Hari Trombosis Sedunia dirayakan setiap tanggal 13 Oktober, bertepatan dengan hari kelahiran dokter Rudolf Virchow. Kampanye tahun 2026 berfokus pada perubahan risiko bekuan darah yang dialami perempuan selama hidup mereka, termasuk saat hamil dan setelah melahirkan. Penting untuk mengenali tanda-tanda trombosis, seperti pembengkakan dan nyeri pada satu tungkai yang perlu diperiksakan; serta sesak napas atau nyeri dada mendadak yang memerlukan penanganan segera.
Satu tungkai yang mengalami pembengkakan, nyeri, atau terasa hangat dapat menjadi indikasi adanya bekuan darah di vena dalam. Terkadang, trombosis tidak menunjukkan gejala hingga bekuan berpindah ke paru-paru dan mengganggu aliran darah. Oleh karena itu, memahami risiko dan mengetahui kapan harus mencari bantuan medis menjadi pesan penting dari Hari Trombosis Sedunia, yang diperingati setiap 13 Oktober.
Sejarah dan Simbol Hari Trombosis Sedunia
Peringatan ini dimulai dari gerakan global pada tahun 2014. Tema untuk tahun 2026 menyoroti kesehatan perempuan, mengingat bekuan darah dapat terjadi baik di vena maupun arteri. Memahami tanda bahaya serta cara berpartisipasi dalam kampanye ini sangatlah penting.
Hari Trombosis Sedunia didirikan oleh International Society on Thrombosis and Haemostasis (ISTH), sebuah organisasi internasional yang berfokus pada trombosis dan gangguan pembekuan darah. Tanggal 13 Oktober dipilih karena merupakan hari lahir Rudolf Virchow, seorang dokter dan ilmuwan Jerman yang berkontribusi dalam pemahaman tentang trombosis. Pada peringatan pertamanya, lebih dari 175 organisasi berpartisipasi dalam kegiatan edukasi.
Simbol dari kampanye ini memiliki makna personal, karena dirancang oleh seorang pasien. Warna merah melambangkan arteri, biru mewakili vena, dan lingkaran putih menggambarkan bekuan darah. Tahun ini, kampanye mengusung pesan bahwa risiko bekuan darah dapat bervariasi sepanjang hidup perempuan: “Blood clot risk evolves across a woman’s lifespan. Discover the risks, recognize the signs and take action at every stage of life.” Fokus utama mencakup kesehatan reproduksi, penggunaan kontrasepsi, kehamilan, masa pascapersalinan, hingga menopause.
Pentingnya Kesadaran dan Tindakan Preventif
Trombosis dapat dialami oleh siapa saja, namun perubahan hormon dan beberapa fase kehidupan dapat memengaruhi risiko pada perempuan. Misalnya, kehamilan dapat meningkatkan risiko tromboemboli vena hingga lima kali lipat, dan risiko ini dapat berlanjut hingga tiga bulan setelah melahirkan. Penggunaan kontrasepsi yang mengandung estrogen dan terapi hormon tertentu juga dapat meningkatkan risiko. Mereka yang khawatir disarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan, terutama jika memiliki riwayat bekuan darah atau faktor risiko lainnya.
Trombosis adalah kondisi di mana bekuan darah terbentuk dan menghalangi aliran darah di pembuluh. Bekuan yang terjadi di vena dalam, biasanya di tungkai, dikenal sebagai deep vein thrombosis (DVT). Jika sebagian bekuan terlepas dan bergerak ke paru-paru, kondisi ini disebut emboli paru. Sementara itu, bekuan di arteri dapat menyebabkan serangan jantung atau stroke iskemik.
ISTH melaporkan bahwa kondisi terkait trombosis berkontribusi pada sekitar 1 dari 4 kematian di seluruh dunia, mencakup berbagai penyakit akibat sumbatan di pembuluh darah. Sebuah studi global yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Reviews Cardiology pada tahun 2026 memperkirakan sekitar 1,6 juta kasus emboli paru dan 2,5 juta kasus DVT terjadi di seluruh dunia pada tahun 2019. Namun, penulis mencatat bahwa data dari banyak negara masih terbatas, termasuk di kawasan Asia Selatan.
Di Indonesia, data mengenai kejadian trombosis juga masih kurang memadai. Dalam sebuah registri terhadap pasien rawat inap berisiko tinggi—yang berusia di atas 40 tahun, menderita penyakit akut, dan mengalami tirah baring lebih dari tiga hari—DVT terdeteksi pada 37,1 persen dari 334 pasien yang dianalisis. DVT dapat menyebabkan pembengkakan, nyeri tekan, rasa hangat, dan perubahan warna pada satu lengan atau tungkai. Beberapa orang mungkin tidak merasakan gejala sama sekali. Sesak napas mendadak, nyeri dada yang memburuk saat menarik napas, batuk berdarah, pusing, atau pingsan dapat menjadi tanda adanya emboli paru dan memerlukan penanganan segera.
Risiko bekuan darah dapat meningkat ketika seseorang tidak bergerak dalam waktu lama, menjalani operasi atau perawatan di rumah sakit, memiliki kanker, hamil, atau menggunakan obat tertentu. Setelah duduk dalam waktu yang lama, seperti saat melakukan perjalanan jauh, penting untuk bergerak secara berkala. Pasien yang dirawat atau baru menjalani operasi disarankan untuk bertanya kepada tim medis mengenai langkah-langkah pencegahan yang tepat. Penggunaan obat pengencer darah sebaiknya dilakukan atas arahan dokter.
Masyarakat dapat berperan dalam menyebarkan informasi yang akurat dengan menggunakan tagar #WTDay26, membagikan kisah penyintas, atau mengadakan diskusi edukasi. Pesan utama yang ingin disampaikan adalah bahwa bekuan darah dapat dialami oleh siapa saja, namun memahami risiko dan mengenali tanda-tanda sejak dini dapat membantu seseorang untuk mendapatkan pertolongan yang tepat waktu.