Penelitian yang dilakukan pada tahun 2026 di Seattle melibatkan 84 pasien yang mengikuti program inseminasi dan menemukan penurunan pada beberapa ukuran sperma setelah terpapar asap kebakaran. Meskipun hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan, belum ada bukti yang mengonfirmasi bahwa asap kebakaran adalah penyebab perubahan tersebut.
Ketika asap kebakaran menyelimuti suatu area, dampak langsung yang sering dirasakan adalah iritasi pada mata, batuk, atau kesulitan bernapas. Namun, paparan asap juga dapat memengaruhi kesehatan reproduksi. Penelitian terbaru ini fokus pada apakah periode terpapar asap berkaitan dengan perubahan dalam hasil analisis sperma.
Temuan Penelitian di Seattle
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Fertility and Sterility ini menganalisis data dari 84 pasien di University of Washington, AS, yang menjalani prosedur inseminasi intrauteri (IUI) selama tiga periode asap kebakaran yang terjadi di Seattle pada tahun 2018, 2020, dan 2022. Setiap peserta berfungsi sebagai pembanding bagi dirinya sendiri, dengan membandingkan sampel semen yang diambil sebelum dan selama periode paparan asap. Jarak median antara dua pemeriksaan tersebut adalah empat bulan.
Hasil analisis menunjukkan penurunan dalam konsentrasi sperma, jumlah total sperma, serta jumlah sperma yang bergerak dan bergerak maju secara progresif. Namun, satu ukuran—persentase sperma yang bergerak maju secara progresif—justru mengalami peningkatan. Temuan ini tidak bertentangan dengan penurunan jumlah sperma, karena persentase mencerminkan bagian dari total sampel, sementara jumlah total mengacu pada keseluruhan sperma yang ada.
Keterbatasan dan Implikasi Penelitian
Analisis air mani menilai beberapa parameter, termasuk jumlah sperma dan kemampuan bergerak. Meskipun hasil pemeriksaan ini memberikan informasi, satu nilai rendah atau tinggi tidak cukup untuk menilai kesuburan atau mendiagnosis infertilitas. Hasil analisis air mani perlu dipertimbangkan bersama dengan faktor lain dan kondisi kesehatan secara keseluruhan.
Studi di Seattle berfokus pada dampak langsung dari asap kebakaran hutan. Sebuah tinjauan sistematis dan metaanalisis yang dilakukan pada tahun 2025 melibatkan 17 studi dengan lebih dari 24.000 peserta, menunjukkan bahwa paparan polusi udara yang lebih tinggi berkaitan dengan kualitas sperma yang lebih rendah. Namun, hasil ini tidak hanya berasal dari asap kebakaran, melainkan juga melibatkan berbagai jenis polutan dan kondisi paparan yang berbeda.
Asap kebakaran hutan mengandung berbagai zat pencemar, termasuk partikel halus PM2.5, gas, dan senyawa kimia lainnya. Penelitian di Seattle tidak dirancang untuk menjelaskan secara spesifik bagaimana paparan asap dapat memengaruhi kualitas sperma. Beberapa penelitian pada hewan menunjukkan bahwa paparan asap dapat mengubah metilasi DNA sperma, tetapi temuan ini belum tentu berlaku untuk manusia.
Studi ini memiliki keterbatasan, termasuk jumlah peserta yang relatif kecil dan pengukuran paparan asap yang didasarkan pada data kualitas udara, bukan pengukuran langsung. Oleh karena itu, penelitian ini belum dapat membuktikan bahwa asap kebakaran hutan secara langsung menyebabkan penurunan kualitas sperma.
Ketika kualitas udara memburuk akibat asap, langkah-langkah seperti memantau kualitas udara, membatasi aktivitas di luar ruangan, dan menggunakan pembersih udara dapat membantu mengurangi paparan. Namun, belum ada bukti bahwa langkah-langkah tersebut dapat secara khusus mencegah perubahan pada kualitas sperma.
Kesuburan dipengaruhi oleh banyak faktor, tidak hanya kualitas sperma atau paparan asap. Jika ada kekhawatiran mengenai kesuburan, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penilaian yang lebih komprehensif.