Fakta Ekonomi

Rupiah Terus Melemah Menjelang Rapat Dewan Gubernur BI

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami penurunan, mencapai level Rp 17.884 per dolar AS pada Selasa (22/9/2026), menjelang Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang akan dilaksanakan pada Rabu...

W
Wira Yudha
22 September 2026
28 pembaca
Foto: Republika/Prayogi
Foto: Republika/Prayogi

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali mengalami pelemahan, menembus angka Rp 17.800-an per dolar AS pada hari Selasa, 22 September 2026. Penurunan ini terjadi menjelang Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 23 September 2026.

Menurut data dari Bloomberg, rupiah mengalami penurunan sebesar 37 poin atau setara dengan 0,21 persen, sehingga ditutup pada level Rp 17.884 per dolar AS pada akhir perdagangan Selasa. Sebelumnya, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp 17.847 per dolar AS.

Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah, baik dari sisi eksternal maupun internal. Salah satu sentimen internal yang memengaruhi adalah dampak dari pergantian Menteri Keuangan RI. “Keputusan Presiden Prabowo Subianto pekan lalu untuk mengganti Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan Suahasil Nazara turut memengaruhi sentimen mata uang, sementara kenaikan harga minyak menambah tekanan bagi negara-negara pengimpor energi,” ungkap Ibrahim.

Selain itu, para pembuat kebijakan juga sedang mendiskusikan revisi Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2003, yang dapat memungkinkan peningkatan defisit anggaran untuk mendanai program sosial dan kesejahteraan. Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan bahwa pembahasan mengenai batas atas defisit sebesar 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) yang diatur dalam UU harus dilakukan secara konstruktif, dan batas rasio utang sebesar 60 persen dari PDB tetap menjadi pedoman dalam pengelolaan APBN.

Intervensi Bank Indonesia

Meskipun nilai tukar rupiah menunjukkan tren melemah, Bank Indonesia (BI) berkomitmen untuk melakukan intervensi di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya. BI akan terus mengelola struktur suku bunga di pasar uang dengan memperkuat strategi operasi moneter pro-market serta meningkatkan efektivitas stabilisasi nilai tukar dan kecukupan likuiditas melalui transaksi underlying untuk swap lindung nilai.

Intervensi akan dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot, dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Posisi cadangan devisa saat ini tercatat sebesar 146,5 miliar dolar AS, yang dianggap cukup untuk melakukan intervensi di pasar.

Di sisi lain, Ibrahim juga mencatat bahwa ada beberapa sentimen eksternal yang turut memengaruhi pergerakan rupiah, salah satunya adalah ekspektasi kebijakan dari Bank Sentral AS, The Federal Reserve. “Para pelaku pasar saat ini mengantisipasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh The Fed dan telah memperhitungkan kemungkinan adanya kenaikan lagi pada bulan Oktober,” tambahnya.

Proyeksi terbaru menunjukkan bahwa setidaknya akan ada satu kali lagi kenaikan suku bunga tahun ini. Kebijakan yang lebih ketat ini memberikan dukungan bagi dolar AS dan menjaga imbal hasil obligasi treasury tetap tinggi, sehingga memberikan tekanan tambahan pada rupiah.

Pasar juga menunggu data ekonomi AS yang akan dirilis, termasuk Purchasing Managers' Index (PMI) S&P Global dan survei sentimen konsumen University of Michigan (UoM) untuk bulan September. “Pasar akan memantau serangkaian pernyataan dari pejabat The Fed untuk mendapatkan petunjuk terbaru mengenai arah kebijakan di masa mendatang,” jelas Ibrahim.

Secara terpisah, Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik dari UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, berpendapat bahwa arah kebijakan suku bunga The Fed terus menjadi perhatian bagi pergerakan rupiah.

Artikel Terkait