Gerakan Matahati, JEC, Lions Eye Bank Jakarta, dan Lions Club Indonesia menginisiasi program operasi katarak gratis bagi 101 pasien yang berlangsung dari Oktober hingga Desember 2026. Kuota ini akan tersebar di 16 unit JEC yang berada di Jabodetabek, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Sulawesi. Pasien yang terpilih akan menjalani skrining dan pemeriksaan, dengan operasi dilakukan berdasarkan indikasi medis serta pemantauan pascaoperasi.
Gejala seperti pandangan berkabut, warna yang tampak memudar, atau silau saat melihat cahaya sering kali dianggap sebagai hal biasa seiring bertambahnya usia. Namun, perubahan penglihatan tersebut juga bisa menjadi tanda awal katarak, yang merupakan kekeruhan pada lensa mata yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Pada hari Kamis, 8 Oktober 2026, Gerakan Matahati meluncurkan program operasi katarak ini bertepatan dengan peringatan World Sight Day 2026.
Detail Program Operasi Katarak
Program ini menargetkan 101 pasien hingga akhir Desember dan dibagi ke dalam 16 unit JEC. Rincian kuota pasien adalah sebagai berikut:
- Jabodetabek: 51 pasien (JEC @ Menteng 8, JEC @ Kedoya 8, JEC Primasana @ Tanjung Priok 5, JEC @ Cibubur 5, JEC @ Tambora 5, JEC @ Cinere 5, JEC @ Bekasi 5, JEC @ Tangerang 10)
- Jawa Tengah: 13 pasien (JEC CANDI @ Semarang 8, JEC ANWARI @ Purwokerto 5)
- Jawa Timur: 19 pasien (JEC JAVA @ Kediri 9, JEC JAVA @ Surabaya 5, JEC JAVA @ Pasuruan 5)
- Bali: 5 pasien (JEC BALI @ Denpasar 5)
- Sulawesi: 13 pasien (JEC ORBITA @ Makassar 8, JEC ORBITA @ Kendari 5)
Pentingnya Pemeriksaan Mata
Katarak terjadi ketika lensa mata yang seharusnya jernih menjadi keruh, dengan gejala yang meliputi pandangan buram, kesulitan melihat di malam hari, serta silau terhadap cahaya. Pada tahap awal, katarak mungkin tidak menimbulkan keluhan yang jelas. Dr. Sharita R. Siregar, SpM(K), kepala LEBJ dan dokter spesialis mata JEC, mengingatkan agar perubahan penglihatan tidak dianggap sepele. Pemeriksaan mata penting untuk mengetahui penyebab dan menentukan langkah penanganan yang tepat.
Secara global, WHO memperkirakan lebih dari 94 juta orang terpengaruh oleh katarak, dengan satu dari dua orang yang membutuhkan operasi belum mendapatkan akses. Diagnosis katarak tidak selalu berarti harus segera menjalani operasi; dokter akan mengevaluasi kondisi lensa, penglihatan, dan dampaknya terhadap aktivitas sehari-hari. Operasi biasanya dipertimbangkan ketika katarak mulai mengganggu aktivitas seperti membaca atau menonton.
Pada prosedur operasi katarak, lensa yang keruh akan diangkat dan diganti dengan lensa buatan yang dikenal sebagai lensa intraokular (IOL). Jenis lensa dan tindakan yang diambil akan disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Dr. dr. Setiyo Budi Riyanto, Sp.M(K), direktur RS Mata JEC @ Kedoya, menegaskan bahwa “standar klinis tidak dibedakan antara pasien reguler dan pasien yang mengikuti program bakti sosial.”
Setiap pasien akan menjalani pemeriksaan menyeluruh, dengan tindakan yang didasarkan pada indikasi medis, serta pemantauan setelah operasi. Pemantauan pascaoperasi sangat penting untuk menilai proses pemulihan dan memberikan tindak lanjut yang diperlukan. Program ini ditargetkan untuk menyelesaikan seluruh rangkaian pelayanan pada Desember 2026.