Fakta Kesehatan

Apakah Diet Keto Cocok untuk Anak yang Mengalami Obesitas?

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tidak merekomendasikan diet keto sebagai pola makan untuk anak-anak dengan obesitas, mengingat bukti yang ada masih terbatas dan tidak konsisten.

F
Fidzu Ardaf
08 October 2026
34 pembaca
ilustrasi anak makan (pexels.com/Alex Green)
ilustrasi anak makan (pexels.com/Alex Green)

WHO tidak menganggap diet keto, diet rendah karbohidrat, atau pola makan tinggi protein sebagai pilihan terbaik untuk semua anak yang mengalami obesitas. Bukti yang mendukung diet-diet tersebut masih minim; beberapa penelitian kecil menunjukkan bahwa pola makan tinggi protein dapat berpotensi meningkatkan ukuran tubuh tertentu. WHO merekomendasikan intervensi diet yang terstruktur, yang harus diawasi oleh tenaga kesehatan dan disesuaikan dengan usia, kebutuhan, serta kebiasaan makan anak.

Dalam upaya mendukung anak-anak yang hidup dengan obesitas, keluarga sering kali disarankan untuk mencoba berbagai pendekatan diet, mulai dari pengurangan kalori hingga penghindaran karbohidrat atau peningkatan asupan protein. Namun, panduan terbaru dari WHO tidak menetapkan satu pola makan tertentu sebagai standar untuk semua anak. Panduan ini berlaku untuk anak berusia 29 hari hingga kurang dari 10 tahun, dengan rekomendasi intervensi diet terstruktur ditujukan bagi anak-anak di atas usia 2 tahun.

Rekomendasi WHO untuk Intervensi Diet

WHO mendorong penerapan intervensi diet sebagai bagian dari penanganan obesitas yang komprehensif. Rencana diet harus mempertimbangkan usia, kondisi kesehatan, pilihan makanan, frekuensi makan, pemahaman gizi, serta konteks budaya anak. Intervensi ini perlu diawasi oleh tenaga kesehatan yang berpengalaman dalam gizi, dengan keterlibatan orang tua atau pengasuh.

Panduan tersebut tidak menjadikan diet keto atau pola makan tinggi protein sebagai rekomendasi umum. Kebutuhan nutrisi anak harus dinilai secara individual dan menjadi bagian dari perawatan yang terencana. WHO menilai bahwa bukti mengenai diet ketogenik masih sangat rendah kepastiannya. Ketika dibandingkan dengan pengurangan kalori, hasil dari diet ketogenik belum menunjukkan kejelasan. Bukti yang ada hanya menunjukkan kemungkinan adanya perubahan kadar trigliserida, tanpa dapat memastikan manfaat atau arah dampaknya.

Analisis Terhadap Diet yang Berbeda

Oleh karena itu, panduan ini menyatakan bahwa bukti yang ada belum cukup untuk menjadikannya sebagai pilihan terbaik. Tinjauan sistematis yang dirujuk oleh WHO menunjukkan bahwa penurunan indeks massa tubuh (IMT/BMI) lebih signifikan setelah intervensi dengan diet rendah karbohidrat dibandingkan dengan diet rendah lemak. Namun, kualitas penelitian yang ada terbatas dan dampaknya terhadap faktor risiko kardiometabolik tidak konsisten. Peserta dalam penelitian tersebut berusia antara 6 hingga 18 tahun, sehingga hasilnya tidak sepenuhnya mencerminkan anak-anak di bawah usia 10 tahun.

Tinjauan sistematis lainnya yang melibatkan 125 studi pada anak dan remaja berusia 2 hingga 18 tahun menemukan bahwa perubahan IMT bervariasi tergantung pada target energi diet. Namun, rentang usia dan jenis intervensi yang digunakan beragam, dan hasilnya tidak menetapkan satu pola makan seperti keto atau rendah karbohidrat sebagai terapi standar.

Dalam panduan WHO, bukti dengan kepastian sangat rendah dari dua uji klinis kecil—yang melibatkan 145 peserta, termasuk anak-anak dan sebagian remaja—menunjukkan bahwa pola makan tinggi protein mungkin sedikit meningkatkan berat badan, IMT, lingkar pinggang, dan tekanan darah sistolik. Temuan ini tidak membuktikan bahwa makanan tinggi protein berbahaya bagi anak. Yang dinilai adalah pola diet tinggi protein sebagai intervensi untuk obesitas. Hasil dari penelitian kecil ini belum cukup untuk memastikan dampak pola tersebut pada anak secara umum.

Anak-anak masih dalam masa pertumbuhan, sehingga rencana makan harus memenuhi kebutuhan gizi mereka. WHO menyatakan bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami dampak jangka panjang dari diet yang ketat—seperti diet sangat rendah kalori atau keto—terhadap pertumbuhan serta kesejahteraan fisik dan mental. Panduan ini juga menekankan pentingnya tenaga kesehatan dalam menilai risiko gangguan makan dan berkomunikasi tanpa stigma.

WHO menggambarkan pola makan sehat sebagai pola yang cukup, seimbang, moderat, dan beragam, dengan penyesuaian berdasarkan usia, kondisi individu, budaya, serta makanan yang tersedia. Dalam penanganan obesitas pada anak, keputusan untuk mengubah pola makan sebaiknya dilakukan bersama tenaga kesehatan yang memahami gizi anak, bukan sekadar mengikuti diet orang dewasa atau tren di media sosial.

Artikel Terkait