Fakta Nasional

Satu dari Sepuluh Pasien Mengalami Cedera, Keamanan Obat Perlu Diperhatikan

Tantangan dalam perawatan pasien penyakit tidak menular masih menjadi fokus utama, terutama terkait dengan pengawasan keamanan obat. Para ahli menekankan pentingnya pemantauan berkelanjutan selama ter...

F
Fidzu Ardaf
19 September 2026
30 pembaca
ilustrasi obat-obatan (pexels.com/ Polina Tankilevitch)
ilustrasi obat-obatan (pexels.com/ Polina Tankilevitch)

Masalah cedera yang terjadi selama perawatan medis tetap menjadi tantangan signifikan dalam penanganan pasien dengan penyakit tidak menular (PTM). Evie Yulin, Ketua International Pharmaceutical Manufacturers Group (IPMG), menekankan bahwa pengawasan terhadap keamanan obat harus dilakukan secara terus-menerus selama pasien menjalani terapi, mengingat pengobatan untuk PTM sering kali berlangsung dalam jangka waktu yang lama.

“Pasien dengan penyakit tidak menular sering kali menjalani terapi dalam jangka panjang. Karena itu, pengawasan keamanan obat tidak berhenti ketika produk memperoleh izin edar, tetapi harus terus dilakukan selama obat digunakan oleh pasien,” ungkap Evie pada Sabtu (19/9/2026).

Pentingnya Sistem Farmakovigilans

Sistem farmakovigilans berfungsi sebagai alat utama untuk memantau, mendeteksi, mengevaluasi, dan melaporkan reaksi obat yang tidak diinginkan setelah produk dikonsumsi oleh masyarakat. Perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam IPMG terus melaksanakan langkah ini sebagai bentuk kepatuhan terhadap standar yang ketat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

“Melalui sistem farmakovigilans, perusahaan anggota IPMG berupaya memastikan setiap informasi terkait keamanan obat dapat terdeteksi, dievaluasi, dan ditindaklanjuti secara cepat demi keselamatan pasien,” tambah Evie.

Peran Tenaga Kesehatan dan Pasien

Ani Rahardjo, Direktur Eksekutif IPMG, menjelaskan bahwa efektivitas pengawasan tidak dapat hanya bergantung pada industri medis dan regulator. Kepekaan tenaga kesehatan serta partisipasi aktif pasien dalam melaporkan dugaan efek samping obat menjadi faktor kunci yang sangat penting di lapangan.

“Keselamatan pasien merupakan tanggung jawab bersama. Selain industri dan regulator, partisipasi tenaga kesehatan maupun pasien dalam melaporkan dugaan efek samping obat memiliki peran penting untuk memperkuat sistem pengawasan keamanan obat di Indonesia,” jelas Ani.

Penguatan rantai farmakovigilans meliputi penerapan prosedur internal, evaluasi laporan secara berkala, mitigasi risiko, komunikasi terkait keamanan, serta edukasi intensif bagi tenaga kesehatan dan pasien. Pelaporan efek samping dapat dilakukan dengan mudah melalui kanal resmi BPOM atau kontak farmakovigilans yang dimiliki oleh pemegang izin edar.

“Semakin cepat laporan diterima, semakin cepat pula langkah evaluasi dan mitigasi dapat dilakukan,” tutupnya.

Artikel Terkait