Fakta Kesehatan

7 Hal Penting Mengenai Pemeriksaan EEG yang Perlu Diketahui

F
Fidzu Ardaf
17 September 2026
134 pembaca
ilustrasi elektroensefalografi (EEG) (magnific.com/DC Studio)
ilustrasi elektroensefalografi (EEG) (magnific.com/DC Studio)

Pemeriksaan EEG berfungsi untuk merekam aktivitas listrik otak dengan menggunakan elektroda yang ditempatkan di kulit kepala, dan biasanya tidak menimbulkan rasa sakit. Terdapat berbagai jenis pemeriksaan EEG yang disesuaikan dengan kebutuhan, mulai dari EEG rutin hingga pemantauan saat tidur atau selama beberapa hari. Hasil dari pemeriksaan EEG perlu dianalisis bersamaan dengan riwayat gejala pasien, karena rekaman yang normal tidak serta merta menyingkirkan kemungkinan epilepsi.

Ketika petugas kesehatan memasang kabel-kabel kecil di kepala pasien, prosedur EEG mungkin terlihat rumit. Namun, pada umumnya, pasien hanya perlu duduk atau berbaring dengan nyaman. Elektroda yang terpasang berfungsi untuk menangkap aktivitas listrik otak dan mengirimkan data rekaman ke komputer. Prosedur ini biasanya tidak menimbulkan rasa sakit.

Fungsi dan Prosedur EEG

EEG sering digunakan ketika dokter mencurigai adanya epilepsi, tetapi penggunaannya tidak terbatas pada itu saja. Berikut adalah beberapa hal penting yang perlu diketahui sebelum menjalani pemeriksaan EEG:

  1. EEG menunjukkan aktivitas listrik otak.
  2. Paling sering digunakan untuk membantu menilai epilepsi.
  3. Selama pemeriksaan, pasien mungkin diminta untuk bernapas dalam-dalam.
  4. Ada pemeriksaan saat tidur dan rekaman yang dapat dibawa pulang.
  5. Hasil normal belum menyingkirkan kemungkinan epilepsi.
  6. Persiapannya cukup sederhana.
  7. Risikonya kecil dan hasilnya perlu dianalisis oleh dokter.

Pemeriksaan EEG bertujuan untuk merekam aktivitas listrik otak, dan hasil rekaman tersebut disebut elektroensefalogram. Sinyal yang direkam akan ditampilkan sebagai pola gelombang yang berubah-ubah, tergantung pada keadaan seseorang, apakah terjaga, mengantuk, atau tidur. Berbeda dengan pemindaian otak, EEG memberikan informasi mengenai aktivitas listrik otak, bukan gambaran strukturnya.

Pemantauan dan Persiapan Sebelum EEG

Dokter biasanya akan meminta EEG setelah seseorang mengalami kejang atau kejadian yang dicurigai sebagai kejang. Rekaman ini membantu dalam mencari pola aktivitas otak yang dapat mendukung diagnosis epilepsi. Selain itu, EEG juga dapat digunakan untuk mengevaluasi kondisi tertentu, seperti peradangan otak dan gangguan tidur. Pada pasien dalam kondisi koma atau cedera otak, pemeriksaan ini dapat digunakan untuk memantau aktivitas otak sesuai kebutuhan klinis.

Petugas kesehatan akan mengukur kepala pasien, membersihkan area pemasangan, dan menempelkan elektroda menggunakan pasta khusus. Pasien diminta untuk rileks dan kadang-kadang membuka atau menutup mata. Kunjungan untuk pemeriksaan EEG rutin biasanya memakan waktu sekitar satu jam, termasuk waktu untuk pemasangan alat dan perekaman. Selama pemeriksaan, petugas juga dapat meminta pasien untuk bernapas dalam-dalam selama beberapa menit atau melihat cahaya berkedip, yang bertujuan untuk menilai respons aktivitas otak.

Aktivitas yang mendukung diagnosis epilepsi tidak selalu muncul selama rekaman singkat. Oleh karena itu, hasil EEG yang normal tidak cukup untuk menyatakan bahwa seseorang tidak memiliki epilepsi. Dokter mungkin akan mempertimbangkan pemeriksaan ulang atau pemantauan lebih lama berdasarkan gejala yang dialami pasien. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Neurology pada tahun 2016 menganalisis EEG dari 1.803 pasien. Dari 426 pasien yang menunjukkan pola listrik terkait epilepsi di antara kejang, 81 orang (sekitar 19 persen) baru menunjukkan pola tersebut setelah 30 menit pertama. Temuan ini menjelaskan mengapa memperpanjang waktu rekaman dapat memberikan informasi tambahan.

Sebelum menjalani pemeriksaan, disarankan untuk datang dengan rambut yang bersih dan kering, tanpa menggunakan gel, wax, atau produk penata rambut lainnya. Untuk pemeriksaan EEG rutin, pasien biasanya diperbolehkan untuk makan seperti biasa dan tetap menggunakan obat yang telah diresepkan. Penting untuk tidak menghentikan penggunaan obat tanpa konsultasi dan menyampaikan daftar obat atau suplemen yang sedang digunakan kepada petugas kesehatan.

Jika diminta untuk mengurangi waktu tidur, ikuti instruksi yang diberikan dan minta bantuan orang lain untuk mengantar pulang, karena tidak disarankan untuk mengemudi setelah menjalani EEG dengan pembatasan tidur. Bernapas dalam-dalam dapat menyebabkan pusing sementara, dan pada sebagian orang dengan epilepsi, rangsangan cahaya atau perubahan pernapasan bisa memicu kejang, meskipun hal ini jarang terjadi. Petugas terlatih akan memantau proses pemeriksaan dan siap menangani keadaan darurat jika diperlukan. Iritasi ringan di lokasi pemasangan elektroda juga mungkin terjadi.

Setelah pemeriksaan EEG rutin, pasien biasanya dapat melanjutkan aktivitas seperti biasa. Hasil dari pemeriksaan tidak selalu langsung tersedia, karena rekaman harus dianalisis oleh dokter yang berkompeten. Dokter kemudian akan menjelaskan makna hasil tersebut dalam konteks riwayat keluhan pasien dan menentukan apakah diperlukan pemeriksaan lanjutan.

Artikel Terkait