Fakta Kesehatan

Anak Sekolah Rentan Terhadap Diabetes Tipe 2, Apa Penyebabnya?

Diabetes tipe 2 kini tidak hanya menyerang orang dewasa, tetapi juga anak-anak dan remaja, terutama saat memasuki masa pubertas. Berbagai faktor, termasuk genetik dan gaya hidup, berkontribusi terhada...

F
Fidzu Ardaf
26 September 2026
35 pembaca
ilustrasi anak-anak sekolah (pexels.com/ROMAN ODINTSOV)
ilustrasi anak-anak sekolah (pexels.com/ROMAN ODINTSOV)

Diabetes tipe 2 pada anak disebabkan oleh kombinasi faktor genetik, perubahan fisik, dan lingkungan. Obesitas meningkatkan kemungkinan terjadinya diabetes, tetapi tidak semua anak yang mengidap diabetes tipe 2 mengalami obesitas. Faktor-faktor seperti pubertas, riwayat diabetes dalam keluarga, diabetes gestasional pada ibu, kurangnya aktivitas fisik, pola makan yang tidak sehat, serta gangguan tidur juga berperan dalam kondisi ini.

Diabetes tipe 2 biasanya dikenal sebagai penyakit orang dewasa, namun anak-anak dan remaja juga dapat mengalaminya, terutama saat memasuki pubertas. Diagnosis diabetes tipe 2 pada usia sekolah sering kali mengejutkan bagi keluarga, tetapi kondisi ini tidak hanya disebabkan oleh satu jenis makanan atau kebiasaan tertentu. Diabetes tipe 2 terjadi ketika tubuh tidak dapat menggunakan insulin dengan efektif. Insulin adalah hormon yang berfungsi untuk membantu gula dalam darah masuk ke dalam sel untuk digunakan sebagai energi. Ketika terjadi resistensi insulin, tubuh harus memproduksi lebih banyak insulin. Seiring waktu, pankreas tidak dapat memenuhi kebutuhan ini, sehingga kadar gula darah meningkat.

Faktor Penyebab Diabetes Tipe 2

Beberapa faktor yang dapat memicu diabetes tipe 2 meliputi:

  1. Kelebihan lemak tubuh yang dapat menyebabkan resistensi insulin.
  2. Masa pubertas yang dapat menjadi pemicu.
  3. Faktor genetik dan riwayat diabetes dalam keluarga.
  4. Pola makan yang buruk, kurangnya aktivitas fisik, dan gangguan tidur.
  5. Diagnosis tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan bentuk tubuh.

Obesitas dan kelebihan berat badan merupakan faktor risiko yang signifikan, karena dapat membuat sel tubuh lebih sulit merespons insulin. Lemak yang menumpuk di sekitar organ dalam juga berhubungan dengan gangguan metabolisme. Namun, berat badan bukanlah satu-satunya penentu. Pedoman dari International Society for Pediatric and Adolescent Diabetes (ISPAD) menyatakan bahwa meskipun obesitas adalah faktor risiko utama, tidak semua anak dan remaja dengan diabetes tipe 2 mengalami obesitas. Sebaliknya, tidak semua anak yang mengalami obesitas akan mengembangkan diabetes.

Risiko diabetes biasanya muncul dari kombinasi beberapa faktor, termasuk kerentanan genetik, pola makan, tingkat aktivitas fisik, kualitas tidur, dan perubahan hormon. Masa pubertas menyebabkan perubahan hormon yang dapat menurunkan sensitivitas tubuh terhadap insulin. Penelitian yang dilakukan oleh American Diabetes Association menunjukkan bahwa sensitivitas insulin dapat menurun sekitar 25-30 persen saat anak memasuki masa pubertas. Pada kebanyakan anak, pankreas dapat mengimbangi perubahan ini dengan memproduksi lebih banyak insulin. Namun, pada anak yang memiliki faktor risiko lain, kompensasi tersebut mungkin tidak cukup, sehingga kadar gula darah meningkat.

Risiko Keluarga dan Lingkungan

Diabetes tipe 2 pada anak lebih sering muncul di pertengahan masa pubertas dan jarang terjadi sebelum pubertas. Namun, anak-anak yang memiliki banyak faktor risiko dapat mengalami gangguan gula darah lebih awal. Anak yang memiliki orang tua atau saudara kandung dengan diabetes tipe 2 memiliki risiko yang lebih tinggi. Faktor ini tidak hanya berkaitan dengan gen, tetapi juga dengan pola makan, aktivitas, dan lingkungan yang sama dalam keluarga. Riwayat ibu yang mengalami diabetes saat hamil juga dapat meningkatkan risiko pada anak. Penelitian menunjukkan bahwa paparan diabetes atau obesitas pada ibu selama kehamilan berhubungan dengan kemungkinan diabetes tipe 2 pada anak saat remaja.

Faktor lain seperti berat lahir yang rendah dan kondisi tertentu saat lahir juga dapat menjadi bagian dari risiko. Namun, hal ini tidak berarti bahwa seorang anak pasti akan mengalami diabetes. Konsumsi minuman manis dan makanan tinggi kalori dalam jumlah banyak atau sering dapat berkontribusi terhadap penambahan lemak tubuh. Risiko juga dapat meningkat ketika anak jarang bergerak, terlalu lama duduk, atau memiliki waktu tidur yang buruk. Satu gelas minuman manis atau satu porsi makanan tertentu tidak secara langsung menyebabkan diabetes tipe 2. Penyakit ini terbentuk melalui proses yang berlangsung lama dan dipengaruhi oleh banyak faktor.

Beberapa kondisi yang berkaitan dengan resistensi insulin juga perlu diperhatikan, seperti tekanan darah tinggi, kadar lemak darah yang tidak sehat, perlemakan hati, sindrom ovarium metabolik poliendokrin (PMOS), dan acanthosis nigricans, yang biasanya terlihat sebagai kulit yang lebih gelap dan menebal, terutama di leher atau lipatan tubuh. Anak yang tampak gemuk tidak selalu mengalami diabetes tipe 2, dan sebaliknya, anak dengan penampilan tubuh yang tidak gemuk juga tidak sepenuhnya terhindar dari kemungkinan diabetes.

Untuk anak-anak dengan kadar gula darah tinggi, dokter perlu membedakan diabetes tipe 2 dari diabetes tipe 1 atau jenis diabetes lainnya yang disebabkan oleh kelainan gen tertentu. Pemeriksaan gula darah, HbA1c, dan dalam beberapa kasus, antibodi pankreas mungkin diperlukan untuk memastikan diagnosis. Orang tua disarankan untuk membawa anak ke fasilitas kesehatan jika mereka sering merasa haus, sering buang air kecil, mudah lelah, mengalami pandangan kabur, berat badan turun tanpa sebab, atau mengalami perubahan kulit yang mencurigakan. Gejala diabetes tipe 2 dapat berkembang secara perlahan sehingga kadang baru terdeteksi setelah pemeriksaan dilakukan.

Menurut penelitian yang melibatkan anak-anak dan remaja dengan diabetes tipe 2, terapi metformin saja dapat mempertahankan kontrol gula darah pada sekitar separuh peserta selama masa pengamatan hingga enam tahun. Temuan ini menunjukkan pentingnya mengenali dan menangani diabetes tipe 2 sejak dini. Diabetes tipe 2 pada anak usia sekolah disebabkan oleh kombinasi kerentanan biologis, perubahan hormon, faktor genetik, kondisi yang ada sejak kehamilan, serta lingkungan sehari-hari. Pemahaman ini membantu keluarga untuk fokus pada pemeriksaan dan pendampingan medis yang tepat.

Artikel Terkait