Fakta Ekonomi

BTN Fokus Pada Pembiayaan Rumah Bekas untuk Pertahankan Pertumbuhan KPR

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mengalihkan perhatian ke pasar rumah bekas sebagai strategi untuk menjaga pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) di tengah penurunan permintaan rumah nons...

N
Naufal Akbar
17 July 2026
46 pembaca
Foto: Edwin Putranto/Republika
Foto: Edwin Putranto/Republika

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) mulai meningkatkan fokus pada pembiayaan rumah bekas sebagai bagian dari strategi untuk menjaga pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR). Langkah ini diambil di tengah penurunan permintaan untuk rumah nonsubsidi dan kondisi likuiditas perbankan yang masih ketat.

Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, menjelaskan bahwa perusahaan melihat potensi besar dalam pasar rumah bekas. BTN tidak hanya akan mengandalkan penjualan rumah bekas, tetapi juga mulai menawarkan pembiayaan untuk renovasi dan perluasan bangunan. "Kalau dilihat, pasar memang cenderung melandai, terutama untuk segmen nonsubsidi. Namun, kami sekarang sedang cukup agresif mencari pasar, khususnya di secondary market," ujarnya dalam konferensi pers mengenai kinerja semester I 2026 di Jakarta.

Peluang di Pasar Sekunder

Nixon menambahkan bahwa pasar sekunder mencakup berbagai aspek, termasuk pembelian rumah bekas, renovasi, hingga ekspansi bangunan. Contohnya, masyarakat yang ingin memperluas rumah dengan membeli tanah di belakang atau membeli rumah di sebelah untuk mendapatkan lahan lebih luas.

Kerja Sama dengan Platform Digital

Untuk mempercepat proses penyaluran KPR, BTN juga menjalin kerja sama dengan platform jual beli properti digital seperti Pinhome dan Rumah123. Kerja sama ini diharapkan dapat mempercepat pengajuan kredit sehingga pencairan pembiayaan dapat dilakukan lebih cepat. "Kami akan lebih agresif bekerja sama dengan mereka. Proses bisnisnya juga kami percepat melalui service level agreement (SLA) yang lebih singkat," jelas Nixon.

Di sisi lain, Nixon mengungkapkan bahwa pasar rumah primer menghadapi tantangan yang bervariasi di setiap daerah. Di Jawa Barat, misalnya, masalah utama berasal dari proses perizinan dan ketersediaan lahan. Permintaan untuk rumah dengan harga di atas Rp 1 miliar juga masih menunjukkan stagnasi. Meskipun kondisi pasar belum sepenuhnya pulih, BTN mencatatkan hasil positif di semester I 2026, dengan laba bersih mencapai Rp 2,40 triliun, meningkat 40,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penyaluran kredit dan pembiayaan BTN tumbuh 11,2 persen menjadi Rp 418,11 triliun, sementara rasio kredit bermasalah turun menjadi 2,99 persen, untuk pertama kalinya berada di bawah 3 persen.

Nixon menambahkan bahwa transformasi yang dilakukan BTN selama beberapa tahun terakhir menjadi salah satu pendorong perbaikan kinerja tersebut. Selain memperkuat layanan digital, BTN juga terus mengembangkan layanan transaksi perbankan untuk meningkatkan dana murah dan menjaga kualitas pembiayaan.

Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Nixon LP Napitupulu, memberikan paparan kinerja Perseroan Semester I 2026 di Jakarta.

Artikel Terkait