Diabetes memiliki potensi untuk merusak pembuluh darah, baik yang besar maupun kecil, serta saraf, sehingga dampaknya dapat dirasakan di berbagai bagian tubuh. Komplikasi yang umum terjadi meliputi gangguan pada jantung, mata, ginjal, saraf, dan kaki. Selain itu, diabetes tipe 2 juga sering berhubungan dengan kondisi lain seperti penyakit hati berlemak. Oleh karena itu, pemeriksaan rutin menjadi kunci untuk mendeteksi masalah lebih awal, bahkan sebelum gejala muncul.
Diabetes dikenal sebagai penyakit yang berkaitan dengan kadar gula darah yang tinggi. Namun, dampak dari penyakit ini tidak hanya terbatas pada kadar gula. Jika tidak dikelola dengan baik dalam jangka waktu yang lama, diabetes dapat memengaruhi berbagai organ dan jaringan tubuh yang penting untuk kehidupan sehari-hari. Dari mata hingga ginjal, jantung, dan saraf, banyak bagian tubuh yang dapat terpengaruh. Berikut adalah sembilan organ yang dapat mengalami gangguan akibat diabetes.
Risiko Penyakit Jantung dan Stroke
Diabetes dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit jantung serta stroke. Penyakit pembuluh darah tepi, yang mengurangi aliran darah terutama ke kaki, juga dapat terjadi. Tingginya tekanan darah dan kadar kolesterol dapat menambah risiko, sehingga penting untuk tidak hanya memantau kadar gula darah.
Dampak pada Penglihatan
Kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama dapat merusak pembuluh darah di retina, bagian mata yang menangkap cahaya, yang dikenal sebagai retinopati diabetik. Diabetes juga dapat meningkatkan risiko terjadinya katarak dan glaukoma. Gangguan pada retina dapat berkembang tanpa gejala yang jelas, sehingga pemeriksaan mata secara menyeluruh sangat dianjurkan bagi mereka yang telah didiagnosis dengan diabetes tipe 2.
Kerusakan Ginjal
Ginjal berfungsi untuk menyaring zat sisa dari darah. Namun, diabetes dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal, yang mengakibatkan penurunan kemampuan penyaringan. Salah satu tanda awalnya adalah munculnya albumin, sejenis protein, dalam urine. Fungsi ginjal juga dapat dinilai melalui pemeriksaan darah yang mengukur laju penyaringan ginjal atau eGFR. Penyakit ginjal kronis sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal, sehingga penting bagi penderita diabetes untuk memeriksa fungsi ginjal secara berkala.
Neuropati Diabetik
Kerusakan saraf yang disebabkan oleh diabetes disebut neuropati diabetik. Neuropati perifer sering kali mempengaruhi kaki dan tungkai, tetapi juga dapat terjadi di tangan. Gejala yang muncul bisa berupa kesemutan, rasa terbakar, nyeri, atau kebas. Selain itu, diabetes juga dapat merusak saraf otonom yang berfungsi mengatur kerja organ dalam, memengaruhi denyut jantung, pencernaan, kandung kemih, fungsi seksual, keringat, dan penglihatan.
Komplikasi pada Kaki
Kaki menjadi sangat rentan ketika kerusakan saraf mengurangi sensasi nyeri, sementara aliran darah juga berkurang. Luka kecil atau lecet bisa menjadi tidak terasa, sehingga sulit untuk sembuh dan berisiko mengalami infeksi. Dalam kasus yang parah, kerusakan jaringan dapat berujung pada amputasi. Oleh karena itu, pemeriksaan kaki secara berkala oleh dokter sangat penting dalam perawatan diabetes.
Risiko Stroke dan Masalah Kognitif
Kerusakan pembuluh darah akibat diabetes dapat meningkatkan risiko stroke. Selain itu, diabetes juga dikaitkan dengan masalah ingatan dan demensia vaskular, yang merupakan gangguan berpikir akibat masalah aliran darah ke otak. Sebuah tinjauan penelitian yang diterbitkan pada tahun 2025 menyebutkan demensia sebagai salah satu komplikasi yang berhubungan dengan diabetes tipe 2, dengan faktor seperti resistensi insulin dan peradangan kronis turut berperan.
Masalah Kesehatan Gigi dan Kulit
Diabetes dapat meningkatkan risiko mulut kering, infeksi, dan penyakit gusi. Hubungan ini bersifat dua arah, di mana diabetes dapat memperburuk kesehatan gusi, sementara peradangan gusi dapat menyulitkan pengelolaan kadar gula darah. Oleh karena itu, perawatan gigi dan gusi juga menjadi bagian penting dari perawatan diabetes. Selain itu, kulit dapat menjadi lebih kering atau mudah terinfeksi ketika diabetes tidak terkontrol, dan sirkulasi darah yang terganggu dapat memperlambat proses penyembuhan.
Penyakit Hati Berlemak
Pada diabetes tipe 2, penyakit hati berlemak yang terkait dengan gangguan metabolisme, yang kini dikenal sebagai metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD), lebih sering terjadi. Kondisi ini berhubungan erat dengan resistensi insulin dan dapat berkembang menjadi peradangan atau jaringan parut pada beberapa individu. Namun, MASLD tidak selalu berarti bahwa diabetes akan menyebabkan kerusakan hati, karena kedua kondisi ini dapat muncul bersamaan dan dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Banyak komplikasi yang terkait dengan diabetes dapat dicegah atau ditunda dengan perawatan yang tepat. Pemeriksaan kesehatan mata, ginjal, saraf, dan kaki dapat membantu dokter dalam mendeteksi perubahan lebih awal. Pengelolaan kadar gula darah, tekanan darah, dan kolesterol juga sangat penting.