Menabung menjadi salah satu cara yang dilakukan pasangan muda untuk merencanakan masa depan mereka. Sebagian dari penghasilan mereka disisihkan untuk pendidikan anak, dana darurat, dan cicilan rumah. Namun, bagaimana jika rencana yang telah disusun selama bertahun-tahun mendadak berubah akibat penyakit kritis? Bayangkan sebuah keluarga muda dengan satu anak, di mana suami berperan sebagai pencari nafkah utama dan istri mengelola keuangan rumah tangga. Ketika suami harus menjalani perawatan, pekerjaannya terganggu dan penghasilan menurun, sementara kebutuhan keluarga tetap harus dipenuhi.
Di sisi lain, istri dihadapkan pada keputusan yang sulit. Tabungan pendidikan anak mulai digunakan dan dana darurat pun berkurang. Dalam situasi ini, menjual kendaraan atau aset lainnya mungkin menjadi pilihan yang harus dipertimbangkan. Meskipun kisah ini bersifat ilustratif dan bukan pengalaman nyata dari pasien tertentu, situasi ini menunjukkan bagaimana masalah kesehatan dapat menjadi risiko finansial bagi keluarga.
Beban yang Tak Berhenti di Rumah Sakit
Dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan pada 23 Juni 2026, Dhamas Pratista mengungkapkan bahwa penyakit jantung, kanker, stroke, dan gagal ginjal merupakan tantangan besar bagi sistem kesehatan di Indonesia. Berdasarkan data klaim yang disampaikan, penyakit jantung menjadi penyebab utama beban biaya, diikuti oleh kanker, stroke, dan gagal ginjal.
Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui BPJS Kesehatan memiliki peran penting dalam mendanai layanan medis sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Oleh karena itu, tidak semua biaya pengobatan harus ditanggung oleh keluarga. Namun, dampak dari penyakit kritis tidak hanya berhenti pada biaya medis. Ada juga biaya transportasi, pendampingan pasien, dan yang paling signifikan, hilangnya pendapatan ketika pencari nafkah tidak dapat bekerja. Oleh karena itu, biaya pengobatan penyakit kritis perlu dipandang sebagai bagian dari masalah keuangan keluarga yang lebih luas, bukan hanya sekadar tagihan rumah sakit.
Seberapa Kuat Dana Darurat?
Sebagai simulasi sederhana, sebuah keluarga mengeluarkan Rp 8 juta setiap bulan dan memiliki dana darurat sebesar Rp 48 juta. Tanpa adanya pemasukan, dana tersebut cukup untuk bertahan selama enam bulan. Namun, jika ada pengeluaran tambahan sebesar Rp 2 juta per bulan untuk transportasi dan kebutuhan pemulihan, dana tersebut hanya akan bertahan sekitar 4,8 bulan. Angka ini hanya sebagai ilustrasi dan bukan merupakan rata-rata biaya perawatan pasien dengan penyakit kritis. Seorang perencana keuangan profesional mengingatkan bahwa keluarga pasien sering kali menghadapi tekanan finansial akibat kebutuhan tambahan untuk pengobatan, terutama jika pasien adalah pencari nafkah utama. Menurutnya, dana darurat dan asuransi menjadi fondasi penting dalam perencanaan keuangan keluarga. Ini berarti, hanya memiliki tabungan saja belum tentu cukup.
Peran Perempuan dalam Keputusan Keuangan
Di banyak rumah tangga, perempuan memiliki peran signifikan dalam mengatur anggaran harian, meskipun idealnya tanggung jawab keuangan harus dibagi bersama. Ketika krisis melanda, muncul pertanyaan sulit: pengeluaran mana yang harus didahulukan, apakah tabungan anak perlu digunakan, dan sampai kapan dana darurat akan mencukupi? Menjual aset mungkin dapat memberikan uang tunai dengan cepat, tetapi juga dapat mengurangi kekayaan keluarga untuk masa depan. Oleh karena itu, perlindungan kesehatan untuk perempuan perlu dilihat secara lebih luas. Perempuan harus memahami perlindungan finansial untuk seluruh anggota keluarga agar keputusan saat krisis tidak hanya bergantung pada tabungan atau aset yang dapat dijual.
Langkah pertama bagi pasangan muda adalah memeriksa perlindungan yang sudah dimiliki, seperti kepesertaan JKN, asuransi dari tempat kerja, polis pribadi, dan kemampuan dana darurat jika penghasilan utama terhenti. Penting untuk dipahami bahwa asuransi kesehatan dan perlindungan penyakit kritis tidak selalu memiliki cakupan yang sama. Asuransi kesehatan umumnya membiayai layanan medis sesuai dengan polis yang ada. Beberapa produk perlindungan penyakit kritis memberikan uang pertanggungan ketika kondisi yang dipersyaratkan terpenuhi, sehingga keluarga memiliki fleksibilitas keuangan, tergantung pada jenis produk dan ketentuannya.
Bagi keluarga yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang pilihan ini, informasi mengenai asuransi penyakit kritis dari AXA Mandiri dapat menjadi salah satu referensi. Salah satu produknya, Asuransi Mandiri Secure CritiCare, melindungi empat kelompok penyakit kritis utama, yaitu stroke, kanker, penyakit jantung, dan gagal ginjal, dari tahap awal hingga akhir sesuai ketentuan polis. Produk ini juga menawarkan manfaat perlindungan jiwa dan manfaat tunai. Informasi lengkap mengenai asuransi perlindungan penyakit kritis tersebut, termasuk manfaat, pilihan masa perlindungan, masa tunggu, dan persyaratan klaim, dapat ditemukan di situs resmi AXA Mandiri. Informasi produk mencakup masa tunggu 80 hari kalender untuk manfaat penyakit kritis, sehingga calon nasabah perlu membaca ringkasan informasi produk dan polis sebelum mengambil keputusan.
Menjaga Pilihan untuk Masa Depan
Penyakit kritis mungkin tidak selalu dapat dihindari, tetapi dampak keuangannya dapat dipersiapkan melalui dana darurat, perlindungan yang tepat, dan perencanaan sumber penghasilan keluarga. Langkah awalnya tidak harus selalu membeli produk baru. Pahami terlebih dahulu perlindungan yang sudah ada, kenali risiko yang belum tertutup, dan hitung berapa lama keluarga dapat bertahan jika salah satu pasangan tidak dapat bekerja. Dengan cara ini, saat penyakit kritis datang, keluarga dapat fokus pada pengobatan dan pemulihan tanpa terburu-buru mengorbankan masa depan yang telah dibangun dengan susah payah.