Fakta Nasional

Trump Meluapkan Kemarahan Setelah Kembali Gagal Raih Nobel Perdamaian

Presiden AS, Donald Trump, mengekspresikan kekecewaannya setelah tidak berhasil mendapatkan Nobel Perdamaian, menyebut penghargaan tersebut telah kehilangan kredibilitas. Dia juga mengkritik keputusan...

E
Eko Prasetyo
10 October 2026
24 pembaca
Presiden AS Donald Trump (dok. REUTERS/Nathan Howard)
Presiden AS Donald Trump (dok. REUTERS/Nathan Howard)

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menunjukkan kemarahan setelah kembali gagal meraih Nobel Perdamaian yang sangat diinginkannya. Dalam pidatonya di kampanye Partai Republik di Syracuse, New York, Trump menyatakan bahwa penghargaan tersebut telah "kehilangan kredibilitasnya".

Kritikan Terhadap Navi Pillay

Trump membahas tentang Navi Pillay, seorang hakim terkenal asal Afrika Selatan yang baru saja dinyatakan sebagai penerima Nobel Perdamaian 2026. Pillay dikenal memiliki rekam jejak yang luar biasa dalam bidang hukum internasional, terutama terkait dengan pengadilan kasus kejahatan perang dan genosida. Belakangan ini, ia memimpin sebuah komisi PBB yang menyelidiki genosida di Jalur Gaza.

Dalam pidatonya, Trump menyebut Pillay sebagai "sosok misterius" dan mengklaim bahwa dirinya "tidak pernah mendengar" tentang hakim tersebut. "Saya tidak pernah mendengar tentang orang itu. Tidak ada seorang pun yang mengenalnya," ungkap Trump di hadapan para pendukungnya.

Kecewa dan Klaim Penyelesaian Konflik

Trump berpendapat bahwa penghargaan Nobel Perdamaian seharusnya diberikan kepada "Amerika Serikat, yang diwakili oleh saya sebagai presiden Anda". Sejak menjabat, Trump sering menyampaikan kekecewaannya atas kegagalan meraih penghargaan tersebut. Dia menyebut keputusan Komite Nobel untuk memberikan penghargaan kepada Pillay sebagai tindakan yang memalukan dan mencoreng nama Norwegia, tempat markas Komite Nobel berada.

"Ini adalah noda yang tak terhapuskan bagi negara Norwegia dan orang-orang yang mengambil keputusan yang begitu tercela dan memalukan itu," tegasnya. Trump juga menyoroti beberapa konflik yang menurutnya telah berhasil dia bantu selesaikan, seperti mencegah perang antara Korea Utara dan Korea Selatan, serta antara Jepang dan Korea Utara, meskipun tanpa menyertakan bukti konkret untuk mendukung klaim tersebut.

Dalam pidatonya, Trump menambahkan, "Penghargaan Nobel Perdamaian telah kehilangan kredibilitas selamanya, akibat ulah segelintir penganut ideologi radikal yang antidemokrasi dan sejatinya merupakan musuh peradaban." Dia menegaskan bahwa hal ini tidak akan dilupakan oleh Norwegia.

Kemarahan Trump muncul hanya beberapa jam setelah Komite Nobel mengumumkan Pillay sebagai penerima Nobel Perdamaian tahun ini. Jorgen Watne Frydnes, Ketua Komite Nobel Norwegia, menyatakan bahwa Pillay telah berkontribusi besar dalam memastikan bahwa kejahatan perang dan kemanusiaan diadili. Dewan juri Nobel juga menekankan komitmen Pillay terhadap prinsip-prinsip hukum universal dan keteguhan moral yang konsisten sepanjang kariernya.

Pillay, yang dikenal sebagai tokoh hukum internasional, pernah menjadi hakim di Mahkamah Pidana Internasional dan kini menjabat di Mahkamah Internasional. Dalam pidatonya setelah menerima Nobel Perdamaian, ia bercanda bahwa mungkin akan membagikan penghargaan tersebut kepada Trump, jika tepuk tangan dari hadirin lebih meriah lagi.

Tahun lalu, Nobel Perdamaian diberikan kepada Maria Corina Machado, seorang tokoh oposisi Venezuela, yang kemudian menyerahkan medali emas Nobel kepada Trump.

Artikel Terkait