Kuala Lumpur - Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, menegaskan bahwa negaranya akan tetap pada kebijakan yang mengusir warga negara Israel. Anwar menyatakan bahwa Malaysia tidak akan terpengaruh oleh intimidasi untuk mengubah kebijakan yang telah ada selama bertahun-tahun.
Dalam sebuah pernyataan yang dilansir oleh The Star pada Jumat (24/7/2026), Anwar menegaskan bahwa Malaysia tidak melanggar hukum internasional dengan kebijakan tersebut. Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap kemarahan delapan anggota Kongres AS yang mengkritik pernyataan Anwar mengenai pengusiran warga negara Israel pada 15 Juli lalu.
Menanggapi Kritikan dari AS
"Saya ingin menanggapi para anggota parlemen AS, setidaknya sebagian dari mereka, yang secara tegas menyatakan Malaysia melanggar hukum internasional dan tidak menghormati hak negara lain," ungkap Anwar dalam pernyataannya pada Rabu (22/7). "Hal itu sama sekali tidak masuk akal, karena menurut pandangan kami, kebijakan ini telah diterapkan oleh Malaysia selama beberapa dekade, bahwa kami menentang kehadiran warga negara Israel, bukan orang Yahudi, tetapi warga negara Israel di sini karena mereka merupakan bagian tak terpisahkan dan terlibat dalam pembunuhan, kejahatan, dan penindasan serta penjajahan terus-menerus terhadap Palestina dan Gaza," tambahnya.
Para anggota Kongres AS tersebut mengirim surat kepada Menlu AS Marco Rubio, mendesak agar Departemen Luar Negeri meninjau hubungan keamanan dan ekonomi dengan Malaysia, serta meminta penghentian pendanaan untuk program "Pendidikan dan Pelatihan Militer Internasional" yang memberikan pelatihan bagi personel militer Malaysia.
Kebijakan Malaysia yang Konsisten
Anwar menyatakan bahwa para anggota parlemen AS memanfaatkan situasi ini untuk mengancam pemerintah Malaysia dan dirinya sebagai Perdana Menteri. "Ternyata mereka sama sekali tidak mengikuti perkembangan terkini, di mana banyak negara melarang hal tersebut (warga Israel masuk ke negara mereka-red) dan Malaysia sendiri telah menerapkan larangan itu selama beberapa dekade," sebutnya.
Lebih lanjut, Anwar menekankan bahwa Malaysia akan terus bersuara mengenai isu Palestina dan Gaza, meskipun ada negara-negara lain yang bersikap selektif atau bahkan diam terhadap kekejaman yang terjadi. "Malaysia merupakan negara yang merdeka dan kami menggunakan hak-hak kami dan bangga untuk menyatakan bahwa rakyat Malaysia menjunjung tinggi martabat manusia serta menghormati semangat kemanusiaan," tegasnya.
"Kami akan terus melanjutkan kebijakan ini dan tidak akan mengizinkan warga negara Israel menginjakkan kaki di Malaysia," tambah Anwar.
Dia juga menyatakan bahwa protes dari anggota Kongres AS tidak seharusnya mempengaruhi hubungan Malaysia dengan AS, karena Malaysia tetap terbuka bagi warga negara AS serta investasi dari negara tersebut. "Kami menjalin hubungan baik dengan Amerika Serikat sama seperti kami melakukannya dengan negara-negara lainnya, namun mustahil bagi kami untuk bersikap begitu penakut hingga tidak berani mengecam tindakan berlebihan seperti pembunuhan terhadap orang-orang tidak bersalah, termasuk mereka yang berada di Palestina dan Gaza," tutupnya.