Fakta Kesehatan

Asal Usul Botox: Dari Terapi Mata Juling hingga Penggunaan Kosmetik

Botox, yang awalnya dikembangkan untuk mengatasi strabismus, kini dikenal luas sebagai solusi kosmetik. Proses penelitiannya mencakup berbagai tahapan yang menarik dan tidak terduga.

F
Fidzu Ardaf
13 October 2026
15 pembaca
ilustrasi Botox (magnific.com/magnific)
ilustrasi Botox (magnific.com/magnific)

Botox, yang dikenal sebagai onabotulinumtoxinA, awalnya diteliti untuk terapi strabismus. Alan B. Scott melakukan penelitian terhadap toksin botulinum tipe A untuk melemahkan otot mata secara terarah sebagai alternatif dari prosedur operasi. Pada tahun 1989, FDA memberikan persetujuan untuk penggunaan Oculinum dalam mengatasi strabismus dan blefarospasme. Setelah diakuisisi oleh Allergan, produk ini mulai dikenal dengan nama Botox pada tahun 1992. Pengamatan terhadap pasien kemudian mendorong penggunaan Botox dalam bidang kosmetik, yang mendapatkan persetujuan FDA pada tahun 2002 untuk mengurangi garis kerutan.

Awal Mula Penelitian Botox

Ketika Alan B. Scott menyuntikkan toksin botulinum ke otot mata seorang pasien, tujuannya bukanlah untuk menghaluskan kerutan, melainkan untuk membantu pasien yang mengalami ketidakselarasan mata setelah operasi retina. Scott, yang merupakan dokter mata di San Francisco, mengenang momen tersebut sebagai pengalaman yang menegangkan. Pasien tersebut dirawat di unit perawatan intensif selama tiga hari sesuai dengan protokol penelitian. Dosis awal yang diberikan berhasil mengubah posisi mata, meskipun efeknya hanya bertahan beberapa minggu.

Pada tahun 1970-an, Scott dan timnya mencari metode untuk melemahkan otot mata secara terarah. Dalam catatan retrospektifnya, Scott mencatat bahwa banyak pasien strabismus masih memerlukan operasi ulang. Timnya kemudian menguji beberapa zat yang dapat disuntikkan ke otot, termasuk toksin botulinum tipe A. Penelitian awal dilakukan pada monyet rhesus, dan hasilnya menunjukkan bahwa suntikan toksin botulinum dapat melemahkan otot mata yang ditargetkan, dengan efek yang bervariasi dari beberapa minggu hingga berbulan-bulan.

Perkembangan Menuju Penggunaan Kosmetik

Setelah serangkaian pengujian, Scott mulai meneliti penggunaan toksin botulinum pada manusia. Laporan yang dipublikasikan pada tahun 1981 melibatkan 42 pasien yang menerima 132 suntikan, dengan hasil menunjukkan perbaikan pada strabismus horizontal. Beberapa efek bahkan tercatat bertahan hingga 411 hari setelah suntikan terakhir. Pada akhir tahun 1989, FDA memberikan persetujuan untuk penggunaan toksin botulinum tipe A dengan nama Oculinum untuk mengatasi strabismus dan blefarospasme pada pasien berusia 12 tahun ke atas.

Persetujuan ini mengubah persepsi terhadap toksin botulinum, yang sebelumnya dikenal sebagai neurotoksin, kini digunakan sebagai obat dengan dosis terukur. Pada tahun 1991, Allergan mengakuisisi Oculinum, dan pada tahun 1992, nama Botox mulai digunakan secara luas. Peralihan ke penggunaan kosmetik dimulai dari pengamatan Jean Carruthers, seorang dokter mata yang mendapati bahwa garis kerutan di antara alis pasiennya memudar setelah disuntik. Bersama suaminya, Alastair Carruthers, seorang dokter kulit, mereka menerbitkan laporan awal pada tahun 1992 mengenai penggunaan toksin botulinum A untuk garis kerutan, yang melibatkan 18 pasien.

Persetujuan FDA untuk Botox Cosmetic baru terjadi pada tahun 2002 untuk perbaikan sementara garis kerutan di antara alis pada orang dewasa. Botox bekerja dengan menghambat pelepasan asetilkolin, yang merupakan pembawa pesan kimia yang membantu saraf memberikan sinyal agar otot berkontraksi. Dengan demikian, aktivitas otot di area suntikan berkurang untuk sementara waktu. Di Amerika Serikat, penggunaan onabotulinumtoxinA juga mencakup beberapa kondisi medis lainnya, seperti migrain kronis dan keringat berlebih.

Meskipun Botox digunakan dalam pengobatan dan prosedur kosmetik, tetap ada risiko yang perlu diperhatikan. Label FDA mencakup peringatan tentang kemungkinan efek toksin menyebar dari area suntikan, yang dapat menyebabkan gejala seperti kelemahan otot dan kesulitan bernapas. Perjalanan Botox dimulai dari upaya untuk memperbaiki posisi mata tanpa operasi, namun pengamatan terhadap pasien membawa penelitian ini ke arah yang tidak terduga, menjadikannya salah satu prosedur kosmetik yang paling populer saat ini.

Artikel Terkait