Perubahan dalam suhu, curah hujan, dan kelembapan dapat memengaruhi wilayah serta musim yang mendukung kehidupan nyamuk. Dampak dari perubahan iklim tidak selalu seragam; suhu yang lebih tinggi hanya mendukung penularan penyakit hingga batas tertentu, sementara banjir dan kekeringan juga dapat memengaruhi lokasi berkembang biaknya nyamuk. Tinjauan ilmiah terbaru menekankan bahwa iklim hanyalah salah satu dari banyak faktor yang berperan. Urbanisasi, mobilitas manusia, pengendalian nyamuk, serta akses terhadap layanan kesehatan juga turut membentuk risiko penyakit ini.
Perubahan iklim dapat memengaruhi kondisi hidup nyamuk. Sebuah tinjauan yang diterbitkan dalam jurnal Science Advances pada 2 Oktober 2026 mengulas hubungan antara perubahan iklim dengan malaria dan dengue. Peneliti dari Monash University merangkum temuan dari berbagai studi sebelumnya, menjelaskan bagaimana suhu, curah hujan, dan kelembapan dapat memengaruhi nyamuk Anopheles, yang membawa parasit malaria, serta Aedes, yang menularkan virus dengue. “Namun, selama abad terakhir, di tengah pemanasan yang jelas, angka malaria menurun sementara dengue meningkat,” jelas penulis utama studi tersebut, Toby Cumming, dalam keterangan resmi Monash University.
Pengaruh Suhu dan Curah Hujan
Suhu, curah hujan, dan kelembapan berperan dalam menentukan tempat tinggal dan jumlah nyamuk, serta durasi musim penularan. Jika suatu wilayah menjadi lebih cocok untuk nyamuk pembawa penyakit, risiko penularan dapat muncul di area atau waktu yang sebelumnya kurang mendukung. Dari analisis yang dilakukan oleh para peneliti, terdapat peningkatan potensi penularan dengue sebesar 12 persen untuk Aedes aegypti dan 49 persen untuk Aedes albopictus antara periode 1951–1960 hingga 2015–2024. Sementara itu, area yang cocok untuk malaria meningkat sekitar 2 persen untuk Plasmodium falciparum dan 1,8 persen untuk P. vivax.
Dalam kondisi tertentu, suhu yang lebih tinggi dapat mempercepat perkembangan nyamuk dan meningkatkan frekuensi gigitannya. Selain itu, suhu juga dapat mempercepat perkembangan parasit malaria atau virus dengue di dalam tubuh nyamuk, sehingga nyamuk yang terinfeksi bisa lebih cepat menularkan penyakit. Namun, suhu yang terus meningkat tidak selalu berakibat pada peningkatan penularan. Berbagai model yang dibahas dalam tinjauan tersebut memperkirakan bahwa penularan malaria paling optimal terjadi pada kisaran suhu 25–28 derajat Celsius, sedangkan untuk dengue pada kisaran 26–29 derajat Celsius. Meskipun demikian, kisaran ini tidak bersifat universal dan dipengaruhi oleh jenis nyamuk serta kondisi lingkungan setempat. Suhu yang terlalu tinggi juga dapat mengurangi kelangsungan hidup nyamuk.
Tren Penyebaran Penyakit
Pola curah hujan juga memiliki dampak yang bervariasi. Air dapat menyediakan tempat bagi nyamuk untuk bertelur dan larva untuk berkembang, tetapi hujan yang sangat deras dapat menghanyutkan telur atau larva. Di sisi lain, saat terjadi kekeringan, beberapa orang menyimpan air dalam wadah terbuka, yang dapat menjadi lokasi perkembangbiakan nyamuk dengue. Dalam beberapa dekade terakhir, kasus dengue meningkat, sedangkan malaria menunjukkan penurunan jangka panjang. Salah satu penjelasan yang diungkapkan oleh para peneliti adalah adanya faktor lain di luar iklim. Pengendalian nyamuk dan pengobatan malaria telah berkontribusi dalam menekan penularan malaria. Namun, urbanisasi menciptakan banyak wadah buatan yang menjadi tempat berkembang biak bagi Aedes aegypti, yang banyak ditemukan di daerah perkotaan. Perpindahan manusia, pertumbuhan populasi, dan perubahan penggunaan lahan juga berpengaruh terhadap penyebaran penyakit.
Walaupun angka malaria menurun dalam jangka panjang, bukan berarti risikonya hilang. Laporan menunjukkan bahwa insiden malaria global meningkat sebesar 8,5 persen dalam satu dekade terakhir. Perbedaan antara tren jangka panjang dan kenaikan dalam periode terbaru menunjukkan bahwa pola penyakit dapat berubah seiring interaksi antara iklim, lingkungan, perilaku manusia, dan program pengendalian.
Pencegahan terhadap tempat berkembang biaknya nyamuk tetap menjadi hal yang sangat penting. Membuang benda-benda yang dapat menampung air, serta menutup, mengosongkan, dan membersihkan wadah penampungan air secara rutin adalah langkah-langkah yang perlu dilakukan. Selain itu, perlindungan dari gigitan nyamuk juga dapat mengurangi paparan. Vaksinasi dapat menjadi bagian dari strategi pencegahan di kelompok dan wilayah yang sesuai dengan rekomendasi kesehatan, tetapi tidak dapat menggantikan pengendalian nyamuk.
Salah satu pendekatan yang sedang diteliti di Indonesia adalah penggunaan nyamuk Aedes aegypti yang terinfeksi bakteri Wolbachia. Bakteri ini dapat mengurangi kemampuan nyamuk dalam menularkan virus dengue. Dalam uji acak yang dilakukan di Yogyakarta, pendekatan ini dikaitkan dengan penurunan 77,1 persen kasus dengue terkonfirmasi secara virologis dan penurunan 86,2 persen rawat inap akibat dengue pada kelompok intervensi. Para peneliti menyimpulkan bahwa respons terhadap penyakit ini perlu mencakup faktor yang lebih luas, termasuk pengendalian vektor, penggunaan vaksin, dan pengurangan emisi gas rumah kaca untuk membatasi pemanasan global. Masyarakat juga diimbau untuk melakukan langkah-langkah sehari-hari seperti mengelola wadah air dan melindungi diri dari gigitan nyamuk. Namun, pencegahan penyakit yang dipengaruhi iklim juga memerlukan pengawasan dan program kesehatan masyarakat yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah.