Sebuah studi yang dilakukan oleh University of Texas at Austin terhadap 69 orang dewasa muda mengungkapkan bahwa frekuensi aktivitas fisik, termasuk sesi olahraga yang berlangsung minimal 10 menit, berkaitan dengan pola tidur yang lebih restoratif. Aktivitas ringan seperti berjalan sebentar atau berdiri setelah duduk dalam waktu lama juga dikaitkan dengan durasi tidur yang lebih panjang, pola tidur yang lebih baik, serta energi yang lebih baik saat bangun tidur.
Temuan ini bersifat korelasional dan bukan menunjukkan hubungan sebab-akibat; angka 10 menit per hari bukanlah angka ideal yang berlaku untuk semua orang dan tidak menggantikan rekomendasi umum untuk melakukan 150 menit aktivitas fisik dengan intensitas sedang setiap minggu. Banyak orang merasa kesulitan untuk menyisipkan olahraga dalam jadwal mereka yang padat, namun bergerak aktif tidak selalu harus dilakukan dalam sesi latihan yang panjang.
Metodologi Penelitian
Dalam penelitian ini, para peneliti melacak aktivitas fisik dan pola tidur peserta selama delapan bulan. Aktivitas fisik yang dilakukan dalam durasi 10 menit dengan intensitas sedang hingga berat muncul sebagai salah satu temuan utama. Rasio antara fase tidur REM dan non-REM tidak secara langsung menunjukkan bahwa tidur lebih nyenyak, tetapi gerakan ringan sepanjang hari juga dapat memberikan dampak positif.
Penelitian ini menganalisis data dari 69 partisipan dengan rata-rata usia 21,5 tahun, sebagian besar adalah perempuan (63 orang). Mereka menggunakan pelacak aktivitas di pergelangan tangan selama dua periode pengumpulan data yang berlangsung total delapan bulan. Selain itu, peserta juga melaporkan kondisi energi, tingkat stres, suasana hati, dan kualitas tidur mereka setiap pagi.
Hubungan Aktivitas Fisik dan Kualitas Tidur
Alih-alih hanya menghitung total waktu olahraga, peneliti fokus pada seberapa sering peserta bergerak dan intensitas aktivitas yang dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami apakah penyebaran aktivitas fisik sepanjang beberapa hari berbeda pengaruhnya terhadap kualitas tidur dibandingkan dengan mengumpulkan aktivitas dalam satu atau dua hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta yang lebih sering melakukan aktivitas fisik setidaknya 10 menit per hari dalam lima hari terakhir cenderung memiliki pola tidur yang lebih dalam. Aktivitas ini termasuk gerakan yang meningkatkan frekuensi napas, seperti berjalan cepat, bersepeda santai, atau naik tangga.
Namun, hasil ini tidak berarti bahwa olahraga selama 10 menit setiap hari secara otomatis menjamin tidur yang lebih nyenyak. Penelitian ini hanya menunjukkan adanya hubungan antara frekuensi aktivitas fisik dan pola tidur, tanpa membuktikan bahwa aktivitas singkat tersebut langsung mempengaruhi kualitas tidur. Tidur terdiri dari fase REM dan non-REM, di mana fase non-REM memiliki beberapa tahap, dan tahap N3 dikenal sebagai fase tidur paling dalam. Oleh karena itu, rasio REM terhadap non-REM yang lebih rendah tidak selalu berarti seseorang menghabiskan lebih banyak waktu dalam tidur terdalam.
Dalam penelitian ini, peneliti hanya mengukur rasio REM dan non-REM pada beberapa jam pertama tidur. Meskipun pola tersebut dianggap berkaitan dengan tidur yang lebih restoratif, hasilnya tidak menunjukkan bahwa durasi tidur terdalam meningkat. Temuan ini tidak dapat diinterpretasikan sebagai bukti bahwa olahraga selama 10 menit setiap hari pasti meningkatkan kualitas tidur.
Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa aktivitas ringan, seperti berjalan sebentar atau berdiri setelah duduk lama, berkaitan dengan beberapa manfaat bagi tidur dan suasana hati. Peserta yang lebih sering melakukan gerakan ringan cenderung memiliki pola tidur yang lebih restoratif dan merasa lebih berenergi saat bangun pagi. Pada hari-hari ketika peserta lebih aktif dengan melakukan aktivitas ringan, mereka cenderung tidur lebih lama. Namun, hasil ini tidak membuktikan bahwa setiap kali seseorang berdiri atau berjalan sebentar, kualitas tidur akan langsung membaik.
Walaupun demikian, temuan ini menunjukkan bahwa aktivitas ringan yang dilakukan sepanjang hari mungkin sama pentingnya untuk diperhatikan seperti sesi olahraga yang terjadwal. Penelitian ini sejalan dengan banyak studi lain yang menunjukkan bahwa aktivitas fisik dapat membantu meningkatkan kualitas tidur. Namun, belum ada bukti bahwa 10 menit olahraga per hari merupakan jumlah ideal untuk semua orang.
Dalam sebuah tinjauan besar yang menggabungkan 81 penelitian dengan lebih dari 6.000 peserta, ditemukan bahwa olahraga secara umum berkaitan dengan kualitas tidur yang lebih baik. Namun, karena jenis dan durasi olahraga yang diteliti bervariasi, para peneliti tidak dapat menyimpulkan bahwa 10 menit per hari adalah durasi yang paling efektif bagi semua orang. Rekomendasi umum bagi orang dewasa adalah melakukan setidaknya 150 menit aktivitas fisik dengan intensitas sedang setiap minggu, atau 75 menit aktivitas berat. Jadi, melakukan 10 menit gerakan setiap hari bisa menjadi langkah awal yang baik, tetapi tidak menggantikan target aktivitas fisik mingguan tersebut. Yang terpenting, sedikit aktivitas tetap lebih baik daripada tidak bergerak sama sekali.
Studi ini menunjukkan bahwa seberapa sering seseorang bergerak mungkin berkaitan dengan pola tidur dan kondisi tubuh keesokan harinya. Namun, karena jumlah peserta yang terbatas dan sebagian besar masih berusia muda, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui apakah hasil yang sama juga berlaku pada kelompok usia dan kondisi kesehatan yang berbeda.