Teheran - Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, sebelumnya mengklaim bahwa Mojtaba Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, telah meninggal. Menanggapi klaim tersebut, Khamenei mengeluarkan peringatan tegas kepada AS.
Menurut informasi yang dihimpun, Mojtaba Khamenei tidak muncul di hadapan publik selama beberapa bulan terakhir. AS percaya bahwa Khamenei mengalami luka serius dan cacat fisik akibat serangan yang dilakukan oleh AS dan Israel. Pada saat serangan udara tersebut, Khamenei dilaporkan berada di kediaman yang sama dengan ayahnya, namun ia selamat karena berada di ruangan yang terpisah.
Spekulasi Keberadaan Khamenei
Sejak serangan itu, Khamenei belum pernah tampil di depan umum. Ia juga tidak hadir dalam pemakaman ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang menambah spekulasi mengenai keberadaannya. Pernyataan resmi Khamenei baru dirilis setelah upacara pemakaman ayahnya selesai pada 9 Juli 2026.
Dalam surat yang ditandatangani pada 10 Juli, Khamenei menyatakan, "Pembalasan ini adalah kehendak bangsa kita dan harus dilaksanakan." Pernyataan ini memicu reaksi dari Trump yang menyatakan bahwa Khamenei kemungkinan besar sudah meninggal.
Klaim Trump dan Tanggapan Khamenei
Trump dalam sebuah wawancara dengan Fox News mengklaim, "Mereka (Iran) tidak memiliki Angkatan Laut. Mereka tidak memiliki Angkatan Udara. Semuanya sudah lenyap." Ia juga menyebutkan bahwa para pemimpin Iran telah tewas, termasuk mendiang Ayatollah Ali Khamenei, yang ia sebut salah dengan nama 'Khomeini'. Trump mengklaim bahwa "Putranya, 90 persen telah tiada," merujuk pada Mojtaba Khamenei.
Dalam pernyataannya, Mojtaba Khamenei memperingatkan AS bahwa mereka akan menghadapi 'pelajaran yang tak terlupakan' dari Teheran dan sekutunya. Ia menuduh AS telah melanggar nota kesepahaman antara kedua negara. Dalam pernyataan yang dibacakan di televisi pemerintah Iran, Khamenei menyatakan, "Pelanggaran berulang terhadap perjanjian oleh Setan Besar menunjukkan bahwa tanda tangan Presiden Amerika sekarang sama sekali tidak berharga dan tidak sah."
Ia menambahkan bahwa musuh Amerika yang berusaha memicu perang harus menyadari bahwa bangsa Iran dan Front Perlawanan memiliki pelajaran yang tak terlupakan untuk mereka. Dalam beberapa hari terakhir, AS dan Iran terlibat dalam serangan yang saling menargetkan, di mana AS menyerang infrastruktur sipil di Iran, sementara Teheran membalas dengan menyerang infrastruktur di Kuwait, serta pangkalan AS di Yordania yang mengakibatkan tewasnya dua tentara AS.
Baca juga: AS Serang Iran Lagi Usai 2 Prajuritnya Tewas Kena Rudal