Fakta Nasional

Usulan Pemanfaatan Perahu Botol Bekas sebagai Sarana Edukasi Lingkungan di Festival CiLung

Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike, mengusulkan agar perahu dari barang bekas yang ditampilkan di Festival CiLung 2026 tetap digunakan sebagai media edukasi tentang pengelolaan sampah.

F
Fidzu Ardaf
18 October 2026
14 pembaca
DPRD DKI Usulkan Perahu CiLung Jadi Sarana Edukasi Sampah (Dok. Pemprov DKI)
DPRD DKI Usulkan Perahu CiLung Jadi Sarana Edukasi Sampah (Dok. Pemprov DKI)

Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike, mengajukan agar perahu yang terbuat dari barang bekas dalam Festival Perahu Cinta Lingkungan (CiLung) 2026 tetap dipertahankan di sungai atau waduk sebagai sarana edukasi lingkungan. Yuke berpendapat bahwa pemanfaatan yang berkelanjutan, termasuk kesempatan bagi masyarakat untuk melihat, berfoto, atau bahkan menaiki perahu dengan memperhatikan keselamatan, dapat memperluas pesan mengenai pengelolaan sampah.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menyatakan bahwa perahu yang dibuat oleh Pasukan Orange menunjukkan bahwa sampah yang dipilah dapat diubah menjadi barang yang bermanfaat, sekaligus mendorong masyarakat untuk memilah dan mengolah sampah dari sumbernya. Yuke juga mengapresiasi kreativitas petugas yang berhasil mengolah material bekas dari penanganan sampah di badan air menjadi karya yang menarik.

Pentingnya Edukasi Lingkungan Berkelanjutan

Yuke berharap agar perahu-perahu yang kreatif dari Festival CiLung tidak hanya menjadi pajangan selama acara berlangsung. Ia menekankan bahwa karya-karya tersebut memiliki potensi untuk dimanfaatkan di sungai atau waduk sebagai media edukasi lingkungan. “Kalau memang bisa dimanfaatkan di kali, sungai, ataupun waduk yang ada, lalu warga bisa melihat, berfoto, atau mungkin naik selama beberapa bulan, itu akan lebih bagus daripada nanti dihancurkan. Kita berharap pemanfaatannya berkelanjutan sehingga pesan pengelolaan sampah dapat menjangkau lebih banyak orang,” ujarnya.

Apabila memungkinkan, pengunjung juga dapat menaiki perahu tersebut selama beberapa bulan dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan dan kesiapan pengelola di lokasi. Yuke menekankan bahwa kreativitas dalam mengolah barang bekas perlu diimbangi dengan perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengelola sampah sehari-hari. Kebiasaan ini sangat penting untuk mencegah pencemaran sungai dan waduk.

Peran Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah

Dengan demikian, upaya menjaga kebersihan badan air tidak hanya bergantung pada petugas kebersihan, tetapi juga melibatkan partisipasi masyarakat. “Semakin banyak sampah yang dapat dimanfaatkan dan diolah sejak dari sumbernya, semakin sedikit sampah tersisa yang harus ditangani di tempat pemrosesan akhir,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala DLH DKI Jakarta, Dudi Gardesi, menjelaskan bahwa perahu-perahu yang ditampilkan dalam Festival CiLung merupakan hasil kreativitas dari petugas yang sehari-hari menangani sampah di badan air. “Melalui Festival CiLung, kami ingin menunjukkan bahwa sampah yang dipilah dan dikelola dengan baik masih dapat dimanfaatkan menjadi karya kreatif,” kata Dudi.

Dia juga berharap agar keterlibatan masyarakat dalam memilah dan mengolah sampah dapat membantu pekerjaan petugas dalam menjaga kebersihan sungai dan waduk di Jakarta. Melalui Festival CiLung 2026, Pemprov DKI Jakarta berupaya mendorong agar kebiasaan memilah dan mengolah sampah dari sumbernya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, sehingga lingkungan tetap bersih dan sampah tidak berakhir di badan air.

Artikel Terkait