Sejarah penanganan kanker telah tercatat sejak zaman Mesir kuno, meskipun pengetahuan serta alat pengobatan pada masa itu masih sangat terbatas. Dengan kemajuan dalam bidang operasi, radioterapi, kemoterapi, dan terapi hormon, pilihan pengobatan kanker kini semakin beragam. Saat ini, dokter dapat mempertimbangkan karakteristik biologis dan genetik tumor untuk menentukan terapi yang tepat, meskipun tidak semua metode cocok untuk setiap pasien.
Sebelum adanya kemoterapi dan terapi presisi, berbagai upaya untuk mengatasi kanker telah dilakukan, mulai dari penggunaan alat sederhana, obat oles, hingga pembakaran jaringan. Catatan medis dari Mesir kuno bahkan mencatat adanya gambaran tumor payudara yang dianggap tidak dapat diobati. Sejak saat itu, pemahaman mengenai kanker dan cara penanganannya terus berkembang melalui berbagai penemuan dan eksperimen yang hasilnya tidak selalu berhasil. Berikut adalah beberapa tonggak penting yang telah mengubah pengobatan kanker dari masa ke masa:
Perkembangan Awal Pengobatan Kanker
1. Mesir dan Yunani kuno: tumor dioles, dipotong, atau dibakar.
2. Abad ke-19: operasi menjadi semakin meluas.
3. Akhir abad ke-19: penggunaan radiasi mulai diperkenalkan.
4. 1940-an hingga 1950-an: obat kanker mulai menunjukkan hasil yang signifikan.
5. Terapi hormon dan pilihan operasi yang lebih terarah.
6. 1990-an hingga 2000-an: obat mulai menargetkan perubahan spesifik pada tumor.
7. 2010-an hingga saat ini: sistem imun dan karakter genetik turut mempengaruhi terapi.
Papirus Edwin Smith, salah satu catatan medis tertua, menggambarkan benjolan payudara sebagai penyakit serius yang belum memiliki pengobatan. Pada masa itu, beberapa metode penanganan dilakukan dengan pisau, bahan oles, atau kauterisasi. Para tabib Yunani kuno juga melakukan kauterisasi dan berusaha mengangkat tumor yang terlihat di permukaan tubuh. Pemahaman mengenai penyebab kanker pada waktu itu masih sangat keliru. Galen, seorang tabib Yunani yang pemikirannya berpengaruh selama berabad-abad, mengaitkan kanker dengan akumulasi “empedu hitam” dalam tubuh. Tanpa adanya pemeriksaan modern, anestesi, antibiotik, dan pemahaman tentang penyebaran tumor, tindakan operasi pun menjadi sangat berisiko dan hasilnya sulit dipastikan.
Perkembangan Metode Operasi dan Pengobatan
Pada tahun 1882, dokter bedah William Halsted melakukan mastektomi radikal untuk mengatasi kanker payudara. Operasi ini mengangkat payudara beserta jaringan di sekitarnya dan menjadi prosedur umum selama beberapa dekade. Paradigma saat itu adalah mengangkat jaringan seluas mungkin untuk mengendalikan kanker. Namun, seiring berjalannya waktu, penelitian menunjukkan bahwa operasi yang lebih luas tidak selalu diperlukan untuk setiap pasien. Pada tahun 1985, hasil uji klinis menunjukkan bahwa untuk kanker payudara stadium awal, operasi yang mempertahankan payudara diikuti dengan radioterapi dapat memberikan angka kesintasan yang setara dengan mastektomi.
Penemuan sinar-X oleh Wilhelm Röntgen pada tahun 1895 membuka jalan bagi penggunaan radiasi dalam pengobatan kanker. Beberapa tahun kemudian, dokter mulai melaporkan keberhasilan terapi sinar-X dalam menangani kanker kulit. Radiasi dosis tinggi dapat merusak DNA sel kanker, sehingga sel tersebut berhenti membelah atau mati. Radioterapi kini menjadi salah satu metode untuk menargetkan kanker di bagian tubuh tertentu, dan dapat digunakan sendiri atau dikombinasikan dengan operasi dan pengobatan lainnya, tergantung pada jenis, ukuran, lokasi kanker, serta kondisi pasien.
Sebelum tahun 1950-an, pengobatan kanker lebih banyak bergantung pada operasi atau radiasi. Namun, obat-obatan yang bekerja pada sel yang membelah cepat mulai diuji coba. Pada tahun 1947, Sidney Farber melaporkan bahwa aminopterin dapat membawa anak-anak dengan leukemia akut ke dalam remisi sementara. Remisi berarti tanda atau gejala kanker berkurang atau tidak terdeteksi untuk sementara waktu, tetapi tidak selalu berarti kanker sembuh.
Tonggak penting lainnya terjadi pada tahun 1953, ketika Methotrexate digunakan untuk menyembuhkan koriokarsinoma, kanker langka pada jaringan reproduksi. Pada tahun 1958, kombinasi lebih dari satu obat kemoterapi terbukti dapat menghasilkan remisi dan memperpanjang hidup sebagian pasien leukemia. Temuan ini menunjukkan bahwa obat kanker dapat bekerja lebih efektif ketika digunakan dalam kombinasi tertentu, bukan hanya sebagai obat tunggal.
Pada tahun 1941, Charles Huggins menunjukkan bahwa penurunan kadar hormon testosteron dapat mengecilkan sebagian tumor prostat. Beberapa dekade kemudian, obat seperti tamoxifen dikembangkan untuk mengatasi kanker payudara yang pertumbuhannya dipengaruhi oleh hormon. Namun, terapi hormon tidak cocok untuk semua jenis kanker; manfaatnya tergantung pada apakah tumor menggunakan hormon tertentu untuk tumbuh. Sementara itu, pendekatan operasi juga mengalami perubahan. Modifikasi mastektomi radikal pada tahun 1932 mengangkat jaringan lebih sedikit dibandingkan prosedur Halsted. Penelitian tentang operasi konservasi payudara memberikan pilihan lain bagi pasien yang memenuhi kriteria medis.
Perubahan-perubahan tersebut menunjukkan bahwa pengobatan kanker berangsur-angsur beralih dari pendekatan seragam menuju pilihan yang mempertimbangkan karakter kanker dan kebutuhan masing-masing pasien. Dengan semakin dalamnya pemahaman ilmuwan mengenai gen dan protein yang mendukung pertumbuhan kanker, obat-obatan yang dirancang untuk menghambat sasaran tertentu mulai bermunculan. Salah satu contohnya adalah imatinib, yang dikembangkan untuk menargetkan protein abnormal terkait kromosom Philadelphia pada leukemia mieloid kronis. Hasil uji klinis pada tahun 2001 menunjukkan bahwa obat ini efektif untuk penyakit tersebut.
Trastuzumab, yang disetujui untuk kanker payudara HER2-positif pada tahun 1998, merupakan contoh lain dari terapi yang menargetkan protein HER2 yang berlebih pada sebagian tumor payudara. Terapi bertarget dapat membantu ketika tumor memiliki sasaran yang sesuai, tetapi tidak semua kanker memiliki sasaran yang sama atau merespons obat dengan cara yang serupa. Imunoterapi berupaya membantu sistem kekebalan tubuh mengenali atau menyerang sel kanker. Pada tahun 2011, obat ipilimumab disetujui untuk sebagian pasien melanoma. Pada tahun 2017, terapi CAR T pertama disetujui untuk jenis leukemia tertentu pada anak-anak dan dewasa muda. Dalam terapi CAR T, sel kekebalan pasien diambil, dimodifikasi di laboratorium agar dapat mengenali sasaran pada sel kanker, lalu dimasukkan kembali ke dalam tubuh. Terapi ini dapat membantu beberapa pasien, meskipun penggunaannya terbatas pada kondisi tertentu.
Pada tahun yang sama, pembrolizumab menjadi obat pertama yang disetujui di Amerika Serikat untuk kanker berdasarkan karakter genetik tertentu pada tumor, bukan hanya lokasi asal kanker. Pemeriksaan biomarker—penanda biologis seperti perubahan gen atau protein—dapat membantu dokter menilai apakah terapi tertentu mungkin bermanfaat. Namun, hasil pemeriksaan tetap harus dipertimbangkan bersama dengan jenis kanker, stadium, kondisi kesehatan, dan pilihan pengobatan lainnya.
Perjalanan panjang dalam pengobatan kanker ini tidak berarti satu terapi telah menggantikan semua terapi sebelumnya. Operasi, radioterapi, kemoterapi, terapi hormon, terapi bertarget, dan imunoterapi masih digunakan hingga saat ini. Banyak pasien menerima kombinasi dari beberapa metode, dengan rencana yang disusun berdasarkan jenis dan stadium kanker serta kondisi masing-masing pasien. Kemajuan dalam pengobatan kanker merupakan hasil dari catatan kasus, penelitian dasar, uji klinis, dan pengalaman pasien selama berabad-abad. Pilihan terapi kini jauh lebih beragam, tetapi pengobatan yang terbaik tetap perlu direncanakan bersama tim medis.