Fakta Ekonomi

Tantangan Keuangan Lansia: Ketergantungan pada Keluarga Masih Tinggi

Kesiapan finansial bagi lansia di Indonesia masih menjadi masalah serius, dengan mayoritas bergantung pada penghasilan anggota keluarga yang bekerja. Penelitian menunjukkan bahwa kurang dari 1 persen...

N
Narayana Putra
18 September 2026
36 pembaca
Foto: www.freepik.com
Foto: www.freepik.com

Jumlah penduduk lansia yang terus meningkat menimbulkan tantangan dalam hal kesiapan finansial menjelang masa pensiun. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh DBS Foundation mengungkapkan bahwa 82,96 persen rumah tangga lansia masih mengandalkan pendapatan dari anggota keluarga yang aktif bekerja, sementara kurang dari 1 persen yang memiliki tabungan atau investasi sebagai sumber penghidupan.

Ketergantungan pada Generasi Produktif

Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian besar rumah tangga lansia masih bergantung pada generasi yang berada dalam usia produktif untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka. Dengan perubahan demografi yang mengarah pada masyarakat yang semakin menua, tantangan ini diperkirakan akan semakin besar. Penelitian berjudul "Indonesia Menuju Populasi Menua: Seberapa Siapkah Kita?" mencatat bahwa proporsi penduduk lansia di Indonesia akan mencapai 12 persen pada tahun 2025 dan diperkirakan akan melebihi 20 persen pada tahun 2045.

Di sisi lain, meskipun akses masyarakat terhadap layanan keuangan relatif tinggi, dengan inklusi keuangan mencapai 93,5-95,1 persen pada kelompok usia 18-50 tahun dan literasi keuangan 72,1-74,1 persen, kepemilikan tabungan atau dana pensiun masih sangat rendah, hanya 5,37 persen. Selain itu, pemahaman masyarakat mengenai pentingnya dana pensiun hanya mencapai 27,79 persen.

Perluasan Skema Dana Pensiun

Kesenjangan ini menunjukkan bahwa akses terhadap layanan keuangan tidak otomatis menjamin masyarakat memiliki persiapan yang memadai untuk pensiun. DBS Foundation menekankan perlunya perluasan skema dana pensiun yang lebih fleksibel, terutama bagi pekerja di sektor informal dan wiraswasta, untuk meningkatkan cakupan program pensiun.

Mona Monika, Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia, menyatakan bahwa isu masyarakat yang menua berdampak pada semua kelompok usia. “Ageing society merupakan isu penting bagi kami karena memiliki implikasi bagi seluruh generasi. Di DBS Foundation, kami percaya persiapan menghadapi populasi menua perlu dipersiapkan sejak usia produktif,” ujarnya.

Menurut Mona, persiapan menghadapi populasi menua mencakup berbagai aspek, mulai dari pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, literasi dan inklusi keuangan, hingga persiapan pensiun. Tantangan dalam persiapan pensiun juga terkait dengan kondisi ketenagakerjaan lansia. Penelitian menunjukkan bahwa 55,32 persen lansia masih bekerja, dan 84,75 persen di antaranya berada di sektor informal, di mana 59,42 persen tenaga kerja nasional juga bekerja di sektor ini.

Kelompok pekerja ini umumnya menghadapi pendapatan yang rendah dan tidak menentu serta akses yang terbatas terhadap tunjangan ketenagakerjaan dan skema pensiun formal. Selain itu, perubahan struktur keluarga juga memengaruhi kemampuan rumah tangga untuk mendukung anggota keluarga yang lanjut usia. Tingkat fertilitas total yang menurun, dari 3,11 anak per perempuan pada awal 1990-an menjadi 2,13 pada tahun 2024, diproyeksikan akan mencapai 1,97 pada tahun 2045, membuat jumlah anggota keluarga usia produktif yang dapat berbagi tanggung jawab finansial semakin terbatas.

Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK, Woro Srihastuti Sulistyaningrum, menekankan pentingnya persiapan menghadapi usia lanjut dilakukan sejak setiap tahapan kehidupan. “Kita perlu memastikan bahwa setiap tahapan kehidupan mendapat perhatian yang tepat, mulai dari masa awal kehidupan, pendidikan, usia produktif, hingga memasuki usia lanjut,” ungkapnya.

DBS Foundation menilai bahwa persiapan masa pensiun tidak bisa hanya mengandalkan kebiasaan menabung individu. Kesiapan tersebut harus didukung oleh pendidikan, pekerjaan yang layak, kemampuan finansial, perluasan cakupan program pensiun, dan perlindungan sosial yang berkelanjutan. Dengan proyeksi jumlah lansia yang terus meningkat, kemampuan masyarakat untuk membangun sumber pendapatan di masa tua akan semakin menentukan tingkat ketergantungan antargenerasi. Perluasan akses terhadap instrumen pensiun, terutama bagi pekerja di luar sektor formal, menjadi salah satu tantangan dalam menghadapi perubahan struktur penduduk yang terjadi.

Artikel Terkait