Fakta Ekonomi

Danantara Lakukan Likuidasi dan Restrukturisasi Besar-Besaran BUMN

Danantara mengumumkan langkah likuidasi 750 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan restrukturisasi sektor-sektor strategis demi efisiensi. Proses ini dipimpin langsung oleh COO Danantara, Dony Oskaria, t...

F
Fidzu Ardaf
26 October 2026
16 pembaca
Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria. [Suara.com/Achmad Fauzi].
Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria. [Suara.com/Achmad Fauzi].

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) melaksanakan program restrukturisasi besar-besaran terhadap ekosistem Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Proses ini dipimpin oleh Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, yang berlangsung di Jakarta pada Senin (26/10/2026) tanpa bantuan konsultan eksternal.

Dalam acara Danantara Technology Innovation Investment Forum 2026, Dony mengungkapkan bahwa perombakan dilakukan secara intensif dengan pengawasan operasional harian. "Saya memimpin langsung proses transformasi ini sendiri setiap hari. Kami tidak menggunakan konsultan. Setidaknya saya memimpin 12 rapat setiap harinya hanya untuk mengawal proses ini satu per satu," jelas Dony.

Penutupan Perusahaan Merugi dan Divestasi Aset Non-Inti

Dari total 1.074 entitas BUMN, Danantara telah menutup 364 perusahaan kecil yang terus mengalami kerugian selama 18 bulan terakhir. Target penutupan dan likuidasi ditetapkan mencapai 750 perusahaan hingga akhir tahun 2026, termasuk 50 anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk dan 124 entitas di bawah PT Pertamina (Persero).

Selain penutupan, Danantara juga melakukan divestasi terhadap 208 perusahaan non-inti, terutama anak usaha BUMN Konstruksi (Karya) yang memiliki aset di luar bisnis utama, seperti pengelolaan hotel dan jaringan serat optik.

Restrukturisasi Keuangan dan Konsolidasi Sektor Strategis

Danantara menerapkan penataan struktur keuangan yang ketat terhadap 15 korporasi pelat merah yang menghadapi tekanan bisnis signifikan, di antaranya PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, PT Kimia Farma Tbk, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, dan PT PP (Persero) Tbk.

Dalam proses konsolidasi yang melibatkan sekitar 200 entitas, beberapa penggabungan usaha telah berhasil dilakukan. Di sektor logistik, tujuh perusahaan freight-forwarding digabungkan ke dalam PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo). Di sektor kesehatan, 60 rumah sakit BUMN disatukan dalam jaringan Indonesia Healthcare Corporation (IHC). Di sektor pariwisata, 72 aset hotel BUMN dikonsolidasikan di bawah Injourney Hospitality (HIN). Selain itu, lima entitas manajemen investasi (Mandiri, BNI, BRI, dan PNM) digabung menjadi pengelola aset terpadu dengan total dana kelolaan mencapai Rp190 triliun. Di kawasan industri, 23 entitas pengelola kawasan industri diintegrasikan menjadi satu pengelola tunggal dengan lahan seluas 16.000 hektare.

Langkah perampingan selanjutnya akan menyasar sektor jasa keuangan, dengan rencana untuk mengurangi 16 perusahaan asuransi BUMN menjadi tiga entitas utama yang fokus pada asuransi jiwa, umum, dan kredit. Sementara itu, entitas sekuritas milik negara akan dirampingkan menjadi dua perusahaan saja.

suara.com Sumber: suara.com

Artikel Terkait