Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, membuat lelucon tentang nama 'Mohammad' ketika ia mengkritik kepresidenan Iran. Hal ini terjadi dalam sebuah pidato yang disampaikan di hadapan para pendukungnya selama kampanye pemilu sela di Bandara Regional Dalton, Georgia.
Dalam pidatonya, Trump mengatakan, "Kalian tahu, jika ragu tentang nama seseorang dari Timur Tengah, panggil saja 'Mohammad.' Peluangnya benar sekitar 65%. 'Halo, Mohammad.' Saya sudah melakukannya bertahun-tahun. Tidak pernah salah," yang dilaporkan oleh Reuters pada Sabtu, 17 Oktober 2026.
Komentar Kontroversial di Tengah Kampanye
Pernyataan tersebut disampaikan saat Trump membahas isu Iran dalam rapat tersebut, di mana ia juga berpura-pura bertanya kepada beberapa orang yang bernama Mohammad apakah mereka ingin menjabat sebagai presiden. Namun, leluconnya tidak mendapatkan tanggapan dari para pendukungnya.
Trump menambahkan, "Iran adalah satu-satunya negara di mana tidak ada orang yang ingin menjadi presiden." Komentar ini kembali memicu kritik dari berbagai kalangan, terutama dari pembela hak asasi manusia dan kelompok advokasi Muslim, yang menilai retorikanya sering kali mengejek umat Islam, imigran, serta kelompok etnis minoritas.
Retorika yang Meningkat Selama Pemilu Sela
Selama musim kampanye pemilu sela, Trump semakin memperkuat retorika yang dianggap ofensif, terutama terhadap warga Amerika keturunan Somalia dan Muslim. Ia juga menargetkan calon Senat dari Partai Demokrat, Abdul El-Sayed, serta Anggota DPR Ilhan Omar, seorang politisi Demokrat asal Minnesota yang merupakan pengungsi Somalia.
Menurut laporan tahunan dari Dewan Hubungan Islam Amerika (CAIR) yang dirilis awal tahun ini, meningkatnya Islamofobia di AS sebagian besar dipicu oleh tindakan tegas Trump terhadap imigrasi dan responsnya terhadap protes pro-Palestina selama masa jabatannya yang kedua.