Tuesday, 05 May 2026
Fakta Nasional

Trump Menyatakan AS Memiliki Dua Opsi Setelah Proposal Damai Iran yang Tidak Memuaskan

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengungkapkan ketidakpuasan terhadap proposal damai terbaru dari Iran dan menyebutkan dua opsi yang tersedia bagi AS dalam menghadapi situasi tersebut.

A
Agustinus Jaya Wiratama
02 May 2026 10 pembaca
Trump Menyatakan AS Memiliki Dua Opsi Setelah Proposal Damai Iran yang Tidak Memuaskan

Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap proposal damai terbaru yang diajukan oleh Iran. Ia menyatakan bahwa saat ini AS memiliki dua opsi untuk mengakhiri konflik dengan Iran.

Dalam pernyataannya, Trump menjelaskan bahwa pilihan pertama adalah melakukan serangan besar-besaran untuk menghancurkan Iran secara permanen. Sementara itu, pilihan kedua adalah menyelesaikan konflik melalui jalur negosiasi. "Ada beberapa pilihan," ujarnya.

Trump menekankan, "Apakah kita ingin langsung membombardir mereka habis-habisan dan menghancurkan mereka selamanya? Atau apakah kita ingin mencoba mencapai kesepakatan? Itulah pilihannya." Ia menyatakan bahwa AS lebih memilih untuk mengutamakan opsi negosiasi untuk mengakhiri perang.

“Secara kemanusiaan, saya lebih memilih untuk tidak melakukannya,” tambah Trump. Ia melanjutkan, "Tetapi itulah pilihannya. Apakah kita ingin menyerang mereka secara besar-besaran dan menghancurkan mereka atau apakah kita ingin melakukan sesuatu?"

Negosiasi perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat sempat terhenti, namun Iran telah mengirimkan proposal terbaru untuk melanjutkan pembicaraan. "Republik Islam Iran menyampaikan teks proposal negosiasi terbarunya kepada Pakistan, sebagai mediator dalam pembicaraan dengan Amerika Serikat, pada Kamis malam," demikian bunyi keterangan dari kantor berita Republik Iran, IRNA.

Pada hari Jumat, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melakukan panggilan telepon dengan rekan-rekannya dari Arab Saudi, Qatar, Turki, Irak, dan Azerbaijan. Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa isi telepon tersebut membahas "inisiatif terbaru Republik Islam untuk mengakhiri perang."

// Artikel Terkait