Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia ditutup melemah pada Rabu (9/9/2026) sore, dengan penurunan sebesar 8,24 poin atau 0,12 persen, mencapai level 6.678,20. Indeks LQ45 yang mencakup 45 saham unggulan juga mengalami penurunan, yakni 1,33 poin atau 0,20 persen, menjadi 664,25.
Pelemahan IHSG Dipicu Kenaikan Harga Minyak
Pelemahan bursa Asia terjadi seiring dengan kenaikan harga minyak mentah yang kembali meningkat di tengah ketegangan yang meningkat di Timur Tengah. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan inflasi dan memperkuat ekspektasi untuk kenaikan suku bunga. Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment di Pilarmas Investindo Sekuritas, menyatakan, "Bursa Asia didominasi pelemahan seiring harga minyak kembali naik di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, yang memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga."
Reaksi Pasar Terhadap Kebijakan Moneter dan Data Ekonomi
Di sisi lain, pelaku pasar bersiap untuk menghadapi keputusan kebijakan dari European Central Bank (ECB) yang dijadwalkan pada Kamis (10/9/2026), di mana diperkirakan suku bunga akan naik sebesar 25 basis poin. Dari dalam negeri, pelaku pasar tampak berhati-hati menjelang rilis data penjualan ritel untuk bulan Juli 2026, setelah data bulan Juni menunjukkan penurunan selama tiga bulan berturut-turut. Meskipun demikian, Nico menegaskan bahwa pelemahan IHSG terbatas setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap solid pada kuartal III dan IV, meskipun ada beberapa bencana alam baru-baru ini.
IHSG dibuka dengan penguatan namun kemudian bergerak ke zona negatif hingga penutupan sesi pertama perdagangan. Pada sesi kedua, IHSG tetap berada di zona merah hingga akhir perdagangan. Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, lima sektor mengalami penguatan, dengan sektor transportasi dan logistik memimpin kenaikan sebesar 2,19 persen, diikuti oleh sektor industri dan sektor barang baku yang masing-masing naik 0,89 persen dan 0,73 persen. Sebaliknya, enam sektor mengalami penurunan, di mana sektor kesehatan mencatatkan penurunan terdalam sebesar 1,47 persen, disusul oleh sektor barang konsumen nonprimer dan sektor teknologi yang masing-masing turun 1,18 persen dan 0,97 persen.
Dalam perdagangan saham, beberapa saham yang mengalami penguatan harga terbesar adalah DPUM, SPAX, ESTI, KOKA, dan MSJA. Di sisi lain, saham-saham yang mengalami penurunan harga terbesar termasuk MEDS, UDNG, LUCY, NATO, dan PPRI. Total frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.147.000 transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan mencapai 32,53 miliar lembar senilai Rp 16,13 triliun. Sebanyak 325 saham mengalami kenaikan, 337 saham mengalami penurunan, dan 301 saham tidak bergerak nilainya.
Di bursa saham regional Asia, indeks Nikkei melemah 0,19 persen ke level 65.146,00, indeks Shanghai menguat 0,28 persen ke 3.951,51, indeks Hang Seng melemah 0,17 persen ke 25.274,96, indeks Kospi menguat 1,40 persen ke 7.051,64, dan indeks Straits Times melemah 0,66 persen ke 5.729,63.