Tuesday, 05 May 2026
Fakta Politik

DPR Menolak Usulan 'War Ticket' Haji: Implikasi bagi Lansia yang Tak Terampil Teknologi

Usulan mengenai penerapan sistem 'War Ticket' untuk ibadah haji ditolak oleh DPR, menyisakan kekhawatiran bagi lansia yang tidak akrab dengan teknologi.

A
Amara Rukmana
11 April 2026 17 pembaca
DPR Menolak Usulan 'War Ticket' Haji: Implikasi bagi Lansia yang Tak Terampil Teknologi

Usulan penerapan sistem 'War Ticket' untuk pengaturan ibadah haji mendapat penolakan dari Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Penolakan ini muncul di tengah kekhawatiran akan dampaknya terhadap calon jamaah haji, terutama bagi mereka yang berusia lanjut dan kurang memahami teknologi. Sistem yang dianggap dapat mengatur proses pendaftaran dan pemesanan tiket haji ini kini terancam tidak dapat direalisasikan.

Berdasarkan informasi, sistem 'War Ticket' dirancang untuk mempermudah pendaftaran haji dengan menggunakan platform digital, yang diharapkan dapat mengurangi antrean dan meningkatkan efisiensi. Namun, ketua Komisi VIII DPR, Yandri Susanto, menegaskan bahwa banyak masyarakat, khususnya lansia, yang tidak memiliki akses atau keterampilan dalam menggunakan teknologi modern. "Kami khawatir jika sistem ini diterapkan, banyak kakek-nenek yang akan kesulitan," ujar Yandri dalam rapat dengan para anggota dewan.

Penolakan ini juga mencerminkan kekhawatiran akan ketidakmerataan akses terhadap teknologi di Indonesia. Dalam banyak kasus, calon jamaah haji yang lebih tua sering kali mengandalkan anggota keluarga yang lebih muda untuk membantu mereka dalam urusan administrasi. Hal ini dapat menciptakan kesulitan dan kebingungan saat mendaftar, terutama jika menggunakan sistem yang tidak familiar bagi mereka.

Berdasarkan data yang ada, lebih dari 70% jamaah haji Indonesia adalah lansia. Hal ini menunjukkan bahwa banyak dari mereka mungkin akan kesulitan beradaptasi dengan sistem yang sepenuhnya berbasis digital. Seorang calon jamaah haji bernama Bapak Ahmad (65) mengungkapkan, "Saya tidak mengerti bagaimana cara menggunakan aplikasi untuk mendaftar haji. Saya hanya berharap bisa mendapatkan tiket dengan cara yang mudah." Pernyataan ini menggambarkan tantangan nyata yang dihadapi oleh calon jamaah yang berasal dari generasi yang tidak mengenal teknologi.

Penolakan DPR terhadap sistem ini menunjukkan pentingnya pendekatan yang lebih inklusif dalam pengelolaan ibadah haji. Banyak pihak yang mendukung adanya sistem yang lebih ramah bagi semua kalangan, terutama bagi mereka yang tidak terlatih dengan penggunaan alat digital. "Kita perlu mempertimbangkan cara lain yang lebih sederhana dan mudah diakses oleh semua orang," tambah Yandri dalam pernyataannya.

Kedepannya, langkah yang diambil oleh pemerintah dan DPR dalam perencanaan haji diharapkan dapat mempertimbangkan segala aspek, termasuk kebutuhan khusus dari para jamaah lansia. Keterlibatan masyarakat dalam pembahasan kebijakan juga akan sangat penting untuk memastikan bahwa semua pihak dapat mengikuti perkembangan zaman tanpa tertinggal. Rencana untuk menggantikan atau memperbaiki sistem yang ada menjadi perhatian utama agar kebutuhan jamaah haji dapat terpenuhi dengan baik dan merata.

Tidak ada tag untuk artikel ini

// Artikel Terkait