Pemerintah Indonesia tengah mempersiapkan transisi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) dari bensin ke campuran etanol, dengan target mencapai E50 secara bertahap. Kebijakan ini diambil untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bensin yang mencapai puluhan juta kiloliter setiap tahunnya. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan rencana ini di Balikpapan pada 23 Oktober 2026.
Langkah Strategis untuk Ketahanan Energi
Bahlil menjelaskan bahwa keberhasilan pencampuran biodiesel 50 persen atau B50 pada solar akan dijadikan acuan untuk penerapan pada bensin. "Kesuksesan yang kita lakukan di diesel, solar, yang dimulai dari 2016–2017, nah ini kita akan mentransfer ini ke bensin. Nah, ini kita akan bikin etanol. Tahap pertama E10 sampai dengan E50 dalam kurun waktu tertentu," ungkapnya.
Dia juga menekankan bahwa produksi minyak mentah dalam negeri belum mampu memenuhi total kebutuhan bensin nasional yang berkisar antara 39 hingga 40 juta kiloliter per tahun. Untuk mendukung pencampuran bioetanol ini, pemerintah akan fokus pada kesiapan industri hulu serta ketersediaan bahan baku lokal.
Pemanfaatan Sumber Daya Lokal
Bahlil menambahkan, "Tapi kita harus mempersiapkan dulu industrinya. Etanol ini bahan bakunya dari mana? Dari singkong, jagung, dan tebu. Nah, ini sekaligus sebagai penetrasi pertumbuhan kawasan ekonomi baru di daerah." Kebijakan ini bertujuan untuk memanfaatkan campuran energi antara sumber fosil dan nabati guna memperkuat ketahanan energi nasional.
Selain itu, konsep serupa juga akan diterapkan dalam sektor ketenagalistrikan dengan memanfaatkan batu bara berkalori rendah yang dilengkapi dengan teknologi penangkap karbon. "Ini supaya apa? Energi kita murah, tapi juga bersih," tutup Bahlil.