Fakta Ekonomi

BEI Hapus 81 Saham HSC dari IHSG, Bobot Dialihkan ke Saham Lain

Bursa Efek Indonesia mengumumkan penghapusan 81 saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dari IHSG, dengan bobot saham tersebut dialihkan ke saham lain yang masih diperhitungkan dalam indeks.

D
Dila Rakasiwi
03 November 2026
15 pembaca
Foto: ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha
Foto: ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha

JAKARTA — Bursa Efek Indonesia (BEI) mengonfirmasi bahwa 81 saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) akan dihapus dari penghitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Namun, penghapusan ini tidak berarti menghilangkan bobot saham tersebut, karena bobot yang sebelumnya dimiliki akan dialihkan secara proporsional ke saham lain yang tetap menjadi bagian dari indeks. Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyatakan bahwa penyesuaian ini mulai berlaku pada Senin, 2 November 2026, setelah proses teknis dilakukan setelah penutupan perdagangan pada Jumat, 30 Oktober 2026.

Penyesuaian Komposisi IHSG

Jeffrey menjelaskan bahwa penghapusan 81 saham HSC merupakan langkah dalam penyesuaian komposisi IHSG. Setelah penghapusan, akan ada 837 saham yang tetap diperhitungkan dalam indeks, tidak termasuk saham-saham di papan akselerasi. Ia menekankan bahwa penyesuaian ini tidak dimaksudkan untuk menyebabkan penurunan drastis pada indeks, melainkan bobot saham yang dikeluarkan akan didistribusikan kembali secara proporsional kepada saham-saham lain yang masih menjadi konstituen IHSG.

Pentingnya Likuiditas Saham

BEI sebelumnya juga telah menerapkan penyesuaian serupa pada beberapa indeks lainnya, seperti IDX30, LQ45, dan IDX80. Saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi menjadi perhatian karena dapat menimbulkan masalah likuiditas. Aliyahdin (Adi) Saugi, Presiden Direktur sekaligus Head of Indonesia Allianz Global Investors Indonesia, menjelaskan bahwa saham-saham tersebut dapat dibeli dengan mudah, tetapi sulit untuk dijual ketika investor membutuhkan likuiditas. Oleh karena itu, Adi menekankan pentingnya manajer investasi untuk mempertimbangkan risiko likuiditas sebelum memasukkan saham ke dalam portofolio. Penghapusan saham dari indeks acuan juga dapat memengaruhi keputusan investasi, terutama bagi pengelola dana yang menggunakan indeks sebagai tolok ukur kinerja.

Artikel Terkait