selasa (29/9/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]

Rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dengan nilai tukar mencapai Rp18.046 per dolar AS pada hari Senin, 19 Oktober. Pelemahan ini sebesar 0,11% atau 19 poin dari penutupan sebelumnya di Rp18.027 per dolar AS, disebabkan oleh arus keluar modal asing serta meningkatnya ketegangan geopolitik.

Menurut data dari Bloomberg, situasi ini membuat mata uang Garuda tetap berada dalam tekanan. Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi oleh sentimen risk-off, di mana investor cenderung menghindari aset berisiko. Arus keluar dana asing dari pasar domestik turut memperburuk kondisi ini. "Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS, masih tertekan oleh sentimen risk off dan outflow dana asing dari pasar domestik. Dolar AS sendiri terpantau rebound oleh eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan perang Ukraina-Rusia," ungkap Lukman.

Menanti Keputusan Suku Bunga BI

Tekanan terhadap rupiah diperkirakan akan berlanjut jika investor asing terus menarik dananya dari Indonesia. Dalam situasi ketidakpastian global, penguatan dolar AS juga membuat mata uang negara berkembang semakin rentan. Pelaku pasar domestik kini menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan pada Rabu, 21 Oktober. Keputusan mengenai suku bunga menjadi salah satu faktor penting yang dicermati oleh investor dalam menentukan arah pergerakan rupiah.

Lukman menambahkan bahwa tanpa adanya katalis ekonomi global yang signifikan pada pekan ini, pergerakan rupiah akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan arus modal asing serta keputusan dari BI. "Tidak ada data maupun agenda ekonomi penting dari luar negeri pekan ini, sedangkan dari domestik investor menantikan RDG BI hari Rabu. Rupiah diperkirakan masih akan tertekan apabila outflow masih berkelanjutan," jelasnya.

Pergerakan Mata Uang di Kawasan Asia

Di kawasan Asia, tekanan terhadap mata uang juga meluas. Baht Thailand mengalami pelemahan terdalam sebesar 0,52%, diikuti oleh dolar Taiwan yang turun 0,33% dan peso Filipina yang melemah 0,15%. Yen Jepang juga turun 0,08%, dolar Singapura melemah 0,04%, sedangkan ringgit Malaysia terkoreksi 0,01% terhadap dolar AS. Namun, tidak semua mata uang Asia mengalami penurunan; won Korea Selatan menguat 0,19%, yuan China naik 0,06%, rupee India menguat 0,02%, dan dolar Hong Kong naik tipis 0,003%.

suara.com Sumber: suara.com

Artikel Terkait