Fakta Ekonomi

Rupiah Tertekan Menuju Rp 18.000 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS semakin melemah, mendekati Rp 17.900 per dolar AS, dipengaruhi oleh penurunan Indeks Keyakinan Konsumen pada bulan September 2026.

P
Panca Akbar Saputra
09 October 2026
27 pembaca
Foto: ANTARA/Muhammad Adimaja
Foto: ANTARA/Muhammad Adimaja

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami penurunan, mendekati angka Rp 17.900-an per dolar AS. Pelemahan ini dipicu oleh turunnya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada bulan September 2026, yang menunjukkan berkurangnya kepercayaan masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini. Berdasarkan informasi dari Bloomberg, rupiah melemah sebanyak 28 poin atau 0,16 persen, mencapai level Rp 17.915 per dolar AS pada penutupan perdagangan hari Kamis, 8 Oktober 2026. Sebelumnya, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp 17.887 per dolar AS.

Penurunan Indeks Keyakinan Konsumen

Menurut Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat mata uang dan komoditas, IKK Indonesia tetap berada dalam zona optimis, meskipun ada sedikit penurunan pada bulan September. IKK tercatat 118,1, menurun dibandingkan dengan angka bulan Agustus yang mencapai 118,5. Angka di atas 100 menunjukkan bahwa konsumen optimis terhadap perekonomian saat ini hingga enam bulan ke depan. Namun, penurunan ini mencerminkan pandangan yang lebih suram terhadap kondisi ekonomi saat ini.

Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) tercatat di level 107,5, lebih rendah dibandingkan dengan bulan Agustus yang mencapai 109,4. Hal ini menunjukkan bahwa konsumen merasa prospek ekonomi saat ini lebih tidak menguntungkan dibandingkan bulan sebelumnya. Meskipun demikian, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) mengalami peningkatan dari 127,6 pada bulan Agustus menjadi 128,7 pada bulan September, yang berarti konsumen melihat prospek ekonomi enam bulan ke depan lebih positif.

Defisit APBN dan Dampaknya

Pemerintah melalui Kementerian Keuangan juga melaporkan bahwa realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Agustus 2026 menunjukkan defisit sebesar Rp 240,1 triliun, atau 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Pendapatan negara tercatat baru mencapai 65,2 persen dari total target APBN sebesar Rp 3.153 triliun, sementara belanja negara tercatat Rp 2.295,7 triliun atau 59,7 persen dari target belanja yang mencapai Rp 3.842 triliun.

Ibrahim menekankan bahwa angka-angka ini harus dipahami bersama dengan pos penerimaan yang masih berpotensi berubah, terutama terkait restitusi. Jika hanya melihat persentase realisasi, posisi APBN dapat terlihat lebih baik daripada kenyataannya. Kualitas penerimaan yang mendasari angka tersebut harus diperhatikan, mengingat adanya restitusi pajak yang belum dibayarkan yang dapat memengaruhi penerimaan bersih negara.

Ia juga menambahkan, saat restitusi dicairkan pada kuartal IV 2026, terutama bersamaan dengan meningkatnya pengembalian Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari eksportir dan penyelesaian kewajiban pajak badan, penerimaan bersih mungkin akan turun dan defisit bisa melebar tanpa adanya tambahan belanja baru. Namun, tidak semua restitusi yang belum dicairkan akan otomatis menambah defisit, karena besarnya dampak tergantung pada jumlah restitusi yang masih menunggu pembayaran dan waktu pencairan tersebut.

Artikel Terkait