Fakta Kesehatan

Dampak Toksik Asap Kebakaran Hutan Terhadap Kesehatan Anak

Asap yang dihasilkan dari kebakaran hutan mengandung polutan yang berbahaya bagi kesehatan, terutama anak-anak yang lebih rentan terhadap dampaknya. Penelitian menunjukkan bahwa partikel halus dari as...

F
Fidzu Ardaf
17 October 2026
14 pembaca
Kondisi kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kota Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)
Kondisi kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kota Palembang (IDN Times/Rangga Erfizal)

Asap yang terlihat seperti kabut dapat membawa berbagai polutan dari lokasi kebakaran. Di dalam asap tersebut terdapat partikel halus seperti PM2.5, serta gas dan senyawa kimia yang jenis dan kadarnya tergantung pada material yang terbakar dan kondisi kebakaran. PM2.5, yang berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil, dapat masuk jauh ke dalam paru-paru.

Menurut dr. Fifi Sofiah, Sp.A, Subsp.Respi(K) dari Unit Kerja Koordinasi Respirologi IDAI, PM2.5 yang dihasilkan dari kebakaran hutan memiliki komposisi kimia yang berbeda dibandingkan dengan partikel dari sumber lain. Partikel dan senyawa kimia dalam asap ini dapat menyebabkan stres oksidatif serta peradangan pada saluran napas. Hal ini disampaikan dalam seminar media IDAI yang berlangsung secara daring pada hari Jumat, 16 Oktober.

Dampak Kesehatan yang Signifikan

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa PM2.5 dari asap kebakaran memiliki dampak yang lebih besar terhadap saluran pernapasan dibandingkan dengan PM2.5 dari sumber lain. Sebuah studi yang dilakukan di San Diego, California, Amerika Serikat, menemukan bahwa setiap peningkatan 10 mikrogram per meter kubik PM2.5 yang terkait dengan kebakaran berhubungan dengan peningkatan 30 persen kunjungan anak ke layanan gawat darurat dan perawatan mendesak akibat gangguan pernapasan. Sebaliknya, untuk PM2.5 dari sumber nonkebakaran, kenaikannya hanya 3,7 persen. Penelitian tersebut memperkirakan bahwa dampak PM2.5 dari kebakaran terhadap kesehatan pernapasan anak sekitar sepuluh kali lebih besar.

Penelitian lintas negara yang akan diterbitkan pada tahun 2025 juga menemukan bahwa paparan partikel dari kebakaran lahan berhubungan dengan peningkatan rawat inap anak dan remaja akibat masalah pernapasan. Dalam analisis yang melibatkan 1.012 komunitas di tujuh negara, kenaikan 10 mikrogram per meter kubik partikel tersebut terkait dengan peningkatan risiko rawat inap pernapasan sebesar 1,9 persen, dengan anak-anak berusia 5–9 tahun menjadi kelompok yang paling terpengaruh.

Kerentanan Anak dan Faktor Lingkungan

Kerentanan anak terhadap polusi udara berkaitan dengan pertumbuhan fisik mereka. “Anak-anak memiliki tubuh yang kecil, tetapi mereka bukan miniatur orang dewasa,” ungkap dr. Dimas Dwi Saputro, Sp.A, Subsp.Respi(K) dari Satgas Penanggulangan Bencana IDAI. Paparan polutan dapat memperburuk kondisi asma atau infeksi saluran napas yang sudah ada sebelumnya. Dokter Dimas juga menekankan bahwa paparan jangka panjang dapat mengubah struktur saluran napas anak.

Dalam pemaparannya, dr. Fifi menambahkan, “Kondisi ini diperparah dengan adanya fenomena El Niño dan kekeringan yang meluas.” El Niño dapat mengurangi curah hujan di beberapa wilayah Indonesia, sehingga lahan menjadi lebih kering dan meningkatkan risiko kebakaran yang lebih besar atau berlangsung lebih lama. Sebuah studi pemodelan iklim yang dilakukan pada tahun 2026 mengenai Kalimantan, Indonesia, memperkirakan bahwa El Niño meningkatkan risiko kebakaran besar, setara atau lebih parah dari kebakaran yang terjadi pada tahun 1997 dan 2015, dengan faktor 2,7. Namun, kebakaran besar tetap mungkin terjadi pada fase iklim lainnya.

El Niño bukan satu-satunya penyebab dan tidak secara otomatis membuat asap menjadi lebih toksik. Dampak utama dari fenomena ini adalah kondisi kering yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kebakaran dan memperpanjang paparan asap. Pembukaan lahan dan deforestasi juga menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan.

Bagi anak-anak, paparan asap bukan hanya menyebabkan batuk atau mata perih pada hari itu saja. Asap dapat mengganggu saluran napas yang masih dalam proses perkembangan, sementara kebakaran hutan yang berkepanjangan memperpanjang waktu mereka terpapar udara beracun.

Artikel Terkait