Fakta Politik

DPR Menyoroti Kunjungan Wisatawan Asing ke Indonesia yang Masih Rendah

Anggota DPR Yoyok Riyo Sudibyo mengungkapkan kritik terhadap Menteri Pariwisata terkait posisi Indonesia yang berada di urutan kelima dalam kunjungan wisatawan mancanegara di ASEAN, yang dianggapnya t...

P
Panca Akbar Saputra
17 June 2026
38 pembaca
Anggota Komisi VII DPR Yoyok Riyo Sudibyo mengkritik Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana soal kunjungan wisatawan mancanegara. Foto: ANTARA FOTO/AHMAD SUBAIDI
Anggota Komisi VII DPR Yoyok Riyo Sudibyo mengkritik Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana soal kunjungan wisatawan mancanegara. Foto: ANTARA FOTO/AHMAD SUBAIDI

Jakarta, CNN Indonesia -- Yoyok Riyo Sudibyo, anggota Komisi VII DPR, menyampaikan kritik kepada Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, mengenai rendahnya angka kunjungan wisatawan asing ke Indonesia. Dalam rapat kerja yang berlangsung di DPR pada Rabu (17/6), Yoyok mengungkapkan bahwa saat ini Indonesia berada di urutan kelima di ASEAN dalam hal kunjungan turis mancanegara, yang ia anggap sebagai posisi yang sangat tidak memuaskan.

"Kunjungan wisman (wisatawan mancanegara) yang ke Indonesia di negara ASEAN saja kita nomor 5. Nomor 5 paling buncit itu," kata Yoyok. Ia menekankan bahwa Indonesia memiliki potensi wisata yang sangat besar dan diakui secara internasional, seperti Labuan Bajo, Raja Ampat, Borobudur, Bali, dan Lombok.

Usulan Perbaikan untuk Meningkatkan Kunjungan Wisatawan

Yoyok meminta agar Menteri Pariwisata segera mengambil langkah untuk memperbaiki situasi ini, termasuk memberikan beberapa masukan. Salah satu masalah yang diangkatnya adalah tingginya harga tiket pesawat. "Ini contoh, bagaimana dari Singapura ke Bangkok itu jauh lebih murah daripada Jakarta ke Raja Ampat. Kemudian ditambah lagi dari bandara ke objek wisata masih perjalanannya jauh banget," ujarnya.

Ia juga menyarankan agar Kemenpar berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menurunkan harga avtur guna meningkatkan jumlah wisatawan. Yoyok mengkritik pernyataan Widiyanti yang menyatakan kebanggaannya terhadap potensi pariwisata Indonesia yang berada di urutan kedua setelah Malaysia. Menurutnya, pariwisata di Indonesia masih sangat bergantung pada wisatawan lokal. "Itu sama juga itu duitnya rakyat juga, dari saku atas hanya pindah ke saku bawah," ungkapnya.

Pentingnya Memperlonggar Visa untuk Wisatawan Asing

Yoyok juga menekankan perlunya pelonggaran visa bagi wisatawan dari India, China, dan Timur Tengah. Ia membandingkan dengan kebijakan visa yang lebih fleksibel di Malaysia dan Thailand. "Malaysia dan Thailand ini visanya longgar banget, akan open visa bagi China dan India. Kemudian saya sarankan ke njenengan, nggak pakai biaya nih, harus koordinasi dengan Imigrasi gimana caranya visa untuk India, China, dan Timur Tengah, coba diperlonggar, ini kan untuk devisa, kenapa tetangga bisa kita nggak bisa? Kalau bisa, ini dilakukan," tambahnya.

Sementara itu, Widiyanti dalam keterangan tertulisnya menegaskan bahwa pembangunan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan tetap menjadi prioritas Kemenpar untuk meningkatkan kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian nasional. "Kami berkomitmen untuk terus mengoptimalkan seluruh sumber daya yang ada agar pariwisata dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian nasional, penciptaan lapangan kerja, peningkatan devisa, serta kesejahteraan masyarakat," kata Widiyanti.

Sejumlah target yang telah ditetapkan mencakup kunjungan wisatawan mancanegara sebanyak 17,6-19,1 juta kunjungan, yang diharapkan meningkat sekitar 8,5-10 persen. Pengeluaran rata-rata wisatawan mancanegara ditargetkan mencapai 1.447-1.497 dolar AS, dengan peningkatan sekitar 5,5-6,6 persen. Diharapkan, peningkatan aktivitas wisatawan mancanegara ini dapat berkontribusi terhadap devisa pariwisata sebesar 25,5-28,6 miliar dolar AS, tumbuh sekitar 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Artikel Terkait