Fakta Ekonomi

Transformasi Eceng Gondok: Maryati Ciptakan Kerajinan Bernilai dari Alam Sekitar

Maryati berhasil mengubah eceng gondok, yang selama ini dianggap sebagai gulma, menjadi kerajinan bernilai tinggi. Melalui dukungan dari PNM, usahanya kini telah menjangkau pasar yang lebih luas.

F
Fidzu Ardaf
13 October 2026
19 pembaca
Maryati dan beberapa hasil kerajinan dari eceng gondok. (Dok: PNM)
Maryati dan beberapa hasil kerajinan dari eceng gondok. (Dok: PNM)

Di sekitar kediaman Maryati, eceng gondok tumbuh subur di aliran sungai, namun sering kali dipandang sebelah mata sebagai gulma. Berbeda dengan pandangan umum, Maryati melihat potensi dari tanaman tersebut dan mengolahnya menjadi berbagai kerajinan anyaman, seperti tas, keranjang, dan produk lainnya yang memiliki nilai jual. Dengan memanfaatkan bahan yang mudah ditemukan di sekitarnya, Maryati secara bertahap mengembangkan usahanya dalam kerajinan eceng gondok.

Dukungan dari PNM untuk Pengembangan Usaha

Kreativitas menjadi modal utama bagi Maryati untuk mengubah tanaman yang sering dianggap tidak bernilai menjadi produk yang bermanfaat dan memiliki peluang pasar. Perkembangan usahanya semakin pesat setelah bergabung sebagai nasabah PT Permodalan Nasional Madani (Persero). Melalui program PNM Mekaar, Maryati mendapatkan pendampingan yang membantunya dalam meningkatkan kualitas produk serta memperluas akses pasar.

Saat ini, kerajinan eceng gondok yang dihasilkan oleh Maryati telah dipasarkan ke berbagai daerah, termasuk Yogyakarta dan Bali. Produk yang awalnya berasal dari tanaman di sungai tersebut kini telah menjangkau konsumen di luar daerah asalnya, yaitu Tegalwaru, Bekasi. Bagi Maryati, pencapaian ini membuktikan bahwa peluang usaha dapat ditemukan dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Kisah Inspiratif Maryati dalam Berwirausaha

“Awalnya eceng gondok ini saya lihat tumbuh di sekitar rumah. Dari situ saya berpikir bagaimana tanaman ini bisa dimanfaatkan dan menghasilkan. Alhamdulillah, sekarang kerajinan yang saya buat sudah bisa dipasarkan ke luar daerah. Saya ingin terus mengembangkan usaha ini supaya produknya semakin dikenal,” ungkap Maryati.

Kisah Maryati menggambarkan bahwa memulai usaha tidak selalu harus dari sesuatu yang besar. Dengan melihat potensi yang ada di sekitar dari sudut pandang yang berbeda, hal-hal sederhana dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi. Pendekatan ini sejalan dengan semangat pemberdayaan yang terus dilakukan oleh PNM. Selain memberikan akses pembiayaan, PNM juga menyediakan pendampingan agar nasabah dapat meningkatkan kapasitas usaha, kualitas produk, serta memperluas peluang pasar.

“Ibu Maryati tidak perlu mencari bahan baku jauh-jauh untuk memulai usahanya. Ia melihat peluang dari apa yang ada di sekelilingnya, lalu mengubah eceng gondok yang selama ini dianggap gulma menjadi produk yang bernilai dan memiliki pasar. Bagi kami, cerita seperti ini menunjukkan bahwa pemberdayaan bukan hanya tentang memberikan akses, tetapi juga tentang membuka ruang agar potensi yang sudah dimiliki nasabah dapat tumbuh menjadi kekuatan ekonomi,” jelas Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (Persero), Kindaris.

Bagi Maryati, perjalanan ini membawa eceng gondok jauh dari tempat asalnya. Dari tanaman yang dulunya hanya tumbuh di sungai, kini lahir tas, keranjang, dan berbagai karya anyaman yang telah menjangkau Yogyakarta hingga Bali. Dari sesuatu yang tumbuh liar di sungai, Maryati menemukan peluang untuk berkembang bersama usahanya.

suara.com Sumber: suara.com

Artikel Terkait