Fakta Kesehatan

Analisis Waktu Penanganan Stroke di Jakarta: Dari Gejala hingga Trombektomi

Sebuah studi di dua rumah sakit rujukan di Jakarta mencatat waktu median 468 menit dari munculnya gejala stroke hingga tindakan trombektomi dilakukan pada 259 pasien. Penelitian ini menyoroti pentingn...

F
Fidzu Ardaf
21 September 2026
42 pembaca
ilustrasi pasien stroke menjalani CT scan (IDN Times/NRF)
ilustrasi pasien stroke menjalani CT scan (IDN Times/NRF)

Studi preprint yang dilakukan di dua rumah sakit rujukan di Jakarta menunjukkan bahwa waktu median yang diperlukan dari timbulnya gejala stroke hingga dimulainya tindakan trombektomi adalah 468 menit, atau setara dengan 7 jam 48 menit. Penelitian ini melibatkan 259 pasien dan mencatat bahwa CT scan dilakukan rata-rata 9 menit setelah pasien tiba, namun keputusan untuk melakukan tindakan memakan waktu 101 menit, dan tindakan itu sendiri dimulai 272 menit setelah kedatangan pasien.

Waktu yang terbuang ini mencerminkan berbagai tahap dalam proses penanganan stroke yang tidak hanya terjadi di ruang gawat darurat. Sejak gejala muncul, keluarga harus mengenali kondisi tersebut, pasien harus dipindahkan ke rumah sakit, hingga tim medis bersiap untuk melakukan tindakan. Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya pengenalan gejala stroke yang dikenal dengan akronim "FAST" dan perlunya segera mencari pertolongan medis, serta mencatat waktu terakhir pasien dalam keadaan normal.

Keterlambatan dalam Proses Penanganan

Dalam studi berjudul “Time Metrics of Acute Stroke Pathways for Mechanical Thrombectomy in Indonesia”, peneliti menganalisis pasien yang menjalani trombektomi di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo dan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono antara tahun 2017 hingga 2025. Dari total 330 pasien yang terdaftar, 71 pasien dikeluarkan dari analisis karena data yang tidak lengkap, sehingga analisis akhir mencakup 259 pasien.

Waktu median 468 menit bukanlah waktu tunggu untuk semua pasien, melainkan menunjukkan bahwa sekitar setengah dari pasien dalam kelompok tersebut menerima tindakan dalam waktu kurang dari 468 menit, sementara sisanya memerlukan waktu lebih lama. Angka ini juga tidak berlaku untuk semua jenis stroke, karena trombektomi hanya dilakukan pada pasien tertentu, terutama mereka yang mengalami stroke iskemik dengan sumbatan pada pembuluh darah besar.

Hambatan dalam Proses Rujukan

Studi ini masih dalam bentuk preprint dan belum melalui proses peer review, sehingga hasilnya merupakan gambaran awal mengenai jalur penanganan trombektomi di dua rumah sakit tersebut. Peneliti mencatat bahwa waktu median dari kedatangan pasien di rumah sakit hingga CT scan adalah 9 menit, namun waktu dari kedatangan hingga keputusan tindakan mencapai 101 menit, dan waktu dari kedatangan hingga dimulainya tindakan di lipat paha mencapai 272 menit.

Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun pemeriksaan awal dapat dilakukan dengan cepat, waktu masih terpakai setelah pencitraan dilakukan. Dokter perlu menilai hasil pemeriksaan, memastikan pasien memenuhi syarat untuk tindakan, berkomunikasi dengan tim terkait, mendapatkan persetujuan, serta menyiapkan ruang dan peralatan. Peneliti mengidentifikasi keterlambatan setelah pemeriksaan pencitraan sebagai salah satu hambatan utama di rumah sakit dan merekomendasikan perbaikan dalam proses pengambilan keputusan serta koordinasi sebelum pasien tiba.

Laporan dari Siemens Healthineers yang dirilis pada September 2026 menunjukkan bahwa 231 kabupaten atau kota di Indonesia telah memiliki kemampuan trombolisis, sementara 81 wilayah memiliki layanan trombektomi. Namun, pusat layanan trombektomi masih terpusat di wilayah barat Indonesia, yang mengakibatkan pasien dengan sumbatan pembuluh darah besar harus dipindahkan dari rumah sakit awal ke pusat rujukan yang memiliki fasilitas dan tenaga medis yang memadai. Proses ini melibatkan komunikasi antar rumah sakit, pemeriksaan, transportasi, administrasi, pencitraan ulang, serta persiapan tim tindakan.

Studi lain yang dilakukan di Surabaya pada tahun 2019 menemukan rata-rata keterlambatan prarumah sakit sebesar 1.004 menit (16 jam 44 menit) dan rata-rata waktu menuju CT scan sebesar 189 menit (3 jam 9 menit). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa hanya 18 dari 126 pasien yang tiba dalam jendela waktu 4,5 jam untuk trombolisis intravena, dan hanya tiga pasien yang menerima terapi tersebut. Keterlambatan ini dihubungkan dengan kurangnya pemahaman tentang gejala stroke dan sistem rujukan yang belum efektif.

Masyarakat diimbau untuk mengenali tanda-tanda stroke melalui prinsip FAST dan mencatat waktu ketika pasien terakhir kali terlihat normal. Penanganan stroke yang lebih cepat memerlukan rantai layanan yang terintegrasi, mulai dari pengenalan gejala hingga kesiapan tenaga medis dan ruang tindakan. Angka 468 menit dalam studi ini tidak mencerminkan pengalaman setiap pasien, tetapi menunjukkan bagaimana berbagai tahapan dalam proses penanganan dapat terakumulasi sebelum pasien menerima terapi yang dibutuhkan.

Artikel Terkait