Fakta Nasional

Sentimen Publik Terhadap Pemerintahan Prabowo-Gibran: Analisis Drone Emprit

Analisis terbaru menunjukkan bahwa media sosial lebih banyak didominasi oleh sentimen negatif terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran, berlawanan dengan media online yang cenderung positif. Berbagai isu...

F
Fidzu Ardaf
23 October 2026
21 pembaca
Presiden Prabowo Subianto menghadiri rapat koordinasi nasional Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) 2026 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Kamis (22/10/2026). (Youtube.com/Sekretariat Presiden)
Presiden Prabowo Subianto menghadiri rapat koordinasi nasional Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) 2026 di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Kamis (22/10/2026). (Youtube.com/Sekretariat Presiden)

Analisis yang dilakukan oleh Drone Emprit menunjukkan bahwa percakapan di media sosial mengenai pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka selama dua tahun terakhir didominasi oleh sentimen negatif. Penelitian ini memanfaatkan data dari berbagai platform seperti X, Facebook, Instagram, YouTube, TikTok, dan Threads dari tanggal 1 Januari hingga 20 Oktober 2026 untuk menganalisis tren, sentimen, emosi, serta isu-isu utama yang berkaitan dengan pemerintahan Prabowo-Gibran.

Dominasi Sentimen Negatif di Media Sosial

Hasil analisis menunjukkan bahwa media online lebih banyak memuat sentimen positif sebesar 48,5 persen, sementara media sosial didominasi oleh sentimen negatif yang mencapai 57,6 persen. Isu-isu seperti ekonomi, program Makan Bergizi Gratis (MBG), kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta kebebasan sipil menjadi pendorong utama dinamika opini publik. Publik memberikan perhatian kritis terhadap sektor-sektor ekonomi dan program MBG, di mana klaim pemerintah mengenai capaian investasi dan stabilitas makro justru memunculkan skeptisisme di tengah kondisi pelemahan rupiah dan biaya hidup yang tinggi.

Kritik Terhadap Kinerja Pemerintah

Program MBG juga mendapatkan kritik karena kendala dalam tata kelola dan kualitas makanan. Di ranah politik, isu kabinet yang dianggap gemuk, tindakan represif aparat, serta korupsi di sektor publik memicu eskalasi protes sipil. Drone Emprit mencatat bahwa isu-isu seperti transparansi kualifikasi pejabat, dugaan praktik nepotisme, dan retorika provokatif dari pejabat publik semakin memperburuk situasi dan memicu kemarahan di kalangan netizen. Selain itu, penanganan krisis ekologis, seperti karhutla, juga dianggap lambat oleh publik.

“Mahasiswa dan elemen masyarakat sipil terus menyuarakan desakan evaluasi kinerja kabinet, jaminan keamanan dalam kebebasan berekspresi, serta kecaman tajam atas tindakan represif aparat dalam penanganan demonstrasi yang menimbulkan korban,” ungkap Drone Emprit dalam laporannya. Meskipun sebagian publik menghargai penindakan hukum dan pengembalian aset, kekecewaan dan kemarahan tetap mengemuka akibat munculnya kasus korupsi di sektor publik.

“Publik berharap pemerintah memperkuat independensi penegak hukum serta menjamin partisipasi publik yang bermakna dalam pembentukan setiap regulasi nasional,” tambahnya. Drone Emprit menjelaskan bahwa dominasi narasi kritis di media sosial mencerminkan adanya kesenjangan antara klaim pemerintah dan realitas yang dialami masyarakat. Evaluasi terhadap MBG dan tata kelola kabinet menjadi titik uji utama kepercayaan publik terhadap pemerintah.

Platform media sosial X menjadi saluran utama untuk percakapan ini, dengan kontribusi engagement terbesar mencapai 59 persen, diikuti oleh media online dan Instagram. Lonjakan diskusi terjadi pada momen-momen aksi demonstrasi mahasiswa. Puncak pemberitaan media terjadi saat peringatan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, yang diwarnai dengan aksi mahasiswa dan laporan kinerja pemerintah. Di platform X, puncak percakapan dipicu oleh viralnya kritik-kritik dari mahasiswa. Secara keseluruhan, sentimen negatif (51,7 persen) lebih mendominasi dibandingkan sentimen positif (24,1 persen).

“Kritik berpusat pada krisis ekonomi dan MBG, sedangkan apresiasi datang dari hilirisasi dan bantuan sosial,” tulisnya. Dalam kesempatan terpisah, Presiden Prabowo Subianto menyatakan kebanggaannya menjadi Presiden Indonesia dan memimpin pemerintahan selama dua tahun terakhir. Ia menilai bahwa pemerintahannya telah mencapai sejumlah hasil yang patut dibanggakan.

Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat membuka Sidang Kabinet Paripurna untuk evaluasi dua tahun pemerintahan Kabinet Merah Putih di Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Rabu (21/10/2026). Prabowo juga mengapresiasi kinerja Kabinet Merah Putih atas hasil kerja selama dua tahun terakhir. “Saya sekarang bangga menjadi pemimpinmu, saya bangga menjadi presidenmu, saya bangga telah memimpin pemerintah ini karena dalam 2 tahun, dalam 2 tahun kita telah bekerja dengan hasil yang nyata,” kata Prabowo di Jakarta.

Artikel Terkait