Josua Pardede, Kepala Ekonom PermataBank, mengingatkan bahwa Bank Indonesia (BI) perlu waspada terhadap Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang saat ini memberikan imbal hasil (yield) yang cukup tinggi. Ia menekankan bahwa imbal hasil yang menarik dapat menyebabkan bank harus menaikkan bunga simpanan untuk mempertahankan dana nasabah.
“Karena imbal hasil SRBI yang terlalu menarik dapat membuat bank harus menaikkan bunga simpanan untuk mempertahankan dana,” ungkap Josua di Jakarta pada hari Sabtu, 20 Juni 2026. Dalam konteks ini, BI telah memperkuat imbal hasil SRBI pada semua tenor seiring dengan kenaikan BI-Rate sebesar 100 basis poin (bps) yang terjadi pada Mei hingga Juni 2026. Langkah ini diambil oleh bank sentral untuk menarik investasi portofolio asing ke dalam aset keuangan domestik, yang pada gilirannya dapat memperkuat nilai tukar rupiah.
Peningkatan Imbal Hasil SRBI
Berdasarkan data dari BI, rata-rata tertimbang (RRT) imbal hasil SRBI di pasar sekunder untuk semua tenor menunjukkan peningkatan, berada di kisaran 7 persen pada 12 Juni 2026. Josua juga menilai bahwa BI sebaiknya menahan kenaikan BI-Rate lebih lanjut jika nilai tukar rupiah dan inflasi mulai menunjukkan stabilitas, mengingat transmisi kenaikan suku bunga ke biaya dana dan kredit sudah mulai terlihat.
“OJK dan BI perlu memantau ketat bunga deposito spesial, rasio alat likuid, pertumbuhan kredit baru, kredit bermasalah, dan perubahan suku bunga kredit baru. Pemerintah juga perlu menjaga timing penempatan dan penarikan kas negara di perbankan agar tidak menambah tekanan likuiditas secara mendadak,” kata Josua.
Risiko dan Stabilitas Perbankan
Josua mengemukakan bahwa kenaikan BI-Rate sebesar 100 bps berpotensi mengubah arah biaya dana perbankan. Meskipun demikian, ia memprediksi bahwa kenaikan tersebut kemungkinan akan berlangsung secara bertahap dan tidak akan melonjak tajam di seluruh industri. Ia mencatat bahwa suku bunga dana pihak ketiga (DPK) rupiah telah meningkat dari 2,65 persen pada April 2026 menjadi 2,70 persen pada Mei 2026, yang menunjukkan adanya peningkatan persaingan dalam penghimpunan dana.
Namun, ia menegaskan bahwa tekanan biaya dana saat ini belum menjadi ancaman sistemik karena likuiditas perbankan masih cukup memadai. BI juga terus menjaga kecukupan likuiditas melalui berbagai kebijakan, termasuk lelang repo dan penguatan instrumen likuiditas perbankan. “Dengan kata lain, tren penurunan biaya dana yang terjadi setelah penurunan BI-Rate sebesar 125 bps pada 2025 memang berisiko berbalik arah pada 2026,” jelasnya.
Josua memperkirakan bahwa prospek bunga simpanan dalam beberapa bulan ke depan cenderung meningkat lebih dulu dibandingkan bunga kredit, terutama pada deposito berjangka dan simpanan bernilai besar yang lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga. Sementara itu, tabungan dan giro biasanya akan mengalami kenaikan yang lebih lambat karena sifatnya yang lebih transaksional.
“Jika BI-Rate bertahan di 5,75 persen hingga akhir 2026, bunga deposito kemungkinan akan naik secara bertahap. Namun, jika tekanan rupiah kembali meningkat dan BI harus menaikkan suku bunga lagi, persaingan bunga deposito akan semakin ketat, terutama di bank kecil-menengah dan bank dengan rasio kredit terhadap dana pihak ketiga yang tinggi,” tambahnya.
Dari sudut pandang stabilitas, Josua mencatat bahwa kondisi industri perbankan saat ini masih cukup kuat untuk menyerap tekanan yang ada. Kinerja kredit perbankan pada Mei 2026 tumbuh sebesar 11,51 persen (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan 9,98 persen (yoy) pada bulan April. Sementara itu, DPK tumbuh 13,47 persen (yoy) dan rasio alat likuid terhadap DPK (AL/DPK) berada di level 24,74 persen. Selain itu, permodalan juga masih kuat dan risiko kredit agregat tetap terkendali.
“Ini berarti kenaikan suku bunga belum menjadi ancaman langsung bagi stabilitas bank. Namun, risiko tertundanya tetap besar. Jika bunga deposito terus naik, biaya dana naik, bunga kredit naik, permintaan kredit melambat, dan kualitas kredit memburuk, maka bank akan menghadapi tekanan ganda antara menjaga pertumbuhan kredit dan menjaga kualitas aset,” tutup Josua.