Fakta Kesehatan

Gerakan Sederhana untuk Mengontrol Gula Darah

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa kontraksi otot soleus dapat membantu mengurangi lonjakan gula darah setelah mengonsumsi glukosa. Gerakan ini mudah dilakukan saat duduk dan tidak menggantikan pengo...

F
Fidzu Ardaf
22 September 2026
39 pembaca
ilustrasi seseorang duduk di kursi dengan kaki menapak lantai (unsplash.com/ mahabis footwear)
ilustrasi seseorang duduk di kursi dengan kaki menapak lantai (unsplash.com/ mahabis footwear)

Penelitian kecil mengungkap bahwa kontraksi pada otot soleus bisa mengurangi peningkatan kadar gula darah setelah konsumsi glukosa. Gerakan tersebut melibatkan pengangkatan tumit saat duduk, sehingga dapat dilakukan dengan mudah saat banyak menghabiskan waktu duduk. Namun, bukti ini belum cukup untuk menjadikannya sebagai terapi diabetes atau pengganti obat serta olahraga rutin.

Bagi individu yang menderita diabetes, menjaga kadar gula darah tetap stabil setelah makan merupakan aspek penting dalam perawatan. Otot berperan dalam proses ini karena glukosa dalam darah bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi oleh jaringan otot. Salah satu otot yang kini mendapatkan perhatian khusus adalah soleus, yang terletak di bagian dalam betis dan memiliki peran penting saat berdiri serta berjalan. Otot ini dirancang untuk berfungsi dalam waktu lama tanpa cepat lelah, sehingga aktif hampir sepanjang waktu saat beraktivitas.

Manfaat Gerakan Soleus Push-Up

Sebuah penelitian mengeksplorasi aktivitas dominan otot soleus yang dilakukan saat duduk. Gerakannya mirip dengan mengangkat tumit berulang kali, sementara bagian depan telapak kaki tetap menempel di lantai. Dalam penelitian tersebut, gerakan ini dikenal dengan istilah soleus push-up. Hasilnya menunjukkan bahwa ketika peserta melakukan kontraksi otot soleus setelah mengonsumsi larutan glukosa, peningkatan kadar gula darah tercatat sekitar 52 persen lebih rendah dibandingkan saat peserta hanya duduk diam. Selain itu, respons insulin berlebihan juga berkurang hingga sekitar 60 persen.

Latihan Soleus sebagai Pelengkap

Secara teori, latihan soleus dapat memberikan beberapa manfaat. Meski demikian, studi utama tersebut melibatkan relawan yang tidak dalam kondisi bugar dan bukan merupakan uji terapi jangka panjang pada pasien diabetes. Peneliti tidak mengukur apakah latihan ini dapat menurunkan kadar HbA1c, mencegah komplikasi, atau menggantikan pengobatan yang sudah ada. Oleh karena itu, latihan soleus sebaiknya dianggap sebagai pelengkap, bukan sebagai terapi diabetes yang telah terbukti efektif.

Gerakan sederhana ini dapat dilakukan dengan posisi duduk tegak. Aktivitas fisik yang teratur, pola makan yang sehat, pengobatan sesuai kebutuhan, serta pemantauan komplikasi merupakan bagian penting dalam penanganan diabetes. Para ahli merekomendasikan minimal 150 menit aktivitas fisik dengan intensitas sedang setiap minggu untuk membantu mencegah atau menunda diabetes tipe 2 dan komplikasinya.

Latihan soleus dapat dilihat sebagai tambahan, terutama saat seseorang sedang duduk bekerja, bepergian, atau beristirahat. Gerakan ini tidak dapat menggantikan manfaat dari latihan aerobik, latihan kekuatan, berjalan, atau rencana perawatan yang telah ditetapkan oleh dokter.

Aktivitas fisik dapat membantu menurunkan kadar gula darah, namun risiko hipoglikemia perlu diperhatikan, terutama bagi mereka yang menggunakan insulin atau obat diabetes tertentu. Penderita diabetes harus mengikuti rencana pemantauan gula darah dari dokter dan tidak mengubah dosis obat tanpa petunjuk.

Orang yang mengalami neuropati diabetes, luka pada kaki, gangguan aliran darah, nyeri, atau masalah keseimbangan sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu sebelum memulai latihan baru. Latihan harus dihentikan jika muncul gejala seperti pusing, gemetar, keringat dingin, nyeri, mati rasa, atau keluhan lain yang tidak biasa.

Kesimpulannya, melatih otot soleus melalui gerakan mengangkat tumit saat duduk memiliki dasar fisiologis dan didukung oleh temuan awal dari studi laboratorium. Manfaat paling mungkin dari latihan ini adalah membantu respons kadar gula darah setelah mengonsumsi glukosa. Namun, bukti pada pasien diabetes dan manfaat jangka panjangnya masih perlu diteliti lebih lanjut.

Artikel Terkait