Fakta Kesehatan

Fondasi Kesehatan dan Stimulasi untuk Pertumbuhan Anak yang Optimal

Pertumbuhan anak tidak hanya dinilai dari aspek akademis, tetapi juga dari kemampuan emosional dan sosial. Stimulasi yang tepat dan nutrisi seimbang menjadi kunci dalam mendukung perkembangan mereka.

F
Fidzu Ardaf
09 October 2026
31 pembaca
Diskusi Media “Pencernaan Sehat, Kecerdasan Anak Optimal” pada Kamis (8/10) di Jakarta. (IDN Times/NRF)
Diskusi Media “Pencernaan Sehat, Kecerdasan Anak Optimal” pada Kamis (8/10) di Jakarta. (IDN Times/NRF)

Perkembangan anak tidak hanya diukur dari nilai akademis atau IQ, tetapi juga dari kemampuan mereka dalam mengenali emosi, berempati, berkomunikasi, dan beradaptasi. Orang tua disarankan untuk memberikan stimulasi yang responsif melalui interaksi sehari-hari, seperti membantu anak menamai emosi, bermain, membaca bersama, bergantian, dan menyelesaikan masalah sesuai dengan usia mereka.

Nutrisi yang seimbang dan kesehatan pencernaan juga berperan penting dalam perkembangan anak melalui hubungan antara otak dan saluran pencernaan. Asupan serat dan prebiotik yang berasal dari buah-buahan, sayuran, susu, kacang-kacangan, dan umbi-umbian sangat dianjurkan untuk mendukung pertumbuhan mereka.

Ketika seorang anak mulai mengungkapkan rasa kecewa atau belajar untuk menunggu giliran saat bermain, mereka sebenarnya sedang mengembangkan kemampuan yang tidak selalu terlihat dalam laporan akademis. Proses ini mencakup pengenalan emosi, kemampuan berkomunikasi, dan pemahaman terhadap orang lain. Hal ini menjadi salah satu poin penting dalam diskusi media bertajuk “Pencernaan Sehat, Kecerdasan Anak Optimal” yang berlangsung di Jakarta pada Kamis (8/10).

Pentingnya Stimulasi dan Pengasuhan

Dalam diskusi tersebut, Ratih Ibrahim, M.M., seorang psikolog, dan Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, Executive Director Indonesia Health Development Center (IHDC), membahas tentang peran stimulasi, pengasuhan, nutrisi, dan kesehatan pencernaan dalam mendukung tumbuh kembang anak. Mereka menyampaikan lima hal yang dapat dilakukan oleh keluarga dalam kehidupan sehari-hari:

  1. Lihat perkembangan anak secara lebih luas dari sekadar skor IQ.
  2. Masa awal perkembangan sangat penting, tetapi bukan merupakan batasan untuk belajar.
  3. Bantu anak memahami perasaannya melalui momen sehari-hari.
  4. Berikan ruang bagi anak untuk bermain, membaca, dan berinteraksi.
  5. Dukung nutrisi dan kesehatan pencernaan sebagai bagian dari tumbuh kembang.

Skor akademis dan IQ tidak mencerminkan semua kemampuan anak. Mereka juga perlu belajar untuk mengenali perasaan, berempati, berkomunikasi, beradaptasi, dan membangun hubungan sosial. Ratih menjelaskan bahwa perkembangan kemampuan ini dipengaruhi oleh pengalaman dan lingkungan di sekitar anak. Oleh karena itu, orang tua sebaiknya mengamati kemajuan kecil yang terjadi setiap hari, seperti ketika anak mulai mengekspresikan keinginannya dengan kata-kata atau mencoba lagi setelah mengalami kegagalan, tanpa membandingkan dengan anak lain.

Periode Kritis dalam Perkembangan Anak

Ratih juga membedakan antara periode kritis, di mana input tertentu diperlukan untuk mengoptimalkan perkembangan jaringan otak, dan periode sensitif, di mana anak lebih responsif terhadap pengalaman tertentu. Meskipun kemampuan anak masih bisa berkembang setelah periode tersebut, dukungan dan pembelajaran yang tepat sangat diperlukan.

Otak anak sangat aktif dalam membentuk koneksi pada tahun-tahun awal kehidupannya. Namun, koneksi baru juga dapat terbentuk sepanjang hidup mereka. Oleh karena itu, perhatian pada masa awal tetap penting, tetapi bukan berarti kesempatan belajar anak akan tertutup setelah mencapai usia tertentu.

Ketika anak merasa marah atau kecewa, orang tua dapat membantu mereka untuk memberi nama pada perasaan tersebut, misalnya dengan mengatakan, “Kamu kesal karena belum boleh bermain lagi, ya?” Setelah itu, penting untuk menjelaskan batas perilaku dengan tenang, seperti bahwa marah diperbolehkan, tetapi memukul tidak.

Ratih mengingatkan bahwa stimulasi emosional tidak perlu dilakukan melalui aktivitas yang rumit. Ia menyarankan agar orang tua merespons anak dengan tenang, mendengarkan tanpa menghakimi, memberikan contoh cara mengelola emosi, dan mengajak anak bermain atau belajar secara bergantian. Menurutnya, anak belajar melalui hubungan, pengamatan, dan pengalaman bersama orang dewasa.

Bermain pura-pura, membaca buku bersama, atau mengajak anak untuk bercerita tentang perasaan tokoh dalam cerita dapat menjadi kesempatan untuk belajar berkomunikasi dan memahami sudut pandang orang lain. Selain itu, orang tua juga dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk menyelesaikan masalah sesuai dengan usia mereka.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pengasuhan yang responsif serta kegiatan belajar sejak dini sebagai bagian dari dukungan terhadap perkembangan anak. Nutrisi dan kesehatan harus berjalan seiring dengan rasa aman serta interaksi yang mendukung.

Selain stimulasi dan pengasuhan, nutrisi juga memiliki peran yang sangat penting dalam tumbuh kembang anak. Menurut Dr. Ray, kesehatan pencernaan harus diperhatikan karena otak dan saluran cerna terhubung melalui gut-brain axis (GBA), yang berarti kondisi pencernaan dapat memengaruhi fungsi otak, perilaku, dan suasana hati anak.

Ia menjelaskan bahwa saluran cerna merupakan tempat tinggal bagi triliunan mikrobiota yang berperan dalam perkembangan GBA. Oleh karena itu, orang tua perlu mendukung kesehatan pencernaan anak dengan pola makan yang bergizi seimbang. Salah satu nutrisi yang sangat penting adalah prebiotik, yang berfungsi sebagai makanan bagi bakteri baik di usus.

“Untuk menjaga keseimbangan jumlah bakteri baik dalam usus anak, mereka perlu mendapatkan asupan prebiotik yang biasanya banyak terdapat dalam makanan sumber serat seperti buah-buahan, sayuran, susu, kacang-kacangan, serta beberapa jenis sayuran akar seperti umbi-umbian dan wortel. Prebiotik juga dapat diperoleh dari sumber nutrisi lain, seperti susu pertumbuhan untuk anak di atas usia satu tahun yang mengandung prebiotik,” jelas Dr. Ray.

Menurutnya, pola makan yang beragam dan kaya akan serat serta prebiotik harus diimbangi dengan stimulasi dan pengasuhan yang responsif. Dengan dukungan yang tepat selama masa pertumbuhan, anak dapat tumbuh dengan sehat sekaligus mengembangkan potensi terbaiknya.

Artikel Terkait