Penelitian terkini telah menganalisis tulisan mengenai pengalaman hidup individu dan membandingkannya dengan skor dari tiga dimensi psikopati. Hubungan yang ditemukan bervariasi tergantung pada dimensi serta jenis cerita yang ditulis. Hasil penelitian ini menunjukkan kecenderungan dalam kelompok, bukan sekadar daftar kata yang dapat mengidentifikasi seseorang. Oleh karena itu, tulisan tidak dapat dijadikan alat tunggal untuk mendiagnosis psikopati.
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Personality and Individual Differences ini menyelidiki keterkaitan antara beberapa dimensi psikopati dan pilihan kata dalam narasi pengalaman hidup. Temuan yang diperoleh sangat menarik, tetapi tidak dimaksudkan sebagai metode untuk mendiagnosis atau memberi label pada seseorang berdasarkan pesan singkat, unggahan di media sosial, atau tulisan tangan.
Metodologi Penelitian
Penelitian yang dilakukan oleh Ky Bray dan Laura E. Drislane melibatkan 307 mahasiswa serta 144 individu yang pernah menjalani hukuman penjara. Para peserta diminta untuk menuliskan tiga pengalaman penting dalam hidup mereka: momen terbaik, momen terburuk, dan titik balik. Selain itu, mereka juga mengisi kuesioner TriPM, yang merupakan alat ukur untuk menilai tiga dimensi kepribadian.
Para peneliti kemudian menggunakan perangkat lunak untuk menghitung frekuensi kategori kata dalam tulisan, seperti kata-kata yang berkaitan dengan kecemasan atau emosi positif. Fokus utama dari penelitian ini adalah pola statistik dalam cerita yang ditulis berdasarkan instruksi yang diberikan, bukan penilaian terhadap tulisan spontan seperti pesan chat atau catatan pribadi.
Temuan dan Implikasi
Dalam model triarki psikopati yang diterapkan dalam penelitian ini, dimensi boldness berhubungan dengan keberanian dan dominasi sosial; meanness mencakup sikap antagonistik serta rendahnya kepedulian terhadap orang lain; sedangkan disinhibition menggambarkan kesulitan dalam mengendalikan dorongan. Peneliti menemukan variasi dalam hubungan antara dimensi-dimensi tersebut dan penggunaan bahasa yang berbeda.
Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan antara kepribadian dan penggunaan bahasa tidak sesederhana asumsi bahwa individu yang kurang berempati selalu menulis dengan nada dingin atau tanpa emosi. Pilihan kata juga dipengaruhi oleh jenis cerita atau konteks yang dibahas. Dalam beberapa kondisi, dimensi meanness dapat berhubungan dengan penggunaan bahasa yang positif.
Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara skor kuesioner dan frekuensi kategori kata. Namun, hasilnya tidak membuktikan bahwa pilihan kata tertentu menyebabkan sifat tertentu, atau bahwa satu kata spesifik dapat mengindikasikan psikopati. Tujuan dari studi ini juga bukan untuk mendiagnosis psikopati melalui tulisan.
Psikopati merupakan konstruk kepribadian yang diteliti, bukan diagnosis yang terpisah dalam DSM-5-TR. Gangguan kepribadian antisosial adalah diagnosis yang berbeda, meskipun memiliki sejumlah ciri yang tumpang tindih dengan psikopati, tetapi keduanya tidaklah sama.
Karena penelitian ini menganalisis cerita dalam konteks bahasa tertentu, hasilnya perlu diuji lebih lanjut sebelum diterapkan pada jenis tulisan lainnya, termasuk percakapan singkat atau bahasa yang berbeda. Penilaian klinis memerlukan pertimbangan yang lebih luas daripada sekadar pilihan kata dalam satu tulisan. Studi ini memberikan indikasi bahwa bahasa dapat terkait dengan dimensi kepribadian, tetapi satu tulisan tidak cukup untuk menggambarkan siapa penulisnya, apalagi untuk menetapkan diagnosis.