Fakta Ekonomi

Wamenko Dradjad: Investor Tidak Perlu Panik Terkait Pengumuman MSCI

Wakil Menteri Koordinator Perekonomian Dradjad Wibowo mengingatkan investor agar tidak terburu-buru mengambil keputusan menyusul pengumuman MSCI tentang kemungkinan reklasifikasi pasar saham Indonesia...

S
Stevani Nila Wardana
16 October 2026
17 pembaca
Foto: Antara/Imamatul Silfia
Foto: Antara/Imamatul Silfia

Wakil Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Dradjad Wibowo, mengimbau para investor untuk tetap tenang menyikapi pengumuman dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mempertimbangkan untuk mereklasifikasi pasar saham Indonesia dari kategori pasar berkembang menjadi pasar tersendiri. Dradjad menyatakan bahwa MSCI bukanlah satu-satunya lembaga yang memiliki otoritas dalam menggambarkan kondisi pasar modal suatu negara.

“MSCI itu punya reputasi tinggi, iya, kita juga perlu memperhatikan apa yang mereka sampaikan, tapi satu yang ingin saya sampaikan, mereka tidak selalu benar,” ungkap Dradjad di kantor Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Jakarta, pada Jumat (16/10/2026).

Contoh Negatif dari MSCI

Dradjad memberikan contoh mengenai perusahaan multinasional asal Jerman, Deutsche Börse Group, yang mengelola pasar keuangan dan bursa efek, serta menyediakan infrastruktur perdagangan untuk saham, komoditas, dan derivatif. Ia mencatat bahwa rekomendasi saham dari MSCI justru menunjukkan kinerja negatif ketika indeks pasar saham utama Jerman, Deutscher Aktienindex (DAX), mengalami kenaikan.

“Artinya tidak semua yang dilakukan MSCI itu menguntungkan bagi investor. (Itu) karena investor di Jermannya juga berani melakukan hitung-hitungan sendiri melihat potensi yang sebenarnya dari saham-saham yang ada di bursa (efek) Jerman,” jelas Dradjad.

Analisis Kinerja MSCI dan Harapan untuk Investor Indonesia

Dalam beberapa simulasi yang dilakukan, Dradjad menambahkan bahwa return yang dihasilkan dari MSCI kalah dibandingkan dengan return dari sumber lain. Ia menjelaskan bahwa hal ini disebabkan oleh dominasi saham-saham dari Amerika Serikat yang mencapai 70 persen dalam MSCI, sedangkan 30 persen sisanya didominasi oleh saham teknologi. “Jadi ada terlalu, bobot Amerika terlalu besar di situ,” lanjutnya.

Dradjad berharap agar investor di Indonesia juga dapat bersikap kritis terhadap MSCI. Ia menekankan bahwa fundamental ekonomi Indonesia menunjukkan tren positif, tanpa adanya penurunan daya beli masyarakat. Ia memprediksi bahwa pendapatan perusahaan-perusahaan konsumer akan meningkat hampir enam persen pada kuartal III 2026, yang menjadi indikasi adanya peningkatan konsumsi domestik.

“Betul, apa yang dilakukan MSCI ini kita memang harus melakukan reformasi di pasar modal kita, harus kita perbaiki. Tapi tolong teman-teman investor hitung sendiri. Anda lebih tahu mengenai pasar modal kita,” tambah Dradjad.

Menurut Dradjad, sikap kritis ini akan membantu menjaga iklim pasar modal Indonesia agar tetap kondusif. Ia juga mengatakan bahwa hal ini dapat mencegah terjadinya kepanikan massal ketika ada pengumuman dari lembaga pemeringkatan. “Kalau kita sudah bisa melakukan hitungan sendiri. InsyaAllah kita nggak akan gampang panik ketika ada pengumuman-pengumuman seperti ini. Apa yang terjadi sekarang ini karena investor domestik terlalu gampang panik karena mungkin belum PD (percaya diri) untuk berhitung sendiri,” tutup Dradjad.

Artikel Terkait