Fakta Ekonomi

Sokoguru Policy Series: Forum Kolaborasi untuk Memperkuat Ketahanan Energi Nasional

Sokoguru Policy Series menjadi platform baru untuk kolaborasi antara berbagai pihak dalam mendukung eksplorasi minyak dan gas demi ketahanan energi Indonesia. Diskusi ini diadakan di Jakarta dan melib...

F
Fidzu Ardaf
16 October 2026
15 pembaca
Sokoguru Policy Forum bertema “Darurat Eksplorasi, Mutlaknya Kolaborasi Mendukung Ketahanan Energi Nasional” di Jakarta, Rabu (14/10). (Dok: Pertamina)
Sokoguru Policy Forum bertema “Darurat Eksplorasi, Mutlaknya Kolaborasi Mendukung Ketahanan Energi Nasional” di Jakarta, Rabu (14/10). (Dok: Pertamina)

Penemuan cadangan baru minyak dan gas bumi menjadi langkah penting untuk memastikan pasokan energi nasional, terutama di tengah meningkatnya permintaan energi. Percepatan dalam eksplorasi memerlukan investasi yang berkualitas, kepastian regulasi, dukungan teknologi, serta kolaborasi antar sektor. Hal ini menjadi fokus dalam Sokoguru Policy Forum dengan tema “Darurat Eksplorasi, Mutlaknya Kolaborasi Mendukung Ketahanan Energi Nasional” yang berlangsung di Jakarta pada Rabu, 14 Oktober.

Setelah sukses dalam penyelenggaraan Sokoguru Policy Forum, diskusi kebijakan publik kini melanjutkan ke tahap baru melalui Sokoguru Policy Series. Kegiatan ini bertujuan menjadi wadah kolaborasi yang melibatkan para regulator, praktisi, akademisi, dan pengamat energi di Indonesia. Dengan fokus pada eksplorasi migas, Sokoguru Policy Series diharapkan dapat menjadi ruang untuk munculnya ide-ide inovatif, kebijakan yang progresif, serta terobosan kolaboratif yang berdampak positif pada kesinambungan cadangan dan produksi, mengurangi kerentanan pasokan energi, serta menekan defisit perdagangan migas dan beban fiskal pemerintah.

Inovasi dalam Eksplorasi Migas

Raden Adjeng Sondaryani, Komisaris Independen PT Pertamina (Persero), menyatakan bahwa untuk meningkatkan volume cadangan migas, diperlukan terobosan seperti eksplorasi di area frontier atau deep water, serta penemuan potensi cadangan migas raksasa yang baru. “Diharapkan dengan temuan ini dapat mendukung swasembada energi dan meningkatkan nilai tambah melalui hilirisasi di dalam negeri yang sejalan dengan program Asta Cita Bapak Presiden RI,” ungkap Adjeng.

Agung Wicaksono, Direktur Transformasi dan Kebelanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero), juga menyampaikan pentingnya penguatan tata kelola dan investasi dalam menjawab tantangan yang dihadapi sektor hulu migas Indonesia, di mana produksi sumur mengalami penurunan sementara realisasi pengeboran sumur eksplorasi masih di bawah target. “Perlu kolaborasi untuk akselerasi kegiatan eksplorasi antara regulator, auditor negara, praktisi hukum, pelaku usaha, dan akademisi,” tegas Agung.

Diskusi Panel dan Tantangan Sektor Energi

Forum ini juga menyajikan diskusi panel yang dihadiri oleh sejumlah pakar dan pemangku kepentingan di sektor energi nasional, termasuk Koordinator Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional Satya Widya Yudha, Deputi Eksplorasi Pengembangan dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas Rikki Rahmat Firdaus, VP Supply Chain Management and Procurement Searah Muara Bakau Teddy Wahyu Rahmanto, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro, serta Kepala SKK Migas periode 2014 – 2018 Amien Sunaryadi.

Dalam diskusi tersebut, para panelis membahas kondisi terkini minyak dan gas, tantangan dalam eksplorasi, serta langkah-langkah yang perlu diambil untuk mempercepat kegiatan eksplorasi di Indonesia. Satya Widya Yudha menekankan bahwa posisi ASEAN sebagai pengekspor bahan bakar fosil semakin melemah, sementara kebutuhan akan impor minyak terus meningkat. “KEN memberikan arah kebijakan guna terciptanya kemandirian dan ketahanan energi nasional, serta pemenuhan komitmen dekarbonisasi,” jelas Satya.

Ia juga menambahkan bahwa situasi ini menunjukkan perlunya peningkatan eksplorasi, penemuan cadangan baru, dan optimalisasi produksi minyak bumi. "Selain itu, diperlukan urgensi percepatan eksplorasi, pengembangan lapangan gas baru, dan penguatan infrastruktur untuk menjaga ketahanan pasokan gas nasional,” tegasnya.

Rikki Rahmat Firdaus menyoroti banyaknya potensi area cekungan minyak dan gas yang belum dieksplorasi di Indonesia, dengan 65 dari 128 cekungan yang belum diteliti. “Dengan itu, SKK Migas meluncurkan kampanye basin to barrel untuk mengakselerasi kegiatan eksplorasi pada cekungan-cekungan dengan memberikan berbagai kemudahan,” ucap Rikki. Di sisi lain, Teddy Wahyu Rahmanto, sebagai perwakilan pelaku usaha migas, memberikan pandangannya mengenai tantangan dalam kegiatan eksplorasi di Indonesia. “Karena tanpa eksplorasi yang kuat, tidak akan ada produksi yang sustainable,” tuturnya.

suara.com Sumber: suara.com

Artikel Terkait