Polusi udara tidak menyebabkan flu, tetapi dapat meningkatkan kerentanan saluran napas terhadap infeksi. Sebuah meta-analisis menunjukkan bahwa peningkatan partikel halus PM2.5 berkaitan dengan sedikit peningkatan risiko terjadinya influenza, meskipun hasil penelitian bervariasi. Saat kualitas udara menurun, disarankan untuk mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan dan menggunakan respirator yang terpasang dengan baik jika diperlukan.
Gejala seperti batuk, tenggorokan terasa tidak nyaman, dan kesulitan bernapas dapat muncul ketika seseorang terjangkit flu atau menghirup udara yang tercemar. Keduanya dapat terjadi bersamaan, terutama saat kualitas udara sedang buruk. Virus influenza adalah penyebab utama flu, yang dapat menular dari satu orang ke orang lain. Meskipun polusi udara tidak secara langsung memicu influenza, ia dapat memengaruhi kondisi saluran napas serta respons tubuh terhadap infeksi.
Risiko Kesehatan Akibat Polusi Udara
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengidentifikasi polusi udara sebagai salah satu faktor penting yang berkontribusi terhadap penyakit pernapasan. Polusi dapat mengganggu pertahanan alami saluran napas, dan PM2.5 dikaitkan dengan peningkatan risiko influenza. Selain itu, polusi dapat menambah beban pada pasien yang sudah terinfeksi flu. Gejala flu dan dampak polusi udara bisa saling menyerupai, dan kelompok yang paling rentan adalah anak-anak, lansia, serta individu dengan penyakit kronis.
Saluran napas memiliki beberapa lapisan perlindungan, seperti lendir, silia, dan sel-sel imun yang berfungsi menangkap serta membersihkan partikel dan mikroba. Namun, partikel polusi, khususnya PM2.5, berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Paparan ini dapat menyebabkan peradangan dan stres oksidatif, yang mengganggu fungsi pelapis saluran napas dan pertahanan imun lokal.
Panduan Menghadapi Kualitas Udara Buruk
Pemaparan polusi dapat mengganggu penghalang alami saluran napas dan mengubah respons sel paru terhadap patogen. Hal ini berpotensi membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi atau mengalami peradangan yang lebih parah ketika virus masuk. PM2.5 adalah partikel berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil, yang berasal dari asap kendaraan, pembakaran, aktivitas industri, kebakaran hutan, dan asap rokok.
Menurut analisis yang meninjau 16 penelitian mengenai hubungan antara PM2.5 dan influenza, setiap peningkatan harian PM2.5 sebesar 10 mikrogram per meter kubik berhubungan dengan peningkatan risiko influenza sekitar 1,5 persen. Ketika seseorang terinfeksi flu, saluran napas dan paru-paru dapat mengalami peradangan. Jika pada saat bersamaan orang tersebut menghirup udara dengan kadar polusi tinggi, iritasi pada saluran napas dapat semakin meningkat.
Penelitian yang dilakukan selama sembilan tahun di Luoyang, China, menunjukkan bahwa paparan jangka pendek terhadap PM2.5, PM10, ozon, sulfur dioksida, dan karbon monoksida berkaitan dengan peningkatan risiko rawat inap akibat influenza A(H1N1). Meskipun penelitian ini bersifat observasional dan tidak dapat membuktikan bahwa polusi adalah satu-satunya penyebab rawat inap, hasilnya mendukung dugaan bahwa kualitas udara dapat memengaruhi beban penyakit influenza.
Influenza biasanya ditandai dengan demam mendadak, batuk, sakit kepala, nyeri otot, sakit tenggorokan, pilek, dan kelelahan. Di sisi lain, polusi udara dapat memicu batuk, iritasi tenggorokan, sesak napas, atau memperburuk kondisi asma dan penyakit paru lainnya. Karena gejalanya bisa tumpang tindih, diagnosis yang akurat memerlukan pemeriksaan medis atau laboratorium, terutama jika gejalanya berat atau menetap.
Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta individu dengan asma, penyakit paru, penyakit jantung, diabetes, atau daya tahan tubuh rendah lebih rentan terhadap dampak flu dan polusi udara. Pada kelompok ini, infeksi influenza dapat berkembang menjadi komplikasi seperti pneumonia atau memperburuk kondisi yang sudah ada. Paparan polusi juga dapat mempersempit saluran napas dan memicu gejala pernapasan lebih mudah muncul.
Ketika kualitas udara memburuk, beberapa langkah dapat diambil untuk mengurangi paparan. Menggunakan respirator yang menutup hidung dan mulut dengan rapat dapat membantu menyaring partikel seperti PM2.5, asap, dan abu. Namun, penggunaannya harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan, terutama bagi mereka yang memiliki penyakit jantung atau paru-paru.
Jika terinfeksi flu, penting untuk menggunakan masker saat berada di dekat orang lain, menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin, serta beristirahat di rumah selama masa penularan. Polusi udara tidak menyebabkan flu secara langsung, tetapi dapat melemahkan pertahanan saluran napas dan memperburuk dampak infeksi influenza. Oleh karena itu, polusi bukanlah satu-satunya penyebab seseorang mengalami flu yang lebih parah.
Untuk mengurangi risiko, penting untuk membatasi paparan polusi, menjaga kualitas udara dalam ruangan, menerapkan etika batuk, dan segera mencari pertolongan medis jika gejala memburuk atau terjadi pada kelompok yang rentan.