Tuesday, 05 May 2026
Fakta Kesehatan

Hari Buruh 1 Mei 2026: Guru Besar FKUI Ingatkan Bahaya Dehidrasi yang Dapat Memicu Kerusuhan

Hari Buruh yang diperingati setiap 1 Mei diwarnai dengan aksi demonstrasi besar-besaran. Guru Besar FKUI mengingatkan tentang bahaya dehidrasi yang dapat meningkatkan emosi dan berpotensi menyebabkan...

N
Narayana Putra
01 May 2026 11 pembaca
Hari Buruh 1 Mei 2026: Guru Besar FKUI Ingatkan Bahaya Dehidrasi yang Dapat Memicu Kerusuhan

Hari Buruh yang diperingati setiap 1 Mei selalu diwarnai dengan aksi demonstrasi di berbagai kota besar di Indonesia. Ribuan orang turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasi mereka. Namun, di balik semangat tersebut, terdapat risiko kesehatan yang sering diabaikan, yaitu dehidrasi.

Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, Prof. Ari Fahrial Syam, menjelaskan bahwa dehidrasi bukanlah masalah sepele. Kondisi ini dapat memicu peningkatan emosi yang berujung pada ketegangan, bahkan kerusuhan. "Dehidrasi merupakan faktor penting yang bisa menyebabkan emosi seseorang menjadi tidak terkendali. Dalam situasi demonstrasi, ini bisa berisiko memperkeruh keadaan," ungkap Ari melalui pesan singkat.

Selama demonstrasi, para peserta biasanya melakukan aktivitas fisik yang intens, seperti berjalan jauh, berteriak, dan bernyanyi di bawah terik matahari. Aktivitas ini menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan melalui keringat. Jika tidak segera diganti, tubuh akan mengalami dehidrasi.

Kebutuhan cairan harian bagi orang dewasa berkisar antara delapan hingga sepuluh gelas atau sekitar dua liter per hari. Namun, dalam kondisi panas dan aktivitas berat seperti saat demonstrasi, kebutuhan cairan tersebut bisa meningkat secara signifikan. Minuman isotonik juga dianjurkan untuk membantu menggantikan elektrolit yang hilang.

Ari menambahkan bahwa dampak dehidrasi tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga mental. "Orang yang mengalami dehidrasi cenderung lebih sensitif, sulit berpikir jernih, dan mudah terpancing emosi. Ini yang perlu diwaspadai," jelasnya.

Gejala dehidrasi bisa dimulai dari rasa haus, mulut kering, hingga air liur yang lengket. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat berkembang menjadi pusing, sakit kepala, bahkan pingsan. Dalam kasus yang lebih parah, dehidrasi bisa berujung pada kondisi yang fatal.

Kasus demonstran yang pingsan saat aksi bukanlah hal baru, sering kali berkaitan dengan kelelahan dan kurangnya asupan cairan. Selain itu, aktivitas berteriak dalam waktu lama juga berisiko menyebabkan tenggorokan kering dan iritasi. Oleh karena itu, menjaga asupan cairan menjadi semakin penting untuk mencegah dehidrasi dan menjaga kondisi tubuh tetap prima.

"Kalau sudah mulai terasa haus atau mulut kering, jangan ditunda. Segera minum agar tidak semakin parah," saran Ari. Ia juga menyarankan untuk tidak mengonsumsi minuman yang terlalu dingin saat tubuh sedang panas dan aktif, karena dapat memicu iritasi tenggorokan.

Menariknya, upaya pencegahan dehidrasi tidak hanya berlaku bagi para demonstran, tetapi juga bagi petugas yang mengamankan jalannya aksi. Kedua pihak sama-sama terpapar risiko yang sama di lapangan. Dalam konteks ini, Ari menilai bahwa langkah sederhana seperti saling berbagi air minum dapat menjadi bentuk empati yang berdampak besar. Selain menjaga kesehatan, hal ini juga dapat membantu meredam ketegangan dan menciptakan suasana yang lebih kondusif.

// Artikel Terkait